Mimpi dan Kerja Keras Carline Darjanto yang Terwujud

Mimpi dan Kerja Keras Carline Darjanto yang Terwujud

Produknya mulai dari dress, bawahan, atasan, outerwear, syal, hingga sepatu, tas dan berbagai aksesori penunjang penampilan. Wanita mana yang tak akan kepincut ketika singgah ke website Cotton Ink atau datang langsung ke store-nya di Kemang Jakarta Selatan.

Ilmu fesyen yang didapat Carline Darjanto dari Lassale College of Fashion, Jakarta, dia aplikasikan dengan tepat. Ditambah strategi bisnis yang di-’curi’-nya saat bekerja di perusahaan garmen, Cotton Ink melaju di industri fesyen.

Rahasianya, ujar Carline, selalu berinovasi. Salah satu momentum bersejarahnya adalah ketika mengeluarkan sebuah syal multigaya dengan bahan bernama tubular – bahan kaus berbentuk lingkaran tanpa jahitan. Model yang begini ketika itu belum banyak dipakai di Indonesia.

Baca juga: Heni Sri Sundani, Mantan TKW Pemberi Harapan

Target pasar terbesarnya adalah pelanggan yang cenderung menyukai busana simpel dengan detail pada kainnya.

Carline paham benar kekuatan media sosial. Karenanya ia manfaatkan secara maksimal untuk berpromosi. Meski produk fisiknya bisa didapatkan di sejumlah butik di berbagai daerah, hasil penjualan di website tetap yang terbesar.

Apalagi toko digital inilah yang bisa diakses pelanggan di berbagai negara tetangga. Sebutlah Singapura, Malaysia, Australia, hingga Eropa.

Pencapaian Demi Pencapaian

Dengan segala pencapaian itu Cotton Ink meraih beragam penghargaan. Brightspot Market misalnya, menganugerahi Most Favorite Brand, belum lagi penghargaan dari beberapa majalah fesyen.

Maka tak berlebihan rasanya jika Forbes kemudian menempatkan Carline di jajaran entrepreneur muda yang andal.

Pertama kali diberi kabar ini melalui email, Carline kaget. Selanjutnya kebahagiaan dan kebanggaannya membuncah ketika pada akhir Februari namanya benar-benar bertengger di daftar Forbes 30 Under 30 Asia.

”Buat saya ini seperti satu pencapaian, yang tentu saja datang dengan tanggung jawab. Bahwa saya harus bisa makin maju lagi setelah dimasukkan ke dalam list ini,” renungnya, tersenyum. ”Ini sekaligus membuktikan bahwa sebuah mimpi, dengan kerja keras, pasti bisa terwujud,” imbuh Carline, tegas.

Baca juga: Merrie Elizabeth: Karena Wanita Indonesia Ingin Cantik

Melihat kembali pencapaiannya, Carline jadi mengenang masa-masa awal perjuangannya bersama Ria. Hal tersulit, kata Carline, adalah menyatukan 2 visi dan 2 pemikiran. Tantangan lainnya, membuat peta dan strategi manajemen supaya Cotton Ink berjaya hingga masa-masa ke depan.

”Sebagai entrepreneur kita dituntut untuk membuat dan menjalankan plan tersebut. Dan tanggung jawab ada di tangan kita sendiri. Saya menghadapinya dengan bekerja sama dengan seluruh tim Cotton Ink, karena mereka yang membentuk Cotton Ink sampai saat ini,” ujarnya, bijak.

Seraya menjalankan itu semua, Carline terus menyemai mimpi baru. Yang terdekat, ia ingin membuka cabang baru di Jakarta.

”Untuk ke depannya kami ingin bisa merambah 1 Indonesia, Asia dan Australia, dan bisa menjadi produk Indonesia yang membanggakan,” pungkas wanita kelahiran 25 Mei 1987 ini. *

Artikel Terkait

Comments