Ketika Memutuskan Menikah Lagi: Anak Butuh Rasa Aman dan Nyaman

Ketika Memutuskan Menikah Lagi: Anak Butuh Rasa Aman dan Nyaman

Bagi para orang tua yang sudah berpisah dan memutuskan untuk menikah lagi, keberadaan anak dari pernikahan sebelumnya harus diperhatikan. Apalagi jika nantinya akan tinggal bersama dengan anak yang dibawa dari pasangan barunya.

 

Perpisahan orang tua tak jarang membuat hati anak terluka. Bagi orang tua yang memutuskan untuk kembali menikah, jika dari perpisahan orang tua membuat anak mengalami trauma perlu penyelesaian terlebih dahulu. Misalnya dengan membawa anak ke psikolog anak atau psikolog keluarga.

”Dasarnya adalah anak membutuhkan rasa aman dan nyaman. Bila anak mengalami trauma atau kecemasan, maka orang dewasa di sekitarnya harus dapat membangun rasa aman dan nyaman pada anak dan menghargai setiap perasaan anak,” jelas psikolog anak, Anita Chandra M.Psi.        

Menurut Anita, ketika orang tua yang berpisah memutuskan untuk menikah lagi, perkenalan menjadi tahap pertama yang harus dilakukan. ”Orang tua harus memperkenalkan calon pasangan baru sejak awal lalu harus membangun keakraban antara calon dengan anak. Misalnya dengan melakukan aktivitas bersama-sama,” jelas psikolog dari Klinik Anakku ini.

Begitupun dalam memberikan pengertian pada anak yang orang tuanya mengalami perpisahan. Baik yang salah satu orang tuanya meninggal maupun cerai hidup, menurut Anita secara umum hampir sama karena apa yang dirasa anak adalah masalah keterpisahan. Namun pada kasus cerai hidup, mungkin disertai dengan masalah keributan keluarga, di mana hal ini yang seringkali menimbulkan perasaan tidak nyaman dan aman pada anak. Sedangkan pada kasus karena orang tua meninggal mungkin anak akan merasa takut kehilangan jika kasus serupa terulang kembali.

”Untuk cerai hidup, anak perlu dijelaskan mengenai apa yang akan terjadi kemudian. Bahwa ia dapat tetap bertemu dengan ayah atau ibu kandungnya walau sudah ada ayah atau ibu baru nantinya. Mungkin perlu dijelaskan juga bahwa orang tua yang baru bukanlah untuk menggantikan orang tua kandung namun bersifat memperkaya,” tambah Anita.

Memberikan pemahaman pada anak, lanjut Anita, mengenai apa yang akan terjadi setelah menikah nanti memang menjadi hal penting. Oleh karena itu, dalam memberi pemahaman orang tua perlu menyesuaikan dengan usia perkembangan anak.

”Untuk anak yang usianya kurang dari 5 tahun, dalam memberi pemahaman bisa juga memanfaatkan cerita-cerita sosial atau buku cerita yang menggambarkan situasi yang sama,” kata Anita.

Misalnya mengatakan jika orang tua akan menikah lagi dengan menjelaskan mengenai konsep menikah yang bisa dimengerti anak dan mengenai apa yang akan terjadi kemudian setelah menikah. Jelaskan pada anak misalnya nanti setelah menikah akan tinggal bersama dengan keluarga baru dan bagaimana kaitannya dengan orang tua yang lain.

Jika masing-masing orang tua sudah memiliki anak, penting bagi orang tua untuk mengenalkan anak-anak mereka karena menggabungkan dua keluarga. Juga penting untuk memberi tahu anak mengenai apa yang akan terjadi kemudian setelah menikah.

Walaupun kedua orang tua sudah berpisah, orang tua tetap harus memberikan kasih sayang pada anak. Dalam hal ini orang tua harus membuat semacam perjanjian mengenai pengaturan atau jadwal untuk anak dengan ayah atau ibunya.

”Orang tua juga diharapkan dapat tetap melakukan kontak dengan anak misalnya melalui telepon. Jika memungkinkan informasikan ke anak bahwa anak dapat menghubungi ibu atau ayahnya kapan saja. Agar terjalin keakraban, orang tua diharapkan dapat memberikan aktivitas bersama antara anak dan orang tua baik kandung maupun tiri,” pesan Anita. *

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto:Arimbi Tyastuti, Pexels

Aktual, Menikah Lagi, Anita Chandra

Artikel Terkait

Comments