Nabilla Samhana Bawazier Pantang Menyerah dan Tidak Cengeng

Nabilla Samhana Bawazier Pantang Menyerah dan Tidak Cengeng

Sepatu buatan Nabilla Samhana Bawazier tak hanya bisa memperindah penampilan tapi bisa dinikmati mereka yang memiliki kekurangan pada kakinya. Namun tak mudah menjalankan bisnis sejak usia belia apalagi tanpa dasar pengetahuan yang cukup.

 

Sama seperti wanita lain, Nabilla Samhana Bawazier juga memiliki kesenangan dengan sepatu. Dari kesenangannya itu mengantarkan Abil, begitu sapaannya, menekuni bisnis sepatu. 

Ditemui di toko sepatunya di jalan Lodaya, Bogor, wanita berhijab ini memulai bisnisnya sejak kelas 2 SMA. Dulu dia kesulitan mencari sepatu karena memiliki sedikit kekurangan pada tumit kanannya. Karenanya, Abil harus memesan khusus sepatu untuknya.

”Dari situ terpikir kenapa nggak buat sendiri saja? Awalnya untuk konsumsi pribadi tapi setelah jadi, iseng pajang jadi display picture BBM, teman-teman pengin beli,” kenang wanita 21 tahun ini.

Kedua orang tuanya pun senang dengan ide putri cantik mereka untuk bisnis sepatu. Sang ayah yang pebisnis di bidang properti dan tergabung dalam asosiasi perajin di Bogor, turut bantu mencari perajin sepatu. Dia menyulap garasi rumahnya menjadi bengkel sepatu.

Namun, rencananya tak selalu mulus. Dia pernah ditipu perajin sepatu yang membawa kabur uangnya Rp 600 ribu untuk mengerjakan tiga pasang sepatu pesanannya. Bagi Abil uang tersebut sangat besar karena diambil dari tabungannya sendiri. Pengalaman pahit itu mengajarkannya lebih berhati-hati.

Selanjutnya, untuk modal awal sekitar Rp 30 juta, Abil dibantu kedua orang tuanya. Menjalankan usaha di usia belia membuatnya tidak terlalu berpikir panjang akan risiko yang mungkin di hadapi. Dia coba menjalani saja.

Daerah tempat tinggalnya di Ciomas, Bogor memang banyak perajin sepatu. Abil datang langsung mencari perajinyang bisa bekerja di rumahnya. Saat itu Abil belum memiliki pengetahuan dasar membuat sepatu.

Kegemarannya menggambar membantunya dalam mendesain sepatu. Ia mulai learning by doing dengan mencari tahu apa saja bahan dan peralatan yang dibutuhkan. Ia terjun langsung mencari bahannya dan banyak bertanya pada yang mereka yang sudah lebih dulu terjun di bisnis ini.

”Kendala awal dalam manajemen pegawai. Saat itu aku merasa masih kecil. Takut salah dalam menyampaikan pada perajin yang rata-rata usianya lebih tua dari orang tuaku,” kata putri pasangan Salim Bawazier dan Etty Purnamasari ini.

Pelajaran Penting

Dulu ia juga belum tahu jika dalam memberi nama brand harus yang gampang disebut. Abil pun melabeli sepatunya NSBWZ yang bisa diartiin namanya dan juga bisa berarti Nice Shoes Be Wonder Zhoes.

Sepatu yang sudah jadi, dia tawarkan di media sosial miliknya dan mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Ia pun teringat kala pergi sekolah sambil membawa pesanan sepatu pelanggannya yang ia titipkan di kantin.

”Pulang sekolah aku muter-muter antar barang pakai ojek. Saat itu belum kenal paket pengiriman barang,” tutur mahasiswi Universitas Pakuan Bogor ini.

Di tahun kedua, penjualannya semakin meningkat dengan membuka toko dan sistem reseller. Abil yang awalnya menerima sepatu berdasarkan pesanan, mulai membuat sepatu siap pakai dengan berbagai model yang dijual mulai dari Rp 180-350 ribu.

”Kalau customize harganya tergantung tingkat kesulitan. Ada yang pesan karena ukuran kaki kanan kirinya beda. Ada juga yang menggunakan kaki palsu. Aku mau bantu orang-orang yang kakinya mengalami kekuarangan tapi tetap bisa pakai sepatu yang sedang tren,” jelasnya.

Abil juga meluaskan pemasaran dengan mengikuti bazar. Dia pertama kali ikut bazar salah satu mal di Jakarta dengan harga sewa Rp 4 juta untuk tiga hari. Abil berbagi tempat dengan seorang pemilik clothing line di Bogor. Walaupun terbilang mahal tapi ia coba.

Pengalaman pertamanya terjun langsung, bertemu pembeli dan berinteraksi membuatnya ketagihan. Ia tak mengira dalam tiga hari sepatunya laris dan mendapat omzet Rp 12 juta. Jiwa bisnisnya langsung menggebu-gebu, ia putuskan mengikuti bazar lain tanpa pikir panjang risikonya.

Kali kedua Abil mengikuti bazar selama tujuh hari di sebuah gedung di Jakarta. Tapi dua hari pertama tak ada satu pun pembeli. Hari ketiga hanya ada satu pembeli. Dia kebingungan dan menjadi momen berat yang harus dilewatinya.

Dia terpikir harus membayar gaji dan THR pegawainya karena menjelang Idul Fitri. Abil yang saat itu mengajukan pinjaman modal pada bank dengan menggunakan nama kedua orang tuanya juga harus mencicil kewajibannya itu.

”Aku sampai nggak bisa makan karena pusing memikirkan belum laku-laku. Sempat terpikir, tahu gitu aku kuliah saja, kehidupanku normal-normal saja seperti teman-temanku dan tidak mengambil keputusan untuk berbisnis,” renungnya.

Setelah ditelusuri ternyata saat itu juga ada bazar di sebuah mal yang membuat semua pembeli lebih tertarik ke sana. Sebenarnya Abil juga ingin mengikuti bazar itu, namun sulit bagi brand baru sepertinya. 

”Hari keempat aku ke mal itu. Ternyata masih ada satu booth kosong untuk dua hari terakhir. Tanpa pikir panjang aku langsung ambil dan pindah ke situ. Aku berharap sepatuku laku di sana. Ternyata alhamdulillah dapat lebih dari yang diharapkan,” tutur Abil, lega.

Abil yang sempat terpikir menyudahi bisnisnya mendapat pelajaran baru lagi. ”Ayah bilang kalau jadi pengusaha itu nggak boleh cengeng, jadi ya, selamat datang. Dunia bisnis ya seperti ini,” sambungnya.

Peralihan dari tahun 2015 ke 2016 Abil kembali melewati masa-masa berat. Dia terpaksa merumahkan beberapa pegawainya karena penjualan sepatunya mengalami penurunan. Saat itu harga bahan baku juga naik karena perekonomian dunia sedang lemah.

Lika-liku yang dialami membuatnya lebih kuat dan mengerti dengan dunia bisnis. Banyak model sepatu yang bisa saja ditiru membuat Abil lebih menonjolkan dari segi pelayanan dan kualitas.

”Aku punya bengkel sepatu sendiri yang sangat terkontrol. Mau perbaikan sepatu bisa, mau buat brand sendiri juga bisa karena aku punya perajin sendiri,” kata wanita keturunan Arab ini.

Di tahun keempat berbisnis Abil memiliki 14 pegawai dengan omzet mencapai Rp 60 juta perbulan. Pengalaman yang dilewatinya membuatnya menjadi lebih kuat dan terbiasa. Meski begitu Abil masih belum merasa berhasil.

”Keberhasilan itu relatif. Tiap tahun ada ada titik keberhasilan yang aku capai. Tapi setelah itu ada lagi, ada lagi. Menurutku, pengalaman yang kita kerjakan sendiri adalah guru paling baik dan membuatku bisa seperti ini,” jelasnya. 

Abil pun berharap bisa terus memajukan perajin sepatu di Ciomas dan perindustrian sepatu lokal dilirik hingga mancanegara. Ia bermimpi NSBWZ bisa masuk ke dalam wisata edukasi Bogor dan membuat wisatawan bisa belajar membuat sepatu di workshop-nya.

Lidah Mau bicara, Lutut Mau Berjalan

Jika ada pepatah yang berbunyi pengalaman adalah guru yang berharga, Abil pun merasa demikian. Mentalnya ditempa dengan berbagai pengalaman yang membuatnya bisa seperti sekarang.

Selama berbisnis sepatu, manis pahitnya pengalaman pernah dialaminya. Abil mengambil hikmah dari berbagai pengalaman yang ia dapat. Menurutnya dalam menjalani bisnis tidak boleh cengeng. Kendala atau hambatan yang dihadapi membuatnya harus tetap tegar dan pantang menyerah menghadapi itu semua.

Abil juga meyakini dalam berbisnis harus sesuai dengan passion. Follow your passion. Jika melakukan sesuatu sesuai passion, kita tidak akan merasa dirugikan atau terbebani,” kata Abil.

Banyak orang yang ingin membuka usaha terkendala modal. Dari pengalamannya, untuk modal usaha bisa dari mana saja. Ia sendiri bermodalkan ‘lid dan lut’.

”Modal usaha ’lid dan lut’. Lidah mau bicara, lutut mau berjalan. Kita bisa bicara dan meyakinkan orang, itu bisa menjadi modal awal kita. Jangan hanya diam atau mengumpulkan ide-ide saja. Ide tanpa gerak tidak akan pernah jalan,” pungkasnya.*

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Zulham, Istimewa

Profil, Wanita Hebat, Wanita Indonesia, Wanita Inspiratif, Hijaber, Nabilla Samhana Bawazier

Artikel Terkait

Comments