Psikolog Poppy Amalya: Mungkin Ada Komunikasi yang Terlepas

Psikolog Poppy Amalya: Mungkin Ada Komunikasi yang Terlepas

Masa remaja adalah saat dimana seseorang mencari jati diri dan berusaha menunjukkan eksistensinya.

 

Menurut Psikolog Poppy Amalya, dalam masa itu remaja memang kerap melakukan berbagai hal, entah positif atau negatif. Tujuannya untuk mencari perhatian lingkungan di sekitar mereka.

”Apa yang dilakukan remaja biasanya dipengaruhi oleh emosi. Padahal emosi mereka masih bersifat fluktuatif, naik turun. Hal itu dipengaruhi oleh tubuhnya yang sedang berkembang. Mereka sudah mulai membandingkan aturan yang satu dengan yang lain. Misal dirumahnya terlalu ketat, dia akan protes karena di lingkungan lain tidak. Mulai timbul pertanyaan; kok saya diatur-atur banget sih,” ungkap Poppy.

Tentang kehidupan Awkarin, Poppy tak mau berandai-andai. Yang pasti kata dia, segala hal yang ditampilkan seseorang, sedikit banyak dipengaruhi pola asuh yang diterimanya.

”Kalau diajarkan konsep diri yang baik sehingga dia masih bisa menjaga norma-normanya. Karena lingkungan sekolahnya saat SMP bagus kan ya. Anak ini sebenarnya anak diatas rata-rata. Selalu berpikir kreatif, dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Tapi bagaimana dengan ke eksternalnya?” tanya Poppy.

Remaja Kekinian

Dari yang ditampilkan Awkarin selama ini, menurut Poppy menjadi gambaran psiko dinamika yang bersangkutan. Ia menampilkan kekiniannya sebagai remaja yang tidak bisa terlepas dari gadget dan media sosial. Kesemua itu mempengaruhi proses pola berpikirnya.

Output-nya, Awkarin menjadi gadis yang free. Dia ingin bebas dalam berpikir. Poppy memberi contoh, saat Awkarin diinterview sebuah stasiun radio, dia mengaku tipe orang yang blak-blakan tapi juga ingin diperhatikan lebih. Dia enjoy dengan kondisi orang yang selalu memperhatikan gerak-geriknya setiap detik,” ungkapnya menganalisa.

”Kalau waktu SMP dia mencari perhatian dengan berprestasi di sekolah. Nomor 2 terbaik untuk pelajaran matematika. Begitu masuk SMA Awkarin  membuat perhatian dengan membuat vlog di youtube dll,” lanjut Poppy.

Awkarin juga pandai melihat peluang bisnis dari jutaan follower media sosialnya. Dia sukses menjadi seorang endorser dengan penghasilan mencapai puluhan juta setiap dua hari.

Yang menjadi tidak baik, ia kerap mengumbar kata-kata kasar dan video pacaran vulgar.

”Dampaknya tentunya nggak baik. Karena yang dilihat adalah video, maka gambaran itu akan masuk di alam bawah sadar mereka. Nanti anak-anak di bawah umur yang mengikuti gaya Awkarin akan berontak. Membandingkan dirinya dengan orang lain yang bisa hidup bebas. Mereka menjalankan norma-norma yang kurang tepat dilakukan di Indonesia,” urai Poppy yang juga berprofesi sebagai motivator, ini.

Siapa yang bertanggung jawab dalam hal ini? ”Tentu saja orang tua, pemuka agama dan lingkungan di sekitarnya,” jawab Poppy.

Semua harus merangkul kembali anak-anak ini. Setelah itu lakukan pendekatan secara psikologis sekaligus diberikan treatmen khusus. Seraya disampaikan pada mereka, apa yang telah dilakukan itu tidak boleh terjadi lagi.

Poin lain yang diingatkan Poppy, seorang anak sangat membutuhkan cinta ibu dan ayah. Jika ini tidak terpenuhi, mereka bisa mencari di tempat lain. Selanjutnya, pasangan orang tua harusnya dapat menjalin komunikasi yang baik dan menjadi sahabat anak. Sehingga mereka dapat terbuka. *

Teks: Dewi Muchtar   I   Foto: Istimewa, Pixabay

Aktual, Awkarin, KPAI, Kemenkoinfo, Youtube, Wanita, Anya Geraldine, Poppy Amalya

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments