Derita Penyandang Sleeping Beauty: Saat Bangun Perilaku Seperti Kanak-kanak

Derita Penyandang Sleeping Beauty: Saat Bangun Perilaku Seperti Kanak-kanak

Rasa aneh yang dirasakan di bagian kepala menjadi awal sindrom Sleeping Beauty ini menyerang Lily. Karena sindrom tersebut ia pernah tiga bulan tertidur.

           

Walaupun sudah lewat setahun episode yang terakhir dirasakannya, tapi Lily, 26 tahun, masih merasa takut sewaktu-waktu akan kembali terserang. Ia merasa sangat trauma dengan apa yang terjadi padanya, tidak ingin membicarakan kondisinya dan pilih melanjutkan hidupnya saja.

Adele, ibunda Lily bercerita, saat sang anak mengeluh rasa  aneh di kepala, ia menganggap Lily terkena demam biasa. Kala itu usianya masih 17 tahun dan mereka sedang liburan bersama keluarga di London. Tapi, saat makan malam, Lily justru tertidur.

Di akhir tahun pertamanya terserang sindrom ini, Lily sudah tiga kali tertidur. Episode terlamanya ia pernah tertidur tiga bulan. Saat Lily mengalami episodenya, dia akan bertingkah laku seperti anak tiga tahun, memeluk boneka Teddy Bear-nya, mengisap ibu jarinya dan menangis dengan suara anak-anak. Ia juga mengatakan seolah kepalanya meledak.

”Ini mungkin yang dikenal Sindrom Sleeping Beauty, tapi tidak hal yang romantis seperti nama sindromnya. Ketika bangun, dia harus berdamai dengan apa yang telah dilewatinya, kemudian mulai depresi,” jelas Adele.

Meskipun kehilangan banyak waktu di masa-masa kuliah tapi Lily berhasil meraih gelar dan bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan kosmetik. Impiannya menjadi makeup artist spesial efek di produksi film pun pudar karena khawatir sindrom ini kambuh. Ia hanya bisa bekerja di jam-jam reguler karena harus mendapat banyak waktu untuk tidur.

Antara Mimpi dan Kenyataan

Selama tertidur, penderita sindrom ini biasanya merasa seperti di dunia mimpi. Mereka juga bisa bersikap seperti anak kecil dan seperti kehilangan banyak energi.

Dr. Guy Leschziner, seorang konsultan ahli saraf di Guy’s and St. Thomas menjadi salah satu ahli terkemuka di kondisi ini mengatakan, jumlah kasus KLS meningkat dengan terdiagnosanya anak-anak muda. ”Di masa lalu, kasus ini dianggap ringan dengan remaja yang malas atau dipandang sebagai kasus kejiwaan yang memiliki gejala gangguan bipolar,” katanya.

Selain bisa tidur sampai 22 jam sehari, perbedaan dengan gangguan tidur lainnya, anak-anak muda ini juga menunjukkan perubahan kepribadian. Mereka bisa merasa seolah mereka ada di dunia mimpi dan sangat terpisah dengan dunia sekitarnya.

”Ini menimbulkan dampak besar dalam hidup mereka. Ketika mereka terbangun dan menyadari apa yang mereka lewati bisa membuat mereka depresi dan cemas. Orang-orang muda dengan KLS juga dapat melihat kehidupan mereka menjauh dalam tahun yang paling formatif dan penting untuk mereka,” urai Dr. Leschziner.

Ditambahkan hellosehat.com, sindrom ini biasanya 70% diidap pria dewasa. Penyakit langka ini menurut data hanya dialami 1000 orang di seluruh dunia. Penyebabnya sendiri belum ditemukan hingga kini. Dari gejala yang muncul, ada indikasi malfungsi kerja bagian hipotalmus dan thalamus pada otak yang berperan mengatur nafsu makan dan tidur.

Menurut sejarah, Brierre de Boismont adalah yang pertama melaporkan kasus ini di tahun 1862. Tahun 1925 kasus ini dilaporkan berulang lalu dikumpulkan dan dilaporkan Willi Kleine di Frankfurt, Jerman. Selanjutnya, Max Levin meneliti sindrom ini hingga akhirnya dinamai Kleine-Levin Syndrome oleh Critchley di tahun 1962. Critchley sebelumnya juga sudah mengikuti 15 kasus dengan gejala-gejala terkait yang muncul pada para prajurit Inggris yang bertugas di Perang Dunia II.

Episode menjadi ciri utama sindrom ini yang berarti waktu tidur yang berlebihan ketika sindrom ini menyerang. Saat terjadi episode, muncul beberapa cirinya seperti penderita tidak bisa membedakan kenyataan dan mimpi. Di tengah terjadinya eposide bisa saja penderita melamun terlihat seolah tidak sadar dengan sekitarnya.

Prosesnya 8-12 Tahun

Ciri lainnya, saat terbangun di tengah tidur panjangnya, penderita bisa bertingkah laku seperti anak kecil, kebingungan, kehilangan energi dan merasa sangat lemas sampai tidak menunjukkan emosi dengan yang terjadi di sekelilingnya.

Sindrom ini merupakan sebuah siklus, di mana tiap episode bisa terjadi beberapa hari, minggu bahkan beberapa bulan. Saat terjadi episode, penderita tidak bisa melakukan kegiatan yang biasa dilakukannya seperti orang pada umumnya. 

Pendampingan dan penangan di rumah saat episode sindrom ini muncul menjadi pengobatan yang lebih ditekankan karena penderita membutuhkan bantuan orang lain untuk mengurus dirinya. Beberapa jenis obat yang dikonsumsi lebih untuk mengurangi gejala-gejalanya, misalnya untuk mengatasi rasa kantuk berlebih.

Penderita biasanya juga tidak akan mengingat apa yang dialaminya setelah satu episode berakhir. Episode-episode sindrom ini biasanya lama-lama akan berkurang durasi dan intensitasnya. Prosesnya sendiri dapat terjadi selama 8 sampai 12 tahun.*

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Istimewa

Kisah, Sleeping Beauty, Kleine-Levine Syndrome, Wanita

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments