Harus Memfilter dan Lebih Hati-hati

Harus Memfilter dan Lebih Hati-hati

Mudah termakan berita yang belum jelas kebenarannya membuat Friska kadang ikut membagikan kembali berita tersebut ke teman-teman dekatnya. Namun kesadarannya muncul dan membuat dia lebih hati-hati.

 

Beberapa waktu lalu Friska, 26 tahun, ini mendapat berita yang disebar melalui WhatsApp tentang adanya isu serbuan 10 juta tenaga kerja asal Tiongkok ke Indonesia. Berita itu juga disertai gambar para pekerja yang baru tiba di Bandara Soekarno Hatta.

Tak ayal berita ini membuatnya cemas, ditambah dengan narasi berita yang membuatnya takut jika apa yang disampaikan berita tersebut benar. Segera saja ia membagikan lagi berita tersebut ke grup teman-teman dekatnya. Setelah dibahas beberapa media, barulah Presiden Joko Widodo memberikan keterangan jika isu tersebut tidak benar. 

”Menurutku saat itu bukan hoax karena ada fotonya jadi ini informasi yang perlu disebarkan lagi tujuannya biar teman-teman dekatku tahu juga,” jelasnya.

Friska mengakui, dirinya mudah termakan berita-berita yang isinya mengkhawatirkan karena takut jika apa yang diberitakan benar adanya. Ia belum tahu bagaimana membedakan apakah berita itu benar adanya. Ia juga baru tahu jika terbukti turut meyebarkan berita palsu bisa dijerat UU ITE.

”Sekarang jadi lebih hati-hati kalau dapat berita yang isinya mencemaskan, harus cari tahu dulu dari sumber-sumber terpercaya,” kata Friska.

Tak Mau Ikut-ikutan

Sementara itu, Indari Mastuti dari komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis memberi aturan tegas kepada anggotanya. Dia sama sekali tidak memperbolehkan adanya hoax dalam bentuk apapun di facebook maupun Whatsapp.

“Mau lagi ramai-ramainya aksi 212 atau apapun, saya merasa bahwa tidak perlu nge-share deh. Karena fokus kita menulis dan bisnis,” tegas Indari.

Maka dari itu, Indari tak segan untuk menegur secara keras mereka yang membagikan sesuatu yang diperkirakan tidak benar. “Kalau ditanya ini dapat dari mana infonya? Dia bilang dari tetangga, kami nggak boleh, dan pasti bakal diserang oleh anggota yang lain. Apapun bentuknya,” taandasnya.

Sebagai pencegahan, Indari memberlakukan kontrol terhadap materi yang akan diunggah. “Di facebook diberlakukan approval. Mungkin ada sampai ribuan yang ingin menyebarkan hoax ke kita, tapi tidak kita approve sama sekali. Kami memang sangat ketat masalah berita. Kami tetap menjaga visi dan misi komunitas,” terangnya.

Dengan strategi seperti itu, komunitas Ibu-ibu Doyan Menulis terbebas dari penyebaran informai hoax. “Makanya bisa dibilang mau lagi ramai tentang apapun, komunitas kami anteng saja, tidak mau ikut-ikutan ngomongin, termasuk saya pastinya,” aku Indari.

“Jadi saya sendiri di status saya tidak pernah ngomongin hal-hal yang happening. Saya lebih banyak bercerita tentang pengalaman saya dan anggota, atau ada informasi tentang sesuatu,” tutup wanita berjilbab ini. *

Teks: Arimbi Tyastuti, Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: share4, Dok.Pri

Aktual, Darurat Hoax, Media Sosial, Medsos, Sosmed, Indari Mastuti, Ibu-ibu Doyan Nulis, UU ITE

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments