Ketakutan Prisia Nasution

Ketakutan Prisia Nasution

Berakting di depan kamera yang tayang layar lebar ataupun kaca adalah hal biasa bagi Prisia. Ternyata itu tidak berlaku ketika ia harus membacakan puisi bertema politik di panggung teater dengan tatapan ratusan mata. 

 

Cahaya lampu menyorot sebuah kursi dan meja berwarna putih di atas panggung dengan dua botol air minum. Seorang wanita mengenakan gaun merah masuk dari sisi panggung dan duduk di sana. Ia membacakan puisi teatrikal berjudul Kamar 608 Hotel M yang diambil dari antologi buku puisi Manusia Istana karya Radhar Panca Dahana.       

Dialah Prisia Nasution, aktris yang aktingnya di film Sang Penari diganjar Piala Citra Festival Film Indonesia 2011. Ia satu dari beberapa aktris yang tampil di Taman Ismail Marzuki akhir pekan lalu.

Tidak jauh beda dengan aktingnya di berbagai judul sinema, penampilannya di panggung tak kalah memukaunya. Siapa sangka, Prisia harus berjuang ekstra dibanding biasanya.

”Beda banget ya antara di televisi atau film dengan panggung teater. Memang dari dulu penasaran dengan seni panggung tapi belum ada kesempatan. Kalaupun ada, pasti maju mundur karena rasanya pasti beda banget,” ungkap wanita yang akrab disapa Pia ini sembari mengembangkan senyumnya.

 

Saling Dukung

Istri Iedil Akbar ini membandingkan, saat berakting di layar lebar dia memiliki persiapan panjang. Ada pula action to cut. Begitu film tayang di bioskop, penonton akan menonton dan setelah itu selesai begitu saja.

Tapi, tidak demikian yang dia rasakan ketika berada di atas panggung. Ada pengalaman baru yang tak di dapatnya saat berakting di depan kamera.

”Kalau di panggung ’kamera’-nya banyak, yakni mata penonton. Jadi mengatasi ketakutan di panggung rasanya beda banget,” sambung wanita 32 tahun ini.

Yang jelas, ia tak punya kesempatan untuk mengulang ketika terjadi kesalahan. ”Jadi kalau di tengah-tengah keserimpet, ya sudah harus maju terus. Kalau di film kan prosesnya panjang, terbantu action dan cut yang dikombinasikan editor menjadi karkater utuh,” urai pemeran Butet Manurung di film Sokola Rimba ini.

Namun Pia bersyukur banyak teman yang lebih berpengalaman membantunya. Sebutlah Olivia Zalianty yang juga merangkap sebagai produser, Marcella Zalianty, Cornelia Agatha, Maudy Koenaedi dan Dinda Kanya Dewi yang juga melakoni peran serupa.

”Alhamdulillah terbantu karena ini kan kerja kolektif jadi saling bantu dan dukung,” kata Pia yang juga membawakan puisi berjudul Air Mata Umara 1.

Puisi-puisi yang dibawakan Pia dan teman-temannya berlatar politik. Sebagian di antaranya terasa pas menggambarkan situasi negara saat ini.

Pia yang tidak terlalu memahami dunia politik merasa perlu berusaha ekstra keras untuk menghayati. Apalagi, dibanding teman-temannya yang lain, ia baru bergabung dengan pementasan ini dua minggu menjelang hari H.

”Dari dulu nggak terlalu paham politik, jadi ini agak dipaksa harus mengerti politik, bernegara, apalagi aku dulu kalau dengar kata puisi berpikirnya, ’Wah, apa nih puisi’. Nah yang ini puisi digabung politik,” ungkap pemilik nama lengkap Prisia Wulandari Nasution ini.

Namun rupanya setelah memahami dengan seksama, Pia mendapati banyak makna yang terkandung di dalam puisi yang dibacanya. ”Jadi tidak terlalu memikirkan politiknya karena ada beberapa yang bisa ditarik untuk diri sendiri,” jelas Pia.

Walau mengandung unsur politik dan mengkritisi situasi yang terjadi saat ini, Pia tidak takut. Lebih dari sekadar mengkritisi, ada hal hal lain yang ditakutkannya.

”Aku lebih takut kalau tiba-tiba di panggung tidak hapal. Kalau untuk menyuarakan selama itu benar kenapa harus takut? lagipula aku hanya media dari beberapa orang yang ingin menyuarakan. Aktor kan fungsinya itu, badan dan suara dipinjam sebagai media untuk menyampaikan. Jadi lebih takut kalau media ini tidak berhasil menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan,” tutur Pia.

 

Mendalami Makna

Menerjemahkan puisi ke panggung menjadi tantangan tersendiri bagi Pia. Ia pun sempat kesulitan ketika di awal membaca puisi-puisi tersebut.

Agar lebih mengerti maksud puisi yang akan dibacanya, Pia secara langsung meminta bantuan Radhar Panca Dahana, penulis antologi puisi Manusia Istana. ”Jadi minta diartikan perkata sama Mas Radhar, saya ditanya menurut saya artinya apa, jadi samakan pemikiran baru sampaikan,” jelas pemeran Leia dalam film Rectoverso ini.

Jika saat menghapal naskah film atau sinetron Pia bisa sedikit berimprovisasi, tidak demikian halnya saat di panggung teater. ”Di sini ada penulisnya, nggak boleh salah bahkan perkata. Jadi harus ekstra menghapal. Yang jadi masalah, kalau sudah hapal asal mengalir itu aja nggak ada penjiwaan salah juga,” tuturnya.

Untuk urusan menghapal, Pia yakin setiap aktor memiliki cara yang berbeda. Ia biasanya untuk menghapal dengan berjalan sambil bicara sendiri atau saat duduk dan sambil berpikir.

”Utamanya sebelum menghapal biasanya saya cari tahu dulu maknanya apa, kalau sudah dimengerti jadi lebih mudah untuk dihapal,” ujar wanita yang hobi panjat tebing ini.*

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Muchammad Nur Ridho

Seleb Indonesia, Inspiratif, Karier, Wanita, Wanita Indonesia, Teater, Puisi

Artikel Terkait

Comments