Marina: Ternyata Bukan Cuma Saya yang Nekat

Marina: Ternyata Bukan Cuma Saya yang Nekat

Mimpi berkeliling dunia mulai singgah di benak Marina sejak dia senang menonton film. Saat itu umurnya masih 8 tahun. Tak hanya berkeliling dunia, dia melakukannya sendirian!

 

Marina menjuluki diri seorang movie freaks. Di saat teman-temannya gemar main boneka, dia justru keranjingan mengoleksi laserdisc dan VCD. Sebab saat itu masih jamannya LD dan VCD.

”Nah banyak film yang membuat saya ingin melihat sendiri setting film tersebut. Kebanyakan sih di Eropa, seperti Eiffel Tower dan Colloseum,” cerita Marina mengenang.

Marina makin penasaran karena orangtuanya seolah paranoid melakukan perjalanan jauh. Dia tak pernah diajak keluar negeri sama sekali. ”Liburannya selalu ke Pangandaran dan Ciater, itu melulu! Hahaha,” lanjutnya tergelak.

Namun mimpi itu terus diredam hingga Marina lolos tahap kehidupan sewajar orang pada umumnya, yaitu sekolah, kuliah dan bekerja. Hingga suatu hari dia membaca postingan Nona Ransel, Anida Dyah.

Marina pun memulai petualangan seorang diri pertamanya ke Karimun Jawa. Kali itu, dia masih menggunakan jasa backpacking tour. Meski begitu, ibundanya masih sangat khawatir, sampai-sampai menelpon pimpinan tur yang diikutinya.

Selanjutnya, Marina mencoba destinasi luar negeri. Dimulai dari Singapura, Malaysia, hingga ke perbatasan Thailand.

”Awalnya ya culture shock, tapi kok asyik banget menjelajah tempat baru dan belajar budaya asing yang belum pernah dikenal. Setelah melihat betapa mudahnya traveling backpacker-an disana, jadinya pengin kesana lagi sendirian. Lalu saya pun memutuskan mencoba kehidupan nomaden di Bali selama setahun. Setelah merasa bisa survive sendiri dan banyak berinteraksi dengan orang asing, akhirnya saya pun siap memulai perjalanan keliling Asia Tenggara sendirian!” ungkap Marina seru.

Banyak cerita konyol yang dirasa Marina seru dan menyenangkan. Mulai dari nyasar, ketakutan di hostel yang menyeramkan, hingga ketemu banyak teman baru di komunitas Couchsurfing.

Marina memang anggota aktif komunitas yang saling memberikan tumpangan pada para pelancong ini. Awalnya dia hanya menjadi couchsurfer (tamu yang menumpang) dan rajin berkumpul di acara Meetup Weekly. Namun ketika kuliah di Inggris, dia mulai membuka diri menjadi tuan rumah.

”Serunya menjadi couchsurfer adalah bisa belajar banyak tradisi keluarga yang berbeda di setiap negara. Senang banget bisa dianggap menjadi salah satu bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Apalagi host lokal pasti lebih paham tentang kebudayaan mereka dan selalu bisa menjawab rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan saya. Membuka mata banget!” ujar Marina girang.

Menjadi tuan rumah tak kalah serunya. Apalagi ketika dirinya tersandra sebuah aktivitas yang tak dapat ditinggal-tinggal. Pepatah mengatakan, jika kamu tidak dapat berkeliling dunia, maka bawalah dunia ke hadapanmu.

Asyik Banget!

Traveling bagi Marina sebuah kesempatan belajar tentang kehidupan. Karenanya mengulik sejarah dan tradisi setiap tempat yang dia kunjungi adalah ritual wajib. Nyasar dan berkeliling kota tanpa arah menjadi bagian perjalanan yang selalu dirindukannya.

”Karena dengan nyasar saya kerap menemukan tempat yang tak terduga indahnya. Asyik banget! Buat saya, setiap tempat itu mempunyai cerita tersendiri. Ini yang membuat saya selalu ketagihan mengeksplor tempat baru,” curhat wanita yang berprofesi sebagai motion graphic designer ini.

Beruntung, branding agency tempat kerja Marina memberinya kebebasan berkarya dari jauh. Meski begitu, bukannya dia tak pernah punya kekhawatiran terkait uang. Karena itu, seperti kebanyakan pekerja lain, dia sempat galau saat hendak memutuskan mengundurkan diri dan sepenuhnya menjadi pekerja lepas.

Seiring waktu Marina mulai santai. Kalau tabungan sudah kosong, segera dia mencari kerja di negara yang sedang ditempatinya. Di Luang Prabang misalnya, karena kesulitan menemukan jaringan internet dia memutuskan bekerja sebagai pelayan selama beberapa minggu. Prinsipnya, segala masalah tak usah dibuat ribet. Semua pasti ada solusinya!

Hasilnya, Marina kini memiliki beberapa klien tetap yang dulunya tak sengaja dia bantu membuat suatu desain. Dia juga mendapat uang dari apa yang dibaginya di blog pribadinya, Jejakmarina.com.

”Kalau blog saya, awalnya dibuat hanya untuk menyimpan memori selama perjalanan. Tetapi setelah mendapat banyak sorotan dan ada beberapa website yang mengulas cerita saya, akhirnya saya mencoba mendalami bisnis blog lebih serius. Pendapatannya sih nggak besar, affiliate marketing, content writer dan ads itu untung-untungan. Tetapi saya lebih menghargai kesempatan untuk mencoba pengalaman-pengalaman yang ditawarkan,” kata Marina.

Salah satu contohnya Bali Sharks, sebuah tempat perlindungan ikan hiu yang sudah hampir punah di Bali. ”Pernah mengontak saya untuk me-review tempatnya di blog saya dengan memberikan tur gratis. Setelah ke sana, saya malah kagum berat dan ingin membantu mereka,” lanjutnya antusias.

Proyek Superwomen

Selalu melakukan hal baru, begitulah salah satu moto hidup Marina. Kali ini dia sedang mencoba menemukan wanita lain yang menjalani kehidupan serupa dengannya.

Marina menamai proyeknya The Superwomen. Isinya review wanita-wanita Indonesia yang juga suka berpetualang sendirian. Marina berharap proyek ini dapat menginspirasi wanita Indonesia lain untuk mencoba solo traveling dan merasakan apa yang dia dan para Superwomen lain rasakan.

”Senang banget berkenalan dengan wanita-wanita pemberani ini. Ternyata bukan cuma saya yang nekat,” ujar Marina terkekeh.

Banyak cerita seru, bukan berarti Marina tak pernah merasakan pengalaman buruk. Yang paling sering adalah tertipu di tempat-tempat tur lokal dan transportasi umum yang memasang harga tinggi karena melihatnya sebagai turis. Itu membuat dia lebih waspada.

Strateginya, kalau memang merasa tidak nyaman dengan sesuatu Marina akan langsung menolaknya. Selebihnya dia mengandalkan logika dalam beberapa hal yang memang bisa dicegah.

Di luar itu Marina bersyukur mendapat banyak pengalaman berharga dari setiap perjalanannya. Menikmati keindahan alam Laos yang kecantiknya tak kalah dengan Eropa misalnya, mengingatkan Marina pada kebesaran Ilahi. Begitupun saat mengunjungi Museum Tsunami Aceh yang menunjukkan kehebatan manusia zaman dulu membangun Colloseum yang memuat ratusan ribu orang.

Diving dan snorkeling melihat kehidupan ikan-ikan cantik di bawah laut juga mencengangkan. Rasanya berada di dunia lain, mengingatkan saya akan kebesaran ciptaan-Nya. Bahwa bukan hanya manusia yang tinggal di dunia ini,” renung Marina.

Pengalaman lebih ’ngena’ bagi Marina adalah ketika ia mengunjungi negara yang kehidupannya lebih miskin daripada Indonesia tetapi masyarakatnya lebih bahagia, rendah hati dan menjunjung kekeluargaan. Sebaliknya, di negara maju yang teknologinya maju pesat, masyarakatnya lebih banyak terdiam dan terasa sepi. ”Sehingga tingkat kebahagiannya justru tidak terasa,” ungkap Marina.

Berbagai pengalaman itu membuat Marina lebih mensyukuri kehidupan yang pernah dia punya sebelumnya. Karena itu dia belum dapat membayangkan petualangannya akan terhenti. Masih banyak tempat yang ingin dia kenjungi, masih banyak pula rencana yang belum dicapainya.

”Walaupun, jujur, saya sering membayangkan menetap di suatu tempat. Apalagi kalau sudah terlalu lama di perjalanan, badan sudah mulai capek dan pergantian budayanya terlalu cepat untuk beradaptasi. Intinya sudah mulai kepikiran untuk punya sarang sendiri, tapi belum terbayang dimana,” pungkas Marina seraya mengulas senyum.*

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Dok. Pri

Kisah, Female Solo Traveler, Wanita, Wanita Indonesia, Traveling Sendirian, Inspiratif, Berani, Tabloid

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments