Traveling Sendirian, Artesia Irawan Bertemu Jodoh di Gunung Berapi Purace

Traveling Sendirian, Artesia Irawan Bertemu Jodoh di Gunung Berapi Purace

Artesia Irawan sebenarnya pernah trauma melakukan solo traveling. Sebabnya, tasnya diambil orang di Spanyol tahun 1999. Namun 7 tahun kemudian ia terpaksa jalan sendirian karena tak ada yang mau menemaninya hiking di pegunungan Nepal. Ternyata perjalanan inilah yang mengubah hidupnya.

 

”Saya baru mengerti enaknya jalan sendiri! Walaupun saya hiking ditemani guide, tapi mengatur waktu dan itinerary hanya untuk sendiri lebih mudah dibanding jalan dengan teman. Gampang banget ketemu traveler lain yang juga lagi jalan sendiri, saya jadi lebih terbuka. Saya ketemu banyak sahabat tiga diantaranya seperti kakak saya sendiri,” kisah Echi, begitu Artesia Irawan akrab disapa.

Begitulah Echi yang kala itu bekerja di Dubai mulai rutin meluangkan waktu berlibur. Dalam setahun ia bisa 2-3 kali jalan-jalan. Kadang sendiri, kadang bersama sahabat.

Tahun 2007 Echi balik lagi ke Nepal. Perjumpaannya dengan serombongan pendaki di salah satu hostel di Kathmandu mengubah hidupnya.

”Salah satu dari rombongan itu adalah seorang pengacara dari Belgia. Jujur saja, saya baru pertama kali ketemu orang yang traveling selama 2 tahun dan masih berlanjut. Saya syok, kagum, bangga, sekaligus iri. Enak banget ya bisa jalan-jalan terus. Sejak itu saya bermimpi untuk meninggalkan pekerjaan saya dan pergi melanglang buana!” serunya.

Benar saja, setelah 3 tahun menyusun rencana dan menabung Echi akhirnya memutuskan resign dari pekerjaan yang sudah ditekuninya selama 15 tahun. Tahun 2010 ia pergi sendiri ke Peru dan menetap selama 3 bulan. Satu bulan ia manfaatkan untuk mendaki di Huaraz, satu bulan berikutnya tinggal di Arequipa, dan satu bulan sisanya Echi kursus bahasa Spanyol. Tentu semua dilakukan sembari jalan-jalan.

Setelah dari Peru, Echi menyeberang perbatasan ke Ekuador kemudian menyeberang lagi ke Kolombia. Di masing-masing ia metetap 2 bulan.

Saling Jatuh Cinta

Di Kolombia ini Echi menginap di Popayan, satu kota di selatan Kolombia. Salah satu tujuannya adalah trekking ke gunung berapi Purace. Kebetulan ada dua orang Jerman yang juga akan berangkat di hari yang sama dengannya.

”Malamnya saya siap siap tidur agak cepet karena  harus berangkat subuh. Saya lagi beres-beres di asrama ketika tiba-tiba ada seorang anak muda gondrong, berkumis dan berjenggot mengetok kamar dan mencari dua orang yang mau ke Purace besok paginya. Namanya Patrick,” cerita Echi memberi jeda. 

Singkat cerita, 1 Desember 2010, Echi bersama empat orang tersebut trekking ke Purace. ”Dalam perjalanan inilah saya dan Patrick saling jatuh cinta, hehehehe…,” lanjutnya dengan pipi bersemu merah.

Panah asmara membuat Echi dan Patrick memutuskan memperpanjang kebersamaan mereka. Pilihannya adalah kembali ke Ekuador karena Kolombia saat itu dilanda musim hujan yang terburuk. Longsor dan banjir dimana-mana.

”Pada akhirnya kami traveling bersama selama satu bulan di Ekuador sebelum kami akhirnya harus berpisah. Sang lelaki ganteng pada saat itu dalam rangka traveling satu tahun di Amerika Selatan, sedangkan saya sekitar satu tahun setengah di Amerika Selatan, Amerika, India, Turki dan Nepal. Kami berdua tidak bekerja. Setelah mencoba hubungan jarak jauh, akhirnya kandas. Dan kami tidak berjumpa sejak tahun 2011,” kisah Echi.

Tapi karena saling mencintai, Echi mengaku gagal move on. ”Akhirnya setelah suami saya waktu itu sudah mapan, tahun 2013 kami memutuskan menikah. Jadi terakhir kami berjumpa tahun 2011 dan kami berjumpa lagi tahun 2014, dua hari sebelum kami menikah,” lanjutnya lagi bersemu merah. 

Ditanya apa yang membuatnya memutuskan menikahi Patrick, satu jawaban Echi; Cinta! Apa yang membuatnya cinta?

”Ini agak tricky, karena saya selalu berkata, Love shouldn’t have reason. Tidak harus ada alasan kenapa saya jatuh cinta dengan orang itu dan tidak dengan yang lain. Karena pacar-pacar saya sebelumnya semua beda-beda. Mungkin lebih karena suami saya itu orang yang punya prinsip. Dia bisa ngebanyol, bisa sensitif, bisa ngebodor (bahasa sundanya melawak, red.) tapi punya prinsip hidup. Kami sering berargumentasi tapi tidak bertikai. Tidak gampang terpengaruh orang tapi bisa menerima perbedaan dan pendapat orang lain. Dan ganteng dan suppppperrrr baeeeeekk,” Echi memuji.

Kini Berjauhan

Sayangnya, kini sang suami terikat pekerjaan jadi mereka tak bisa sering-sering berpetualang berdua. ”Kami berdua menghabiskan liburan di Spanyol dan Irlandia untuk rock climbing (panjat tebing, red.) selebihnya, untuk trekking saya balik lagi ke Peru sendiri tanpa suami bersama dua temen cewek,” ungkapnya.

Bagaimana rencana ke depan? ”Untuk sementara kami belum dikaruniai anak. Umur pernikahan kami pun masih belum tiga tahun. Saya kelamaan ngejomblo, baru nikah di umur hampir 40 tahun, hehehe. Jadi sekarang ini belum ada rencana apa-apa. Apabila diberi rezeki oleh Tuhan, maka petualangan kami mungkin akan mengikutsertakan bayi kami. Dulu kami pernah berencana untuk traveling lagi, tapi belum dibicarakan lagi. Saya masih proses belajar bahasa Jerman disini, dan Swiss sungguh sangat indah untuk dijelajah,” kata Echi.

Yang pasti Echi tak dapat membayangkan berhenti berpetualang. Apalagi ia kerap bertemu keluarga traveler.

”Saya juga pernah trekking 10 hari di Peru bersama ibu-ibu yang umurnya sama dengan ibu saya. Saya juga pernah bertemu seorang penjelajah asal Inggris, namanya George Spenceley. Kami bertemu saat trekking ke Annapurna Base Camp (max ketinggian 4130m) dan Opa George ini umurnya sudah 85 tahun. Beliau masih trekking ke Himalaya, bersama istri masih menyisiri sungai Missisipi, juga mengendarai van sampai Turki. Hidup saya sudah sangat penuh inspirasi dari traveling selama ini. Jadi tidak mungkin saya akan berhenti berpetualang,” pungkasnya mengembangkan senyum manis. *

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Dok.Pri

Kisah, Female Solo Traveler, Wanita, Wanita Indonesia, Traveling Sendirian, Inspiratif, Berani, Tabloid, Bertemu Jodoh di Gunung

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments