Shandra Woworuntu, Penasihat Gedung Putih Mantan Korban Perbudakan Seksual

Shandra Woworuntu, Penasihat Gedung Putih Mantan Korban Perbudakan Seksual

Trauma mendalam membuat Shandra Woworuntu tak mudah menceritakan kembali pengalamannya menjadi korban perdagangan manusia, perbudakan seksual, serta KDRT. Namun suatu kali ia memberanikan diri memberikan testimoni di sebuah acara, dalam sekejab hidupnya berubah.

 

Usai memberikan testimoni, Shandra Woworuntu banyak menerima undangan yang memintanya menceritakan kembali kasusnya demi mencegah kejadian serupa. Ia bahkan diminta menjadi penasihat Gedung Putih.

“Ya, tahun 2015 saya terpilih menjadi salah satu anggota The US Advisory on Human Trafficking. Tugasnya me-review program dan regulasi terkait, serta memberi rekomendasi untuk lembaga pemerintahan federal disamping tingkat negara bagian dan kota,” jelas Shandra seraya mengulas senyum.

Sejauh ini tugasnya tidak terpengaruh meski Obama telah digantikan oleh Presiden Donald Trump yang beberapa kebijakannya cukup menghebohkan.

“Kami dibentuk oleh hukum Survivor Empowerment ACT yang di sahkan pada Mei 2015. Termasuk dalam hukum JVTA yang tujuannya membentuk struktur penasihat di bidang anti perdagangan manusia. Jadi kami masih bekerja seperti sedia kala dan kami tidak  berhenti dengan administrasi yang baru, tapi semakin banyak yang harus kita lakukan,” ungkapnya melanjutkan.

Komik Impian Dewi

Jauh sebelum menjadi staf khusus di gedung putih, Shandra telah lama berkiprah di isu pendidikan dan peningkatan kewaspadaan terhadap berbagai peluang berdagangan manusia. Ia juga menyiapkan pendampingan hukum. Tujuannya satu, kesulitannya mendapatkan bantuan untuk hidup layak dan mandiri setelah terbebas dari jerat perdagangan manusia dan perbudakan seksual, tidak terulang pada korban lainnya.

Shandra mengenang, aksinya dimulai sejak tahun 2004. Saat itu ia banyak membantu orang-orang yang tinggal di komunitasnya untuk bisa meninggalkan pekerjaan mereka. Banyak kasus yang terjadi, diantaranya eksploitasi dan perdagangan oleh sang majikan.

“Ada beberapa orang Indonesia yang saya tolong dan saya berikan pekerjaan yang layak sehingga mereka bisa hidup sebaimana layaknya kita. Saya rasa itu layak menjadi kado manis kekebasan mereka. Sebab dalam sila ke dua pancasila disebutkan; Kemanusian yang adil dan beradab,” sebut Shandra.

Shandra menyadri, itu terdengar klise. “Tapi inilah yang mendorong saya untuk membantu para korban. Keberadaban kita sebagai manusia hendaknya digunakan untuk memperlakukan orang secara baik. Lalu tahun 2014 saya bersama Randall Roca, Ret. Detective NY Police Department, Ima Matul, penyintas dari Indonesia dan Chris Heuertz, aktivis anti perdagangan manusia yang bekerja langsung dengan Ibu Teresa di India, kami mendirikan Mentari Human Trafficking Survivor Empowerment program Inc di New York,” lanjutnya menjelaskan.

Dengan yayasan Mentari ini Shandra tidak hanya mengerjakan aksi sosial di New York, namun juga merambah Los Angeles dan sebentar lagi Meksiko. Tentu saja Indonesia sebagai tanah kelahirannya tak ketinggalan.

 

Baca juga: Shandra Woworuntu, Jejak Korban Perdagangan Manusia dan Perbudakan Seksual

Oktober 2016, Shandra dan sahabatnya, Ima Matul Maisaroh yang beberapa waktu sebelumnya menjadi viral karena diminta berbicara dalam salah satu konggres Partai Demokrat, kembali ke Indonesia. Mereka mengunjungi beberapa daerah di Indonesia untuk memberikan bantuan pemberdayaan wanita serta berbagi trik mengenali dan mencegah perdagangan manusia.

“Awalnya kami ingin memberikan layanan untuk bangsa Indonesia di Amerika. Tetapi seiring waktu kami memperluas layanan kami untuk semua orang yang terkena dampak perdagangan manusia, kekerasan dan perbudakan. Nah tentang kunjungan kami ke Indonesia beberapa waktu lalu adalah dalam rangka “Program Untuk Anak Bangsa” dimana kami ingin memberikan sebagian waktu dan tenaga kami untuk bangsa Indonesia tempat aku di lahirkan,” kata Shandra, pandangannya menerawang.   

Ia memang pernah dikecewakan oleh perwakilan pemerintah Indonesia di Amerika Serikat dalam masa pelariannya. Namun Shandra tetap saja mencintai negeri ini. Jadi meski pekerjaan dan keluarganya di New York, Shandra merasa hatinya tertinggal di Indonesia.

“Karena saya peduli dengan masa depan bangsa Indonesia. Saya dengan keterbatasan saya ingin memberikan waktu dan tenaga untuk meningkatan kewaspadaan masyarakat khususnya kaum muda karena mereka adalah masa depan bangsa,” tuturnya serius.

Perhatian utamanya tentu saja menghindarkan putra-putri negeri ini terhindar dari perdagangan manusia. Salah satu cara Shandra meningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap perdagangan manusia adalah dengan membuat komik ilustrasi berjudul “Impian Dewi”, serta membuat acara-acara di sekolah, kampus, serta area lainnya.

Ia mengajak seluruh wanita untuk juga bersuara dan mewujudkan kepedulian mereka masing-masing. “Karena wanita adalah feminist yang bisa mengubah dunia!” tegas Shandra.

“Dengan kekuatan dan keberanian, kita bisa mengubah masa depan bangsa. Kita berasal dari berbeda-beda suku tapi kita Wanita Indonesia. Sudah seharusnya kita bersatu dan terus meningkatkan pengetahuan kita supaya bisa mengubah status sosial, kesetaraan dan perubahan economi dan politik di negeri tercinta ini,” lanjutnya menyemangati.

Menggapai Kehidupan Lebih Baik 

Shandra tak akan lelah menyampaikan misinya dan menyelamatkan semakin banyak orang. sebab data mencatat, di Amerika Serikat saja, setiap tahunnya ada 17-19 ribu orang yang dibawa untuk diperdagangkan.

Yang lebih mengerikan, bungkus aksi kejahatan itu semakin rapi. Karena sasarannya bukan hanya kalangan miskin, namun juga yang bergelar sarjana seperti Shandra. Bukti lainnya, Shandra pernah membantu korban yang ternyata seorang dokter dan guru dari Filipina.

Tentang kisah pilunya Shandra terkadang masih tak percaya dengan mimpi buruk itu. Semua bermula dari mimpi indahnya tentang Amerika. *

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Dok.Pri

Aktual, Membawa Nama Indonesia, Wanita, Wanita Indonesia, Korban Perdagangan Manusia, Korban Kekerasan Seksual, Amerika Serikat, Inspiratif, Hari Perempuan Internasional

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments