Syuting, Nadine Chandrawinata Pakai Bahasa Isyarat

Syuting, Nadine Chandrawinata Pakai Bahasa Isyarat

Dalam beberapa pengambilan gambar film Labuan Hati, Nadine Chandrawinata berkomunikasi dengan kru harus menggunakan bahasa isyarat. Apa yang terjadi?

 

Syuting film Labuan Hati dilangsungkan selama tiga minggu di kawasan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Sebelum dimulai, selama empat hari, Nadine Chandrawinata dan para pemain diajak sutradara Lola Amaria mengecek lokasi syuting.

”Kami pergi ke sana buat cek lokasi untuk tahu medannya seperti apa. Dan kita tinggalnya di kapal. Kalau nggak ada apa-apa, Ully disuruh naik ke atas, dijemur seperti ikan asin agar kulitnya makin hitam,” ujar Nadine sambil tertawa.

Ketika mengunjungi lokasi Nadine dan pemain lain tidak sekadar menikmati pemandangan. ”Kami sekalian reading di lokasi. Ini yang paling menyenangkan dan unik di tim produksi Labuan Hati,” ujarnya sambil tersenyum.

Karena itulah wajar jika Nadine mengaku sangat senang mendapat kesempatan membintangi film produksi Lola Amaria Production. Selain kesempatan menikmati laut, dia mengaku mendapat banyak pengalaman berharga.

”Saya banyak sekali menemukan pelajaran hidup. Dan team work itu benar-benar terlihat pada saat syuting, di kapal maupun daratan,” ungkap Nadine.

Contoh betapa kerja tim itu berjalan baik saat pengambilan gambar di bawah laut. Menurut Nadine, syuting di dalam air hanya punya waktu 50-60 menit.

”Karena komitmennya terbatas dan karena 60 menit itu semua pihak harus konsekuensi scene mana, shoot mana yang diambil. Jadi kita briefing satu jam sebelumnya di atas kapal sebelum kita menyelam. Supaya nggak buang-buang waktu,” jelas Nadine.

Bagaimana cara berkomunikasi di bawah laut? ”Karena kita nggak bisa ngomong di bawah laut. Kita pakai hand signal, pakai kertas yang sudah dilaminating. Misalnya udah oke, oke. Kalau sudah take kedua, kita pakai angka 2,” jawabnya.

”Tapi kalau masalah pengulangan pasti iya. Karena Mbak Lola harus cek di kamera. Oke apa nggak. Kalau nggak oke, diulang lagi,” tambah Nadine.

Ketika syuting di daratan, Nadine dan artis lainnya bersama kru harus berinteraksi dengan komodo. Untuk menjaga agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, mereka selalu dijaga ranger. ”Dari awal sampai akhir syuting selalu didampingi,” terangnya.

Nadine pun merasa syuting film kali ini layaknya menikmati liburan. Namun bukan berarti dia bisa leluasa kemana-mana. ”Kali ini karena syuting ada skenario dan ada blocking sehingga nggak boleh kita langgar. Pada saat syuting film ini semua diatur.”

”Menariknya, karena pekerjaan kita sangat berpegang dengan waktu, syutingnya nggak bisa diulang-ulang. Paling banyak cuma tiga kali pengulangan. Jadi benar-benar semua harus fokus dan harus tahu diri,” tambah Nadine.

Rasa kebersamaan dan saling menghargai juga terlihat dari kesadaran untuk menjaga kebersihan kapal. Karena sepanjang 24 jam mereka tidak kemana-mana hanya berada di kapal.

”Produksi film ini mengedepankan jangan buang sampah sembarangan. Karena lokasi kita syuting dan tempat kita beristirahat itu hanya di satu tempat. Jadi kalau seandainya kita berantakan, kenyamanan, mulai dari tempat tidur, tempat nongkrong kita di kapal itu akan kotor juga. Jadi sampah memang nggak ada yang boleh berserakan,” ungkap Nadine.

Baca juga: Nadine Chandrawinata Bergantung pada Obat Anti Haid

Sikap yang sama berlaku ketika mereka menjalani syuting di daratan. ”Begitu keluar pulau pun sampah harus langsung dibereskan. Karena yang saya dengar dari orang lokal, baru ada yang syuting dan ninggalin sampah banyak banget,” katanya.

”Nah kita nggak mau seperti itu. Itu yang mungkin harus kita ubah. Saya berharap kita jaga rumah kita sendiri. Walaupun itu bukan tempat tinggal kita. Lagi mau liputan ya coba sampahnya dijaga juga,” lanjut Nadine.

Lebih dari itu, menurut Nadine, kesadaran untuk menjaga kebersihan harus dimiliki setiap orang, baik warga setempat maupun wisatawan. ”Nggak boleh buang sampah sembarangan, apalagi di laut. Karena nanti laut jadi jelek orang tidak akan datang lagi,” jelasnya.

Seperti Ditimang

Anda pernah membayangkan tiga minggu berada di atas kapal kecil di tengah laut? Yang pasti setiap saat pemandangannya sama, yaitu laut, diayun ombak dan selalu bertemu orang yang sama. Bisa jadi sepanjang hari mabok laut.

Jenuh? Mungkin mayoritas akan mengatakan demikian. Namun tidak dengan Nadine, dia justru ingin lebih lama lagi berada di atas kapal.

”Nggak tahu kenapa berada di atas kapal, saya merasa seperti bayi lagi. Diayun oleh ombak seperti bayi yang sedang ditimang-timang. Tempat tidurnya seperti diayun. Selama itu saya juga tidak pernah mabok laut,” ungkap Nadine saat ditemui di Jakarta, pekan lalu.

Mantan Puteri Indonesia ini baru pulang dari Labuan Bajo, setelah selama tiga minggu dia menyelesaikan syuting film Labuan Hati besutan sutradara Lola Amaria. Film itu juga dibintangi Kelly Tandiono, Ully Triani dan Ramon Y. Tungka.

”Labuan Bajo dan Pulau Komodo salah satu destinasi favorit saya. Sayangnya selama syuting saya nggak sempat kemana-mana. Karena hampir 80 persen semua berada di atas kapal dan saya memang mau fokus di film ini. Jadi saya nggak mau keliling-keliling di luar waktu syutingnya,” ungkap pemeran Indy ini.

Sebagai penebus, begitu syuting usai, Nadine memperpanjang waktu tinggal di sana. ”Setelah syuting beres saya extend dua malam di sana. Untuk kembali menjadi Nadine bukan sebagai Indy. Selama dua hari itu kerjanya nyantai di kamar. Melihat view keluar, laut dan menulis,” tuturnya.

Bagi Nadine, Labuan Bajo bukanlah tempat asing. Dia sudah mengunjunginya 4-5 kali. Namun itu tak membuatnya bosan untuk berlama-lama di sana.

”Destinasi favoritku pasti pas menyelam. Karena berharap bisa bertemu manta, di situ banyak penyu, hiu juga yang lewat, ikan karang,” terang Nadine.

Begitu mencintai menyelam, kakak dari Marcel dan Mischa ini paham bagaimana menghadapi berbagai situasi di kedalam laut. ”Pada saat ada arus kita harus mengontrol badan, harus melihat ke depan agar tidak menabrak terumbu karang,” katanya. 

Itulah Nadine, dia tidak bisa berjauhan dari alam. Menyelam, menyusuri hutan dan mendaki telah menjadi bagian hidupnya. Apalagi dia juga membawakan program traveling di alam di salah satu stasiun televisi. 

Nadine dipilih Lola membintangi film ini salah satu pertimbangannya adalah kemahirannya berenang dan menyelam. ”Dari sisi perpaduan juga sudah sangat dipikirkan. Saya indo, Kelly Tandiono oriental dan Ully Triani sangat Indonesia. Kata Mbak Lola ini perpaduan yang sangat pas sekali di frame,” katanya.

”Kami semangat sekali main di sini. Seperti Ully, rela keriting rambutnya. Karena itu permintaan Mbak Lola. Biar lebih mendekati karakter orang lokal. Terus untuk kulitnya dibikin 10 kali lipat lebih gelap dari kulit asli Ully,” tambah Nadine.

Teks: Dewi Muchtar   I   Foto: Instagram Nadine