Ibu Guru Kembar Rosi dan Rian: Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Pada Anak dan Perempuan

Ibu Guru Kembar Rosi dan Rian:  Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Pada Anak dan Perempuan

Angka  kekerasan pada anak dan perempuan masih tinggi. Hal tersebut mendorong Sekolah Darurat Kartini bekerja sama dengan Ikatan Isteri Dokter Indonesia (IIDI) melakukan sosialisasi pencegahan kekerasan pada anak dan perempuan.

 

Dari tahun ke tahun peningkatan kekerasan pada anak terus bertambah hingga mencapai 15 persen. Sebagai contoh, data KPAI mencatat anak berhadapan hukum total di bulan Januari-25 April 2016 ada 298 kasus. Sebanyak 298 kasus itu menduduki peringkat paling tinggi anak berhadapan dengan hukum.

Diantaranya ada 24 kasus anak sebagai pelaku kekerasan fisik.Pada sembilan kelompok kluster, anak pelaku dan korban kekerasan dan pemerkosaan, pencabulan, dan sodomi mencapai sebesar 36 kasus.

Sementara kekerasan pada perempuan juga tak kalah memprihatinkan. Data dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang dikeluarkan bidang perlindungan hak perempuan, 1 dari 3  perempuan pada rentang usia 15-64 tahun, atau sekitar 28 juta orang, pernah mengalami kekerasan fisik ataupun seksual. Temuan ini, didasari hasil survei pengalaman hidup perempuan tahun 2016. Pelakunya adalah pasangan perempuan itu sendiri dan orang lain.

Berkaca pada permasalahan yang ada, ibu guru kembar Rian dan Rosi memberi edukasi kepada murid dan orang tua Sekolah Darurat Kartini yang dikelolanya sejak puluhan tahun silam itu. Kali ini mereka bergandengan tangan dengan Ikatan Istri Dokter Indonesia cabang Jakarta Pusat. Kerjasama ini pun cukup beralasan sebab salah satu dari ibu kembar ini bersuamikan seorang dokter.

 

“Kebetulan saya juga anggota  IIDI, karena suami saya dokter di RSPAD Gatot Subroto. Dari IIDI memfasilitasi kegiatan kita kali ini. mulai dari menyiapkan makanan , hadiah dan mendatangkan psikolog,” ungkap Rosi, disela-sela perayaan hari lahir pahlawan wanita RA. Kartini yang digelar di Kota Tua, Jakarta baru-baru ini.

Sekolah Darurat Kartini dan ibu-ibu dari IIDI memang tidak ingin merayakan hari kartini sekedar seremonial belaka. Sejalan dengan spirit tokoh emansipasi wanita itu, mereka ingin melakukan sesuatu untuk kaum perempuan, terutama anak dan ibu.

Tak heran acara yang berlangsung sejak pagi hari itu berlangsung meriah. Dimulai dari tarian pembuka , tari bali dan palang pintu. Kemudian dilanjutkan dengan upacara bendera. Menjelang siang, seorang psikolog memberikan pencerahan pada para ibu yang tak lain adalah orang tua dari murid-murid dari Sekolah Darurat Kartini.

“Sosialisasi pencegahan kekerasan pada anak dan perempuan penting dilakukan pada  lapisan masyarakat  paling bawah. Karena disana  ada kekerasan di dalam rumah, kekerasan di lingkungan. Anak–anak didik kita saja yang masih TK  sudah diperkosa sebanyak 2 kali. Disini juga ada anaknya. Namanya Della. Makanya kita datangkan orang tua  untuk mendengarkan psikolog.Kalau anak-anaknya mungkin belum mengerti. Maka kita jelaskan pada orangtua mereka bahwa  apa yang terjadi pada Della merupakan sebuah kekerasan. Karena di pemahaman mereka itu hal biasa, sudah nasib. Sehingga  kita sebagai orang yang terdidik  wajib memberitahu pada mereka,” lanjut Rian.

Meski telah 27 tahun mengabdi pada dunia pendidikan di kolong tol itu, Rosi dan Rian bisa dibilang masih kecolongan. Karena salah satu dari muridnya masih ada yang menjadi korban kekerasan seksual.

Namun Rosi dan Rian menolak bahwa itu sebuah kecolongan. Karena memang anak-anak di lingkungan kolong tol setiap waktu selalu ditinggal bekerja oleh orang tua  yang bekerja sebagai penyapu jalan atau pemulung. Sementara anak-anak ditinggal begitu saja di gubug-gubug.

“Sekarang ini mereka sudah lebih baik. Mereka sudah tahu menikah, bisa masak, sudah tahu moral. Jadi kalau ML sudah tidak dilakukan di jalan lagi, sudah tahu malu melakukannya di gubug. Sementara kita minta para orang tua untuk melindungi anak-anaknya. Korban perkosaan seperti Della, sampai sekarang terus kita lakukan pendampingan, kita berusaha pulihkan kondisi psikologisnya,” ucap Rosi.

Masa Depan Bangsa Ada Pada Anak

Sementara Ketua IIDI cabang Jakarta Pusat. Sutarti Eko Prasetya Ningsih mengatakan kerjasama dengan Sekolah Darurat Kartini tidak hanya berlangsung  sekadar seremoni belaka saja. IIDI  lanjut Nuning, begitu wanita ini disapa, tidak mau sekadar merayakan Hari Kartini dengan memakai sanggul atau kebaya.

“Karena kami terinspirasi oleh semangat Ibu Kartini. Intinya kami ingin wanita-wanita Indonesia itu berdaya. Dimana  mereka mampu mengurangi kekerasan yang terjadi pada anak. Karena masa depan bangsa nantinya ada di tangan anak-anak kita. Sehingga kami berkomitmen  moment hari kartini ini pas banget kita pakai untuk mengingatkan bahwa kekerasan itu dampaknya sangat buruk pada pertumbuhan anak, khususnya pada anak perempuan. Agar tidak jadi seremonial, kerjasama akan terus berkelanjutan Ya, secara informal kami sudah berkomunikasi dengan ibu guru kembar. Kami melihat potensi anak-anak ini dalam hal menari. Kami ada juga seksi kesenian dan olahraga. Dari IIDI, nanti  seminggu sekali setiap hari selasa akan mengirimkanj seorang guru untuk mengajarkan tari dan puisi,” papar Nuning.

Nuning berharap dari kegiatan tersebut  bisa menumbuhkan bakat seni. Karena kenakalan remaja antara lain bisa ditanggulangi dengan seni dan olahraga.

Disamping itu IIDI juga telah menyiapkan sebuah program jangka menengah untuk para ibunya. “Kami akan memberikan ketrampilan menempelkan tissue pada permukaan tas atau permukaan tempat tissue. Itu jangka menengah ya.. Sementara  jangka dekatnya latihan kesenian, kita lakukan pendekatan ke anak-anak dulu,” tutup Nuning.

Sekolah Darurat Kartini, sekolah kolong tol. Ibu Guru Kembar, Rosi dan Rian, Kekerasan pada anak dan perempuan, IIDI, Wanita Indonesia

Artikel Terkait

Comments