Arti Uang di Mata Generasi Milenial

    15 May 2017
Arti Uang di Mata Generasi Milenial

Jika berbicara konsep uang, pendapat orang akan berbeda-beda. Bagi para ibu rumah tangga, uang merupakan kebutuhan sehari-hari untuk membeli keperluan dapur, agar bisa menyajikan makanan untuk keluarga. Pekerja kantoran berusia 40 tahunan lain lagi. Bagi mereka, uang merupakan reward bulanan dari perusahaan atas kerja keras selama satu bulan. Lalu bagi generasi Milennial, sebenarnya apa sih arti uang ini?

Saat berbincang santai dengan Andy F. Noya, ia menceritakan tentang tingkah laku anak bungsunya, Marlo. Sewaktu usianya masih 16 tahun, Marlo memohon kepadanya untuk dibelikan mobil. Mentah-mentah, Andy menolak.

“Saya bilang sama dia, kamu itu masih belum dewasa. SIM saja belum punya. Nanti saja kalau sudah punya SIM baru dipikirkan untuk beli mobil. Tapi dia tetap ngotot, katanya dua bulan lagi dia sudah ulang tahun dan sudah 17 tahun, jadi dibelikan mobil sekarang, toh tidak ada bedanya. Saya langsung jawab lagi, ‘Ini kan uang Papa, jadi hak Papa untuk memutuskan kapan akan membelikan kamu mobil.’ Hasilnya, dia ngambek. Akhirnya saya bilang ke dia, ‘Kalau kamu punya uang sendiri, terserah mau beli mobil kapan.’ Dan dia langsung diam,” cerita Andy.

Andy pikir anaknya kalah debat dan hanya ngambek saja. Ternyata beberapa hari kemudian, waktu Andy pulang ke rumah, sudah ada mobil baru terparkir di garasi rumahnya. Ia bertanya kepada anak sulungnya, itu mobil siapa. Dan sang anak mengatakan, ‘Itu mobil Marlo, Pa’. Andy lalu gusar dan langsung memanggil Marlo. Dia berpikir bahwa anaknya sedang menantang dirinya. Dan yang paling membuat Andy heran, dari mana Marlo bisa dapat uang ratusan juta hanya dalam waktu beberapa hari saja.

“Anak saya akhirnya bilang, karena uang untuk beli mobil adalah uangnya sendiri, jadi ya terserah dia. waktu saya tanya uangnya darimana, dia bilang dari Youtube. Ternyata saya baru tahu, kalau sistem teknologi sekarang, memungkinkan siapa saja bisa menghasilkan uang, dalam waktu singkat dan dalam jumlah banyak. Iklan-iklan yang masuk di Youtube-nya Marlo, bisa menjapai puluhan bahkan ratusan juta. Sistem mendapatkan uang seperti ini yang akhirnya harus saya pelajari, bukan untuk diterapkan tetapi untuk dimengerti, bahwa anak muda sekarang memang gaya mendapatkan uangnya sudah seperti itu,” sambung Andy lagi.

Yang disayangkan oleh Andy, mobil yang dibeli oleh Marlo hanya tahan beberapa bulan saja, lalu dijual kembali ke teman-temannya dengan harga yang murah. Saya tanya lagi, kenapa dijualnya sangat murah? Dia bilang, nggak apa-apa, nanti juga modalnya bisa ketutup lagi dengan cepat.

“Inilah yang akhirnya membuat saya berpikir, apakah karena bisa dengan mudah dan cepat mendapatkan uang dalam jumlah besar, generasi Milennial sekarang jadi kurang menghargai uang dan kerja keras, ya?” Andy bertanya balik sambil merenung.

You Only Live Once

Melihat fenomena ini, Ivy Widjaja, Head of Customer Segmentation & Marketing Permata Bank mengatakan bahwa memang benar, pemahaman anak muda zaman sekarang terhadap uang sangat minim. Mereka yang berusia 18-35 tahun, kebanyakan menganut prinsip YOLO, You Only Live Once.

“Itulah mengapa kami membuat campaign #SayangUangnya, yang pesannya lebih ditunjukkan untuk anak-anak muda generasi Milennial. Mereka yang menganut motto hidup YOLO, mengajarkan bahwa hidup hanya sekali, jadi harus dinikmati dan dijalani tanpa penyesalan. Sehingga pemikiran untuk saving, minim sekali, karena uangnya habis begitu saja untuk jalan-jalan, beli barang branded, bergaya di atas kemampuan, dan banyak lagi,” ujar Ivy saat peluncuran buku Kece Tanpa Kere di Kinokuniya Plaza Senayan.

Termasuk dalam urusan konsumsi, mantra YOLO ini banyak membuat para Milennial terjebak hidup konsumtif, tanpa memikirkan masa depan. Padahal kalau hidup memang hanya sekali, harusnya dimaksimalkan untuk pengembangan diri maupun persiapan masa depan.

“Sebenarnya, apa sih alasan anak muda menjadi konsumtif? Ternyata setelah diteliti, ada banyak alasan. Beberapa di antaranya seperti peer pressure, atau tekanan sosial. Jadi pengaruh teman-teman di lingkungan pergaulan, bisa membuat sifat konsumtif dan spending behavior menjadi tidak terkendali. Contohnya, dalam kelompok atau genk kantor, setiap weekend pulang kerja ada ritual kumpul di salah satu kafe. Dari acara kumpul itu saja, kita jadi memperhatikan kalau misalnya tas teman-teman lain harganya jutaan, malu kalau kita hanya pakai tas yang harganya ratusan ribu. Atau untuk kekompakan genk, pakai aksesori yang sama, jam misalnya, yang harganya sudah selangit. Kalau Anda tidak mengikuti gaya seperti itu, maka pelan-pelan akan diasingkan oleh kelompok tersebut,” jelas Ivy.

Lalu ada juga alasan insecurity, atau rasa minder. Ketika seseorang merasa ada yang kurang dari dirinya, ia akan cenderung mencoba mencari kompensasi dari bidang lain. Misalnya, kalau ia merasa kurang menarik, maka ia akan berusaha membeli barang-barang mahal dengan harapan orang lain akan memberikan nilai lebih pada penampilannya.

“Lalu ada lagi alasan jebakan industri. Semakin maju teknologi, maka semakin banyak hal-hal baru seputar gadget terbarui setiap bulannya. Sudah punya handphone yang harganya hampir sepuluh juta, eh beberapa bulan kemudian, kepengin lagi ganti handphone yang harganya lebih mahal, hanya karena warnanya beda atau ada tambahan satu fitur yang tidak ada di handphone sebelumnya. Kalau Anda tipe seperti ini, berarti pola hidup konsumtif Anda berada dalam level jebakan industri,” terangnya.

Teks: Rizkita Lubis
Foto: Istimewa

Keuangan, Arti uang, generasi, milenial, arti, uang, generasi milenial

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments