Pasrah, Tak Ada Biaya untuk Terapi

    19 May 2017
Pasrah, Tak Ada Biaya untuk Terapi

Meningkatnya kebutuhan berwisata membuat pamor Kepulauan Seribu kian melonjak saja. Keindahan gugusan pulau yang tersebar di sebagain Laut Jawa ini menghiasi laman media sosial jutaan pengunjungnya. Namun tak banyak yang menengok kehidupan warga penghuninya.

 

Tessa Margaretha dan komunitasnya menjadi satu dari sedikit wisatawan yang terketuk hatinya. Bermula dari kegemarannya menjelajah pulau-pulau kecil di gugusan Kepulauan Seribu, Tessa, demikian sapanya berkenalan dengan salah satu kapten kapal dari Pulau Kelapa. Pulau inilah yang belakangan selalu menjadi tempat singgahnya saat melepas penat dari padatnya kota Jakarta.   

Tinggal bersama penduduk rupanya kian membuka matanya. Bahwa di balik Kepulauan Seribu yang indah itu banyak cerita pilu. Setidaknya di Pulau Kelapa yang menjadi tempat singgahnya. Karenanya dalam beberapa kunjungan Tessa mengajak serta para sahabatnya dari Jakarta untuk menyisihkan sebagian rezeki dan menggelar aksi sosial.

Sebelum berangkat pada akhir pekan di pengujung April lalu misalnya, ia menghimpun bantuan untuk sejumlah keluarga miskin yang memiliki anak berkebutuhan khusus. WI berkesempatan turut mengunjungi beberapa di antaranya.

Sabtu malam, 6 Mei 2017 lalu, Muhammad Sofyan tertidur pulas di sebuah ayunan di ruang tamu yang sekaligus menjadi kamar rumah kayunya yang kecil. Riuh tamu yang muncul dari bagian dapur tak mengusiknya. Aroma tak sedap dari jamban dan tumpukan sampah yang sekali waktu terbawa angin juga tak membangunkannya.

Rumah pasangan muda Juwayriah, 26 tahun dan Abdul Rohman memang berada di bagian belakang Pulau Kelapa, tepatnya menghadap Pulau Kelapa Dua. Jamban warga yang belum memiliki WC di rumah mereka, lebih dulu ada di sana. Tumpukan sampah yang menepi terbawa air ditambah buangan dari warga sekitar juga kerap luput dari perhatian para petugas kebersihan. Mungkin karena rumah Juwayriah dan para tetangganya tersembunyi.

Ditanya kenapa membuat rumah di tempat ini, tersenyum kecut Juwayriah menjawab tak punya pilihan. Penduduk Pulau Kelapa yang kian padat tak lagi menyisakan lahan di tengah perkampungan. Kalaupun ada sedikit tanah tersisa, Juwayriah dan suaminya tak mampu membelinya.

Satu-satunya pilihan adalah menguruk tepian pulau. Itupun suaminya harus mengumpulkan uang bertahun-tahun untuk membeli kayu khusus yang tahan air laut. Selama itu mereka hidup berpindah-pindah antara rumah orang tua Juwayriah atau orang tua suaminya.

Akhirnya dua tahun belakangan mereka bisa menempati rumahnya sendiri. Walau orang tua Juwayriah dengan setengah bercanda menyebutnya gubug derita.

Rumah kayu itu terdiri dari 3 ruangan, yaitu dapur, kamar, serta ruang tamu yang sekaligus menjadi tempat tidur bersama. Dapur dan kamar masing-masing berukuran sekitar 2 x 2 m2.

Juwayriah mengenang, ia dan Rohman menikah hampir 6 tahun lalu, saat usianya 23 tahun. Hampir satu tahun kemudian ia baru hamil. Kehamilan itu tanpa kendala, bahkan ia dapat melahirkan dengan proses normal.

Kepanikan baru terjadi saat bayi Sofyan tidak menangis. Tim medis menjelaskan, ia minum air ketuban, maka harus disedot. Minimnya fasilitas di Pulau Kelapa, membuat Sofyan harus dilarikan ke rumah sakit di Jakarta. Hampir sebulan ia dirawat di sana tanpa Juwayriah.

“Saya terpaksa tetap tinggal di pulau karena infeksi saluran kemih. Untuk buang air kecil harus menggunakan selang selama satu bulanan,” kisah Juwayriah lirih.

Sayur Mahal, Susu Apalagi

Juwayriah tak dapat melukiskan dengan kata bagaimana sedih dan gundah hatinya membayangkan buah hatinya di rawat nun jauh di sebrang laut. Ketika dibawa pulang satu bulan kemudian,  nafas  Sofyan masih terganggu. Selain terjadi penyempitan tenggorokan, rupanya ia alergi susu sapi.

“Jadi harus minum susu soya. ASI saya tidak keluar, mungkin karena sakit dan stres jauh dari dia,” ujar alumni SMK Pulau Tidung ini menduga.

Setelah Sofyan kembali ke pangkuannya, Juwayriah mencoba merawatnya sebaik mungkin. Ia patuhi semua jadwal imunisasi. Namun pernyataan seorang dokter spesialis anak membuatnya lemas. “Katanya lingkar otak Sofyan tidak normal, jadi tumbuh kembangnya terhambat,” jelas Juwayriah menirukan.

Yang dimaksud dokter terhambat itu rupanya hampir serupa dengan terhenti. “Ini usianya sudah 4,5 tahun, harusnya sudah lari-lari bersama temannya. Tapi ini masih seperti bayi,” ungkapnya lirih seraya memandang Sofyan di pangkuannya.

Sofyan hanya berkomunikasi dengan pandangan matanya. Sekali waktu ia mengerang untuk menunjukkan ketidaksukaan terhadap sesuatu. Di lain waktu ia menangis kencang untuk mengekspresikan kemarahan atau kesakitannya. Kalau sudah begitu, Juwayriah pun hanya bisa meneteskan air mata.

Sepanjang 4,5 tahun ini dapat dikata Juwayriah tidak berhenti menjalani pengobatan. Jika ada rezeki, ia menyebrang ke Jakarta. Apalagi ketika ia mendengar kemajuan kondisi beberapa orang karena menjalani pijat alternatif di Bekasi.  

“Kami sudah 2 kali ke sana. Sebenarnya terapisnya bilang harus dilanjutkan sampai banyak kemajuannya. Tapi karena uang habis ya terpaksa pulang. Padahal hasilnya lumayan, lihat ini lehernya bisa agak tegak. Sebelumnya tidak bisa begini. Untuk makan pun sudah bisa nganga, dulu tidak merespon. Jadi pakai dot yang dilubangi besar. Dulu buang air besar juga harus dengan rangsangan obat, sekarang alhamdulilah bisa buang air,” syukur Juwayriah.

Dengan pendapatan suaminya Rp 100 ribu per hari sebagai penjaga keramba, Juwayriah tak tahu pasti kapan dapat menjalani terapi lagi. Sebab kebutuhannya sehari-hari juga tak sedikit.

“Sayuran mahal, susu apalagi. Belum lagi ikan pun harus beli. Ya, walau hidup di laut yang orang pikir ikan tinggal ambil, kan ambilnya butuh modal solar. Lagipula suami sudah tidak nelayan lagi,” keluhnya. 

Juwayriah kian pusing saat suaminya sakit beberapa hari seperti akhir pekan itu. Otomatis mereka tak punya pemasukan.

“Semoga segera sembuh, bisa bekerja lagi sehingga kami bisa mengumpulkan sedikit uang untuk terapinya Sofyan lagi,” doa Juwayriah.

Sebenarnya ia ingin segera membawa Sofyan menjalani terapi sampai akhirnya dapat duduk, atau syukur-syukur berdiri dan berjalan pelan-pelan. Tapi Juwayriah juga tak berdaya memikirkan biaya.

“Untuk terapi memang bayarnya suka rela. Tapi untuk menjaganya di sana kan butuh biaya makan dan sebagainya,” tuturnya.

Menghitung itu semua membuat Juwayriah pasrah dan berdoa semoga ada mukjizat bagi buah hatinya. Atau mungkin ada yang berbaik hati membantunya menjalani terapi.

Teks dan Foto: Kristina Rahayu Lestari

Aktual, Kisah Pilu dari Kepulauan Seribu, Masyarakat Pinggiran, Pulau Kelapa, Jakarta, Tak Ada Biaya

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments