Sariyah: Setelah Disuntik Kaki Erwin Lemas Tak Bergerak

    21 May 2017
Sariyah: Setelah Disuntik Kaki Erwin Lemas Tak Bergerak

Betapa bahagianya Sariyah ketika menimang Erwin Ardiansyah, bayi lelaki pertamanya yang terlihat sehat nan gagah. Ia tak pernah membayangkan, suntikan yang diberikan tim medis saat Erwin kejang adalah awal derita buah hatinya.  

 

Sariyah, 34 tahun berkisah, kehamilan Erwin berjalan lancar. Ia pun melahirkan bayi dengan berat 3,5 kg dan panjang 47 cm itu secara normal. Selanjutnya Erwin tumbuh sehat seperti anak kebanyakan. Bahkan di usia satu tahun Erwin sudah bisa berjalan, meski masih timik-timik.

“Tiba-tiba suatu ketika saat dia bangun tidur siang sekitar pukul 15.30 kejang-kejang. Tidak panas, sebelumnya juga tidak sakit,” cerita Sariyah tegang. 

“Saya bawa ke RB (Rumah Bersalin), dokter kualahan menenangkan Erwin. Badannya memang besar dan kuat. Lalu tiba-tiba dokter menyuntik kedua pahanya, saya nggak tahu suntikan apa, tapi tubuh Erwin langsung terdiam, tak bergerak. Saya syok, saya pikir dia sudah meninggal. Tapi kata dokter tidak,” lanjutnya memberi jeda.

Sariyah menunggu dengan cemas hingga akhirnya mengucap syukur ketika pukul 20.00 WIB Erwin sadar lalu menangis.

“Eh sepulang dari RB kok kakinya lemas, tidak lagi bisa berdiri apalagi berjalan seperti sebelumnya. Sejak itu badannya mengecil, khususnya kakinya. Kami sempat membawanya ke ahli saraf, kakinya diketok pakai alat seperti palu karet, masih menangis. Kata dokter berarti syarafnya masih berfungsi,” tiru Sariyah lega.

Dokter mengatakan ada saraf Erwin yang terjepit. Kemungkinan dia bisa berjalan lagi, tapi butuh waktu lama.

“Alhamdulillah Erwin juga masih mendengar. Makanya di rumah sering saya panggil, saya ajak ngomong seperti biasa. Dia tumbuh jadi anak yang ramah, senang tersenyum pada siapa saja. Bahkan kalau saya minta tolong diambilkan sepatu adiknya dia mau. Dia juga selalu ingin bergabung kalau ada teman-temannya sedang berkumpul,” syukurnya seraya tersenyum.

Bisa Jalan

Rasa syukur Sariyah kian berlipat ketika belum lama ini, jelang usia Erwin 15 tahun ia bisa berjalan.

“Dulunya ngesot dan merambat. Kami memang sengaja tidak membelikan atau meminta bantuan kursi roda. Supaya dia berusaha bergerak dengan tubuhnya sendiri. Nah entah karena bergerak terus itu, atau juga karena obat yang kami berikan, alhamdulillah dia sekarang bisa berjalan meski ya tidak seperti anak normal,” Sariyah bersyukur lagi.

Dia tak tahu pasti nama obat yang disebutnya. Yang pasti orang menyebutnya obat China untuk tulang.

“Ceritanya sepulang dari dokter saraf itu ada yang menyarankan untuk memberinya obat China untuk tulang. Mahal memang, efeknya juga tidak langsung, tapi sepanjang 13 tahun kami terus mencoba rutin memberikannya. Sejak tahun lalu memang kami hentikan karena harganya semakin mahal. Satu batang gitu Rp 1,2 juta. Obatnya seperti permen karet, bau jamu. Biasanya saya bagi 4,” tuturnya.

Baca juga: Pasrah, Tak Ada Biaya untuk Terapi

Yang membuat Sariyah kian bahagia, Erwin dengan segala keterbatasannya tak pernah meninggalkan salat. Ia berharap putranya ini membawa kebaikan bagi banyak orang, khususnya keluarga.

“Sayangnya di sini tidak ada SLB. Padahal di pulau ini banyak anak polio, kondisinya lebih parah dari Erwin,” sesal Sariyah. Ia berharap pemerintah juga memikirkan pendidikan mereka. 

Teks dan Foto: Kristina Rahayu Lestari,pulau-seribu.com

Aktual, Kisah Pilu dari Kepulauan Seribu, Masyarakat Pinggiran, Pulau Kelapa, Jakarta, Tak Ada Biaya, Lumpuh

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments