Selamat Ulang Tahun Ibu Kota

Selamat Ulang Tahun Ibu Kota

Jakarta, Ibu Kota Negara Indonesia yang dulu bernama Jayakarta dan Batavia terus berbenah. Tentu masih banyak kekurangan, namun di ulang tahun yang ke-490 ini banyak perubahan dan tempat baru yang jadi perbincangan warga. Dua di antaranya Jakarta Creative Hub dan RPTRA Kali Jodo.

 

Kamis, 8 Juni 2017 sore, kantor Jakarta Creative Hub (JCH) di lantai 1 Grha Niaga Thamrin Jakarta terasa agak sepi. Lucky Naftali, Koordinator JCH menjelaskan, hari itu memang tidak ada agenda seminar, pelatihan atau semacamnya. Kegiatan konsultasi dan workshop baru mengular mulai 9 dan berlanjut pada 15, 16, 17 Juni.

Namun bukan berarti tak terlihat aktivitas para pengusaha muda di dalamnya. Kesibukan terasa berderap saat Lucky mengajak menengok bilik-bilik co-office di bagian belakang.

Di ruangan nomor 6 yang bertulis ’Alima Studio’ misalnya, sekelompok anak muda terlihat obrolan seru penuh canda. Rupanya duo sahabat pemilik Egglustration, Alif dan Ismi sedang bertandang ke markas Hendry Winata dan Michael, pemilik Alima Studio. Mereka saling bertukar ide dan menjajagi kemungkinan bekerjasama.

Egglustration merupakan usaha kreatif di bidang gambar ilustrasi. Sejauh ini mayoritas pesanan untuk kado berbagai momen penting. Sementara Alima Studio adalah sebuah perusahaan rintisan di bidang arsitektur dan desain interior.

Hendry Winata bercerita, Alima Studio yang diambil dari ukuran kertas putih (A5) dia rintis bersama beberapa sahabat satu jurusan di Universitas Taruma Negara. Sempat bekerja di perusahaan arsitektur, mereka memutuskan mundur dan menyeriusi proyek yang kerap mereka kerjakan bersama.

Sejak itu, makin panjanglah daftar portfolio Alima Studio. Mulai dari rumah tinggal, ruang apartemen, hingga bangunan fisik beberapa apartemen di Tangerang Selatan dan Semarang, Jawa Tengah.

Sempat bermarkas di rumah salah satu sahabat, Hendry bersyukur Alima Studio lolos seleksi untuk menempati co-office di JCH. Pasalnya setelah berkeliling mengecek co-working space dan ruko, harga sewanya cukup tinggi.

”Puji Tuhan dapat gratis 6 bulan hingga maksimal satu tahun. Bisa sambil merancang berbagai strategi usaha, berpromosi dan nabung untuk nanti nyewa kantor baru,” syukur Hendry.

Berpindah ke sudut ruang nomor 1, kesibukannya lain lagi. Meski sederet busana cantik tergantung rapi di depan kaca dengan sorot lampu terang, ruangan di dalamnya terlihat belum tertata. Seorang pria tampak sibuk mengukur dinding dan kaca untuk menempel nama. Sementara beberapa wanita hilir mudik membawa beberapa barang perlengkapan.

Monique, pemilik lini Soe Jakarta bercerita, ini hari pertama mereka menempati co-office di JCH. Ia mengenal JCH saat mendapat undangan perbincangan mengenai sustainable fashion yang diselenggarakan saat ada kunjungan Ratu Swedia beberapa waktu lalu.

”Kebetulan saya sedang merintis usaha fesyen Soe Jakarta yang kami launching pada Jakarta Fashion Week 2015. Jadi waktu itu sempat keliling dan langsung tertarik bagaimana caranya ikutan co-office. Eh ternyata mereka lagi buka pendaftaran. Aku masukin company profile dan business plan lalu dipanggil interview dan kita presentasi. Alhamdulillah lolos seleksi,” syukur Monique.

Menampilkan busana dengan berpaduan tenun dan beberapa kain daerah, Monique mengatakan Soe Jakarta memang sebuah label untuk mengeksplorasi kain tenun Indonesia. Ia berharap kecantikan kain-kain Indonesia yang menjadi elemen penting dalam busana karyanya dapat mencuri perhatian dunia internasional. Selebihnya ia ingin menjalin kerjasama dengan ibu-ibu rusun binaan JCH.  

Semoga Dijaga dan Diperbanyak

Bergerak ke bagian belakang, di sebuah ruang rapat yang merupakan sudut titik temu dari co-office nomor 1-6 dan 7-12 beberapa orang dengan laptop di hadapan masing-masing nampak terlibat diskusi seru. Beberapa saat kemudian keluarlah seorang pria berkacamata yang terlihat familiar. Dialah Iwet Ramadhan, seorang penyiar, presenter, penulis dan pegiat sosial. Rupanya Iwet menjadi bagian dari tim yang sedang menyiapkan sebuah proyek bernama Jkt Creative.

Jkt Creative atau Jakarta Creative adalah sebuah brand yang diciptakan untuk melabeli produk-produk khas Jakarta. Harapannya dapat menjadi pilihan oleh-oleh dari Ibu Kota. Peresmian gerainya di Senayan City dilakukan bertepatan perayaan ulang tahun Jakarta.  

”Ide awalnya karena Jakarta tidak pernah punya souvenir yang bagus. Setuju? Kalau orang ke Jakarta, coba mau beli oleh-oleh apa dan di mana? Ada replika Monas dan bajaj tapi itu hanya pajangan, mungkin sebagian orang merasa kurang berdaya guna. Akhirnya terpikir untuk membuat sesuatu. Nah seiring dengan itu kami teringat pada orang-orang di rusun yang sebenarnya punya skill,” cerita Iwet.

Pertanyaannya, kata dia, barang-barang buatan warga rusun ini berkualitas atau tidak? Jangan sampai orang membeli hanya karena kasihan. Jadi pastinya harus dibina dan dikurasi.

”Pertimbangan selanjutnya adalah tumbuhnya para entrepreneur muda. Banyak orang ingin membuat souvenir dan sebagainya, tapi problemnya tidak punya modal. Kalaupun sudah membuat produk, ketika dititipkan ke toko, potongannya 40%, kecekik nggak? Begitu dipotong 40 % mereka dapat apa?” tanyanya mengajak merenung.

Begitulah kemudian ide untuk membuat Jkt Creative makin mengerucut. Iwet dan tim segera menggandeng berbagai pihak yang dapat mendukung misi yang bermuatan sosial ini. Menggembirakan, baru woro-woro saja, ada seorang desainer yang datang menawarkan diri.

”Dia bersedia membantu desain-desain produk namun tak dapat memproduksinya. Kami lalu bekerjasama dengan para perajin di Kemang. Alhamdulillah akhirnya mereka yang produksi, dijual di tempat kita. Itu kan sudah bisa disebut gotong royong. Jadi Jkt Creative adalah kolaborasi orang-orang Jakarta,” tegas Iwet.

Sementara para warga rusun dipertemukan dengan para desainer dan pelaku usaha kreatif. Sebutlah pemilik brand Sejauh Mata Memandang, Chitra Subiyakto yang sudah berlangganan pada ibu-ibu pembatik di rumah susun (rusun) Marunda.

”Adrian sudah mulai bikin rajutan, nanti Mel Ahyar mau bikin sulaman di Pesakih. Sementara Stella Risa sanggup mengajari jahit di Tambora. Mereka itu sudah on board. Yang masih penjajagan adalah Obin,” ungkap penulis Cerita Batik ini.

Supaya kian meriah, Iwet juga mendorong pengusaha muda lain untuk turut andil. Di antaranya para perintis usaha kreatif yang menempati co-office di JCH.  

”Alima Studio misalnya membantu desain toko di Senayan City. Nantinya akan masuk produk dari Bits and Bobs berupa tas-tas menarik, Offset bersedia membuat tshirt unik, ada juga coklat dari Cocoa filt in. Pastinya semua harus memenuhi standart tertentu,” ungkap Iwet.

Seperti halnya keberadaan JCH, Iwet menyebut proyek Jkt Creative merupakan salah satu langkah merangkul orang-orang ternama dan berprestasi untuk bergotong royong mengembangkan rintisan usaha di Jakarta. ”Alhamdulillah, banyak orang baik yang bersedia membagikan ilmunya, kemampuannya dan jalannya,” syukur pria kelahiran 24 Juli 1981 ini.

Bagi Iwet, pekerjaan bermuatan aksi sosial semacam ini sangat menggembirakan. ”Ketika mengerjakan buku batik, ada tekad I have to do something (aku harus melakukan sesuatu, red). Karena aku melihat orang-orang di kampung, bagaimana mereka bekerja tanpa skill khusus, padahal mereka ini jika dilatih bisa menghasilkan sesuatu yang lebih. Orang Jakarta segini banyak, kalau ada yang memberikan skill dan jalan, pastilah bisa menjadi sesuatu. Sebenarnya potensi banyak tapi tidak ada yang menyulut dan menggabung-gabungkan,” katanya.

Iwet berharap kerja sosial yang telah dirintis, serta JCH yang merupakan kloningan dari Indoestri milik pengusaha muda Leonard Theosabrata dapat terus dilanjutkan meski berganti pemerintahan. Akan bagus juga menurutnya, jika tempat dan suasana yang sama dikembangkan di beberapa sudut lain Jakarta, juga beberapa daerah lainnya.

Teks: Christina Rahayu Lestari   I   Foto: Tari, Dok. Pri

Aktual, Ulang Tahun, Jakarta, Kreatif, Ibu Kota

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments