Depresi? Yuk Curhat!

    11 July 2017
Depresi? Yuk Curhat!

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebutkan di dunia setiap tahun 800 ribu orang bunuh diri. Di Indonesia setiap tahun 10 ribu orang bunuh diri atau satu orang bunuh diri per jam. Bunuh diri menjadi penyebab utama kedua kematian pada usia 15-29 tahun. 

 

”Bunuh diri tidak selalu disertai gangguan jiwa, tetapi depresi berat berisiko terjadinya bunuh diri. Hal terburuk dar depresi adalah bunuh diri,” ujar psikiater Nova Riyanti Yusuf dalam seminar Beware of Depression di auditorium Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, belum lama ini.

Nova melakukan penelitian mengenai masalah emosional pada murid sekolah menengah atas di Jakarta Selatan. Faktor usia, gender, jenis sekolah menentukan problem emosional. Dari data, wanita cenderung mengalami masalah emosional. Problem emosionalnya empat kali lipat dari pria.

Kemudian Nova mencontohkan selebriti dunia Chris Martin dan John Legend. Istri mereka mengalami depresi postpartum (pasca persalinan). Sementara Heath Ledger pemeran The Joker dalam film Batman: The Dark Knight yang ternyata mengalami depresi dan bunuh diri pada usia 28 tahun.

”Kita tidak punya imunitas. Tidak ada vaksin. Tidak bisa dirumuskan misalnya kalau suami kaya dan ganteng tidak depresi,” kata Nova.

Pada tahun 2000 WHO memposisikan gangguan depresif di urutan keempat penyakit di dunia. Diperkirakan jumlah penderita gangguan depresif semakin meningkat dan akan menempati urutan kedua penyakit di dunia pada 2020. Begitu mendesaknya masalah depresi ini sehingga setiap tanggal 10 September diperingati sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia (World Suicide Prevention Day).

Sejalan WHO yang mengangkat tema global Depression: Let’s Talk, Kementerian Kesehatan mengangkat tema nasional Depresi: Yuk Curhat! untuk menekankan pentingnya upaya memahami lebih dalam tentang depresi agar dapat menemukan cara menanggulangi, serta pentingnya dukungan bagi orang-orang yang mengalami depresi dengan menemani dan menyemangati, dan mendengarkan tanpa menghakimi.

Bicara melepas ketegangan. Manusia membutuhkan kesempatan untuk membicarakan perasaan yang kuat yang mungkin perlu dibicarakan dengan orang asing (orang yang berada di luar lingkaran keluarga atau pertemanan), misalnya psikolog karena masalah kerahasiaan yang dirasa malu. Stigma terhadap depresi harus dikurangi. Masyarakat harus lebih peka terhadap tanda dan gejala depresi. Setiap orang perlu bicara tentang depresi secara terbuka dan dewasa, peka terhadap tanda dan gejala agar bisa mendapatkan bantuan layanan kesehatan jiwa.*

Teks: Siti Afifiyah   I   Foto: pixabay, Dok. Pribadi

Depresi, Bunuh Diri, Wanita, Wanita Indonesia, Curhat, Nova Riyanti Yusuf

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments