Bersama Anak Berkebutuhan Khusus, Eko Setiyoasih: Lebih Tenang dan Berarti

Bersama Anak Berkebutuhan Khusus, Eko Setiyoasih: Lebih Tenang dan Berarti

Perjalanan Eko Setiyoasih selama tujuh tahun ini untuk anak berkebutuhan khusus tak selalu mulus. Mulai dari mendapat cemooh sampai kesulitan mengurus perizinan sekolah yang rumit.

 

”Orang tua yang daftar ke sini selalu lihat kondisi rumah. Ada yang bilang, ’Masa dirikan sekolah nggak ada terapisnya?’ Ya, karena semua saya yang lakukan. Kadang orang berpikir ijazah penting buat terapisnya. Kalau di tempat saya memang seperti ini. Ada yang latar belakangnya SMA tapi mau membantu ya saya ajari, alhamdulillah ada juga yang sarjana PLB.” Jelas Eko.

Eko bahagia banyak anak yang sudah bisa memenuhi kebutuhannya seperti ke toilet atau menjemur baju. Ia juga senang anak keduanya, Drajad Dadang Iskandar, 21 tahun, ikut membantunya mengajar. Begitu juga si bungsu Harganingtyas Estin Marcellina Putri Zam Zam yang baru berusia 15 tahun bantu mengajar menari. Mereka sudah terbiasa dengan para ABK sejak masih kecil.

Aktivitas Eko sudah dimulai sejak pukul 03.00 WIB dengan memasak 9 liter beras untuk anak-anak istimewanya. Untuk memudahkan, ia selalu membuat jadwal berbagai jenis makanan yang akan disajikan setiap harinya selama seminggu. 

Setelah itu, anak bungsunya bantu mengurus ABK yang belum bisa mandi sampai memakai baju. Pukul 06.30, guru mulai berdatangan, Eko pun berangkat magang mengajar di SLB Karanganyar dan menangani 8 anak autis. ”Saya masih niat magang karena ingin menyelamatkan anak-anak saya biar nanti mereka bisa ikut ujian gabung di SLB itu,” terangnya.

Pulang mengajar, Eko sempatkan bercengkerama dengan putri sulungnya. Setelah itu ia baru mengurus para ABK dan bertanya pada guru-guru tentang kegiatan atau masalah yang mereka hadapi hari itu.

Mendedikasikan hidupnya untuk para ABK membuat hidup Eko terasa lebih tenang dan berarti. Mereka, lanjut Eko, butuh kita. Bagaimanapun juga mereka anugerah Allah yang harus disayangi.

”Saya yakin kalau kita tulus, mereka akan bawa kita ke surga. Jika ada yang nggak bisa apa-apa, jalani dengan senyum aja. Jangan ada marah atau terpikir uang. Kalau mau kaya, jangan layani  mereka,” tegas Eko.

Melihat mereka tersenyum, nyaman dengannya dan jadi bisa baca tulis membuat Eko terkesan. Apalagi bisa merawat mereka sampai sehat.

”Apalagi kalau diajak pentas menari, betapa cerianya mereka. Orang ada yang menganggap tempat ini tidak ada artinya, tapi tempat kecil ini justru jadi istana untuk mereka,” ujar Eko sambil tersenyum.

Mengejar Izin Dirikan Sekolah

Selama ini SLB Anugerah baru mendapat izin beroperasi dari Dinas Sosial. Eko terus berusaha agar segera mendapat izin dari Dinas Pendidikan, namun masih terbentur berbagai persyaratan.

Harus memiliki tanah sendiri dan gedung sendiri menjadi beberapa syarat yang harus dipenuhi Eko Setiyoasih untuk mendapatkan izin dari Dinas Pendidikan. Untuk itu, ia berharap ada yang bermurah hati mewakafkan tanahnya untuk para ABK belajar dan mencukupi fasilitas mereka.

”Makanya didirikan dari 2010 sampai sekarang belum ada izin. Walau saya sudah diundang presiden dan dapat penghargaan tapi belum ada izin kecuali dari Dinas Sosial untuk asramanya,” jelas Eko.

Namun Eko tak menutupi jika ada orang tua yang mendaftar ia katakan SLB-nya belum mendapat izin dari Dinas Pendidikan. ”Kalau ada yang bersedia memberikan tanah dan bangunan, saya pengin sekali melayani anak-anak yang dikategorikan dari SLB sudah lulus SMA untuk terus melatih kemandirian mereka,” ungkapnya.

Tapi itu tak membuatnya patah semangat. Apalagi belum lama ini Gubernur Jawa Tengah datang meninjau SLB Anugerah.

”Alhamdulillah tanggal 9 Juni lalu Pak Ganjar Pranowo datang ke sekolah kami. Beliau juga tercengang ternyata di daerah sini ternyata ada anak-anak istimewa yang belum diakui. Beliau bilang mau bantu mengurus perizinan,” kata Eko senang.

Dengan berbagai keistimewaan yang dimiliki para ABK, Eko tetap mengajari berbagai hal agar mandiri, tahu etika, dan bisa bersosialisasi. Mereka juga diberi pembekalan hidup dengan keterampilan membuat bros, sabun dan sebagainya.

”Akademik itu nomor sekian. Ada orang tua yang belum bisa menerima kondisi anaknya dan selalu menanyakan akademik anaknya. Padahal yang utama bukan itu. Setelah mandiri baru diajari akademiknya,” tegasnya. *

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Dok. Pribadi