PMI DKI Jakarta: Menjiwai Panggilan Kemanusiaan

PMI DKI Jakarta: Menjiwai Panggilan Kemanusiaan

”Salah satu anggota staf Palang Merah sangat menyukai isu ’kebebasan informasi’. Di waktu kosongnya, ia mengisi halaman Facebook-nya dengan informasi-informasi sensitif, termasuk kritikan terhadap pemerintah. Apakah sikap ini dapat diterima?”

 

Begitu salah satu contoh kasus yang diungkapkan Aswi Reksaningtyas, Dewan Kehormatan PMI Jakarta Timur saat membawakan materi orientasi di hadapan sekitar 50 pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta, Senin, 17 Juli 2017.

Terjadilah diskusi seru. Salah satu peserta orientasi mengatakan, hal itu boleh saja selama pihak bersangkutan tidak membawa-bawa identitas sebagai salah satu bagian PMI. Sementara menurut peserta lain hal itu tidak dapat diterima. Apalagi jika di akun Facebook-nya pihak bersangkutan telah mengunggah beragam aktivitasnya sebagai salah satu bagian PMI. 

”Merespons sesuatu boleh saja, tetapi respons itu harus sesuai prinsip PMI. Kalau ada korban suatu kerusuhan massa misalnya, yang harus dilakukan adalah mengantisipasi korban yang membutuhkan ambulans atau pertolongan lainnya. Bukan menulis kalimat nyinyir dan menebar kebencian. Atau malah menimbulkan bias dan kesalahan persepsi dari orang lain,” E. Komalasari, Kepala Markas PMI Jakarta Timur, memberi pandangan.

Komalasari mengaku senang isu yang sedang hangat ini menjadi bahan diskusi. Jika masih saja terjadi, ia berharap para pimpinan mengambil langkah tegas. Sebab selain mencoreng nama PMI, sikap demikian tentu meresahkan dan mengundang konflik.

”Makanya saya selalu mengingatkan teman-teman. Kita ini orang PMI, kemana pun dan di manapun kita, pada saat terpuruk sekalipun orang tidak mau tahu. Yang orang tahu kita adalah orang PMI yang menjunjung prinsip kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan dan kesemestaan. Maka  bersikaplah sebagai orang PMI. Kalau mau menyampaikan kritik ya jangan di media sosial, kita punya tim yang sudah seperti keluarga kok,” imbuhnya mengingatkan.

Jangan Tersandera Sponsor

Prinsip-prinsip yang disebutkan Komalasari merupakan 7 prinsip dasar yang berkali-kali diingatkan pula oleh Annisa Marezqa, Cooperation Program Responsible International Committee Of The Red Cross (ICRC) Asia Pacific yang menjadi salah satu pemateri orientasi.

Dalam materinya, Annisa juga menyinggung sejarah gerakan kemanusiaan yang dipelopori tokoh Henry Dunant serta pemilihan lambang Palang Merah Indonesia yang disepakati dan dilindungi secara internasional. Maka lambang ini tak boleh digunakan sembarangan.

Sebab lambang tersebut merepresentasikan gerakan palang merah dan sabit merah internasional yang lahir dari keinginan membantu korban luka di medan perang tanpa membeda-bedakan. Dalam kapasitas internasional dan nasionalnya, harus selalu berupaya mencegah dan meringankan penderitaan manusia dimanapun berada. Tujuannya untuk melindungi jiwa dan kesehatan serta memastikan penghormatan terhadap manusia. Gerakan ini mempromosikan saling pengertian, persahabatan, kerja sama dan perdamaian abadi pada seluruh manusia.

Diskusi tak kalah seru ketika salah satu peserta menanyakan bagaimana menyikapi para penyumbang dana, partai politik misalnya, yang meminta logonya dipasang bersama lambang PMI. Kesepakatan berdasar prinsip dasar yang harus dipatuhi mengatakan, logo lembaga lain tak boleh melebihi lambang PMI.  

Mengingat tugas mulia nan berat di atas, Ketua PMI DKI Jakarta, Bapak Muhammad Ali Reza berpesan kepada seluruh pengurus PMI DKI Jakarta untuk mematuhinya. Langkah sederhana misalnya, bisa dibuktikan dengan mempersiapkan dengan baik segala agenda yang direncanakan. Sebab suksesnya suatu agenda menjadi tolok ukur tanggung jawab para pengurus dalam mengemban tugasnya.*

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Dok PMI

PMI, Donor Darah, PMI DKI Jakarta

Artikel Terkait

Comments