Gaji Naik = Tambah Kaya?

    27 July 2017
Gaji Naik = Tambah Kaya?

Banyak yang mungkin berpendapat bahwa untuk menjadi kaya maka harus punya penghasilan yang besar. Seperti dikutip dari buku Automatic Millionaire karangan David Bach, bahwa merupakan sesuatu yang salah jika Anda menganggap kunci untuk menjadi kaya adalah dengan menaikkan penghasilan, semakin besar penghasilan yang diterima seseorang, maka semakin kayalah ia.

Nyatanya, jika naiknya penghasilan tidak diimbangi dengan jumlah uang yang disisihkan untuk ditabung, apa iya akan membuat Anda menjadi kaya? Karena yang sering terjadi adalah semakin banyaknya penghasilan maka akan semakin banyak pula kebutuhan bersifat prestisius yang ingin dipenuhi.
     
Farah Dini Novita, Independent Financial Adviser, yang juga merupakan co-founder sebuah perusahaan konsultan keuangan bernama Janus, memaparkan bahwa menetapkan tujuan keuangan dan berkomitmen terhadapnya merupakan hal yang penting untuk dilakukan.
    
“Berapa sih yang harus kita sisihkan tiap bulan? Pertanyaan seperti itu seringkali muncul. Sekarang gini, adil nggak kalau misalnya gaji 10 juta disisihkan utk ditabung 10%, lalu saat gajinya naik jadi 30 juta persentase untuk ditabung tetap 10%? Makanya jangan pernah lagi pakai persentase, karena itu gak fair. Jadi yang perlu kita pikirkan adalah tujuan kita apa saja sih di masa depan, baik tujuan jangka pendek hingga jangka panjang. Dari situlah baru kita lihat berapa yang harus kita sisihkan setiap bulannya,” terang penulis buku FinChickUp yang akrab disapa Dini ini.

Sadar Diri
    
Selain menetapkan tujuan keuangan, hal yang juga tak kalah penting adalah menyadari kemampuan finansial diri sendiri. Menurut Dini, setiap orang tentu punya kemampuan finansial yang berbeda-beda. Jadi, fokuslah saja pada apa yang memang dibutuhkan dan apa yang memang sudah ditetapkan sebagai tujuan-tujuan keuangan, tidak perlu mengikuti gaya hidup orang lain.
    
Mengikuti gaya hidup saat ini sepertinya tidak akan pernah cukup. Apalagi jika kita melihat aneka postingan sosial media yang menceritakan hal-hal mewah gaya hidup yang membuat kita ingin memiliki atau mengalami hal serupa. Sebaiknya, Anda tidak serta merta menginginkan hal-hal atau barang yang belum tentu bisa Anda capai secara finansial. Tidak perlu juga memaksakan diri untuk bisa memenuhi gaya hidup tinggi jika ternyata memang penghasilan Anda belum mencukupi hal tersebut. Misalnya, saat tetangga membeli smartphone keluaran terbaru yang dijual terbatas alias limited edition dengan harga selangit, janganlah terpancing untuk ikut membeli hanya karena tak ingin kalah prestise.

Pertimbangkanlah matang-matang apakah smartphone itu dapat menjadikan diri Anda lebih baik, dalam artian dapat membuat pekerjaan Anda lebih ringan. Sementara banyak smartphone lain yang memiliki fitur yang sama namun tak perlu membuat Anda merogoh kocek terlalu dalam. Setelah mempertimbangkan hal-hal itu, masih perlukah Anda membeli smartphone limited edition dengan harga selangit itu?

Batasi Jumlah Cicilan

Seperti sudah membudaya, saat ini masyarakat Indonesia tampaknya tidak segan untuk berhutang demi mendapatkan barang idaman mereka. Apalagi saat ini sudah banyak juga perusahaan yang memberikan kemudahan bagi Anda yang ingin membeli barang dengan cara menyicil, dan jenis barang yang bisa dibeli dengan cara dicicil pun semakin banyak, bahkan barang seharga dibawah 100 ribu pun kini bisa dicicil.

Hal inilah yang terkadang membuat banyak orang terlena dan tanpa sadar jumlah tagihan hampir membuat penghasilan bulanan Anda ludes tak bersisa. Padahal menurut Dini, penting untuk memastikan jumlah cicilan tidak lebih dari 30% dari jumlah penghasilan bulanan Anda. Kembali lagi pada tujuan keuangan, jika jumlah cicilan hampir membuat penghasilan bulanan Anda lenyap tak bersisa, bagaimana Anda menyisihkan dana untuk keperluan jangka panjang? Bahkan mungkin untuk keperluan mendesak pun tidak akan ada.
    
Bukan hal yang salah jika setelah lelah bekerja, Anda ingin memanjakan diri dengan berbagai hal yang dapat menghibur hati. Menghabiskan sebagian uang untuk kebutuhan entertainment merupakan bentuk apresiasi pada diri sendiri yang sah-sah saja untuk dilakukan, asal tahu batasan. Namun masalahnya, batasan itu seringkali susah ditentukan karena memang tak kasat mata. Kalau begitu apa yang harus dilakukan? Dini mengatakan, hal yang dapat dilakukan adalah menyiasati budget.
    
“Kita bisa siasati, kalau biasanya minum kopi di café mahal yang harga 50 ribu, coba pindah minum kopi di tempat biasa yang harga kopinya cuma sekitar 10 ribu,” Dini memberi contoh.

-----------
Teks: Nydia Jannah
Foto: Istimewa

keuangan, feature, atur keuangan, gaji, naik, kaya

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments