Curahan Hati Istri Korban Pembakaran di Bekasi: Suami Saya Masih Manusia

Curahan Hati Istri Korban Pembakaran di Bekasi: Suami Saya Masih Manusia

Kematian Mohammad Alzahra, 30 tahun, akibat dibakar hidup-hidup karena diduga mencuri alat pengeras suara di sebuah musala di Bekasi membuat Siti Zubaidah yang sedang hamil 6 bulan ini tak sanggup menalar naas yang menimpa sang suami.

 

Siti Zubaidah duduk di tikar yang digelar di ruang tamu rumahnya di Kampung Jati RT 04/05 Desa Cikarang Kota, Cikarang Utara, Bekasi, Minggu 6 Agustus 2017. Ia mendengarkan pembicaraan ayahnya dan lima orang tamunya yang masih saudara, dua bapak-bapak dan tiga ibu-ibu.

”Kenapa mereka begitu jahat,” sesal seorang ibu.

”Imannya ke mana itu,” timpal ibu yang lain di sebelahnya.

”Sudah nggak ada imannya,” sambung seorang bapak.

”Orang dibakar malah disoraki. Astaghfirullah,” imbuh ayah Zubaidah.

”Mereka bukan manusia. Mereka iblis,” seorang ibu menanggapi.

Mendengar itu semua, Zubaidah lebih banyak diam. Kelelahan mendera jiwa raganya.

Tak lama kemudian datang tiga orang. Zubaidah bangkit menyalaminya. Seorang ibu memeluknya. ”Ini sedikit titipan dari hamba Allah,” kata ibu itu sembari memberikan amplop putih pada Zubaidah yang menerimanya dengan ucapan alhamdulillah.

Kemudian datang petugas dari Dompet Duafa mengantarkan kartu BPJS untuk Zubaidah dan anaknya. Petugas itu menyampaikan kemungkinan untuk bantuan pembiayaan pendidikan Alif kelak. Berikutnya muncul rombongan ojek online. Bersama ayah Zubaidah, mereka membaca doa tahlil di teras.

”Sejujurnya dalam hati kecil, saya yakin tidak percaya, sekhilaf-khilafnya, sebutuh-butuhnya, itu musala. Kalau mau ngomong kasar, ampli berapa sih harganya? Kalau butuh duit masih ada barang yang bisa dijual, Rp 200-300 ribu dapat. Feeling saya, dia nggak mencuri. Secara logika nggak masuk akal. Tetangga saja nggak percaya. Suami saya bukan binatang. Biar bagaimanapun suami saya manusia. Saya minta keadilan,” bisik Zubaidah.

Meski diucapkan dengan suara pelan dan tatapan mata layu, Zubaidah tak terima suaminya diperlakukan secara keji. Dikejar, dikeroyok, digebuk, dilempari balok kemudian dibakar hidup-hidup karena diduga mencuri amplifier atau perangkat penguat sinyal suara di musala Al-Hidayah di Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.

Akibat kematian suaminya, Zubaidah yang sedang hamil 6 bulan seketika menjadi janda. Alif Saputra anak pertamanya berusia 4 tahun mendadak yatim.

Berikut ini curahan hati Siti Zubaidah, 25 tahun, di antara kesibukannya menerima tamu dari berbagai kalangan yang dikenal maupun tidak dikenal yang tak henti datang dari pagi sampai malam untuk menyampaikan simpati dan bantuan.

Disayangi Mertua

Baru tiga bulan kami tinggal di rumah kontrakan di sini. Sewa perbulannya Rp 550 ribu. Sebelumnya kami mengontrak di Bogor, cuma satu kamar, sewanya mahal, tak ada ruang untuk bengkel service. Alhamdulillah di sini harga sewanya terjangkau, ada dua kamar, dapur dan teras yang digunakan suami saya untuk bengkel service.

Itu di teras tumpukan rangka box besar untuk sound system pesanan orang. Belum sempat diselesaikan, suami sudah meninggal. Bisa dibilang di sini ia sedang merintis usaha itu. Alhamdulillah ada kemajuan. Pesanan lumayan banyak.

Pekerjaan suami ya seperti itu, reparasi elektronik, termasuk jual beli ampli bekas, memperbaikinya, menjualnya kembali. Ada pelanggan yang datang ke rumah, ada juga yang membeli lewat online.

Suami tidak mau menerima uang muka untuk barang pesanan yang belum jadi. Takut uang terpakai sementara barang belum beres akan mengecewakan konsumen. Tanggung jawabnya besar.

Orangtua tinggal di belakang kami, rumah kontrakan juga. Kami pernah tinggal bersama orangtua, tapi kami ingin mandiri, makanya kami mengontrak rumah ini. Ayah ibu sangat menyayangi suami. Ayah suka membanggakan di depan orang-orang, betapa menantunya membawa pengaruh baik buat saya, anaknya.

Suami membuat saya yang tomboy jadi feminin dengan busana muslim. Suami mengerti agama. Ia lulus sekolah menengah pertama, sempat belajar di pesantren di Bogor. Sedangkan saya sekolah dasar tidak tamat, cuma sampai kelas tiga. Saya buta agama, buta segala-galanya, belum bisa mengaji. Suami yang mengajari saya salat.

Ibu sangat kehilangan. Mereka dekat. Suami sering minta makan pada ibu. Orangtua suami tinggal di Bogor. Waktu tinggal bersama ibunya, suami membuat donat dan dititip jual di warung-warung. Dia kreatif. Mereparasi barang elektronik juga belajar otodidak, suka memperhatikan pekerjaan orang di bengkel lalu utak-atik sendiri dan bisa.

Dari kakaknya, saya tahu suami dari kecil rajin bekerja, mau bekerja apa saja yang penting halal. Jadi kuli angkut di pasar, upahnya seliter beras dibawa pulang untuk ibunya. Ibu kandungnya sudah meninggal. Bapak tirinya kurang sayang padanya. Bisa dibilang suami itu kurang kasih sayang. Orangtuanya bercerai. Makanya begitu ketemu saya, ia langsung mengajak menikah.   

Kami menikah tahun 2012. Anak pertama kami, Alif Saputra, bulan sebelas nanti genap 4 tahun. Alif sangat dekat ayahnya. Ia memanggilnya Abi. Mereka sering tidur bareng di ruang tamu di depan teve, sedangkan saya tidur di kamar. Alif suka ditepuk-tepuk dan dielus-elus punggungnya sebelum tidur.

Alif belum mengerti abinya meninggal. Saya tidak kuat mengantarkan suami ke pemakaman. Saya menunggu di rumah. Alif ikut ke pemakaman. Ia heran kenapa abinya tidur di dalam tanah. Alif terus menanyakan abinya. Ia gelisah, sulit tidur.

Kepala saya sering nge-blank memikirkan kejadian ini. Banyak yang menasihati agar saya tidak terlalu keras berpikir, suami sudah diurus, kasihan anak yang ada di kandungan. Alhamdulillah sekarang saya sudah bisa makan. Kemarin-kemarin tidak bisa menelan nasi. Kami sempat merencanakan mau USG untuk mengetahui jenis kelamin adik Alif, tapi belum terlaksana.

Kuat Beragama

Waktu kejadian, Selasa 1 Agustus 2017, tak ada sesuatu yang janggal. Suami saya bilang, ”Neng, berangkat ya, doakan abi selamat, dapat duit.”

Ia juga pamit pada ibu saya. Ibu menawarinya makan, tapi ia tidak mau. Suami pergi dengan motor sewaan. Dia punya motor tapi sedang rusak. Hari itu ayah menyewa motor sehari Rp 15 ibu. Ayah memakainya dari pagi sampai siang.

Setelah zuhur, motor itu dipakai suami. Ia berkeliling mencari barang, menawarkan jasa perbaikan barang. Kadang ke Cileungsi, kadang ke Jakarta. Dengan cara itu suami menafkahi keluarga ini. Sementara saya ibu rumah tangga, di rumah saja.

Saya tidak tahu pasti rute jalan yang ditempuh suami dari hari ke hari. Tapi, kebiasaan suami memang ketika waktu salat tiba, ia akan mampir ke musala atau masjid yang kebetulan dilewatinya.

Suami tidak punya utang. Anak kami belum sekolah. Tidak ada sesuatu yang mendesak yang membuatnya harus mencuri. Di musala? Suami saya mengerti agama. Agamanya kuat.

Saya membaca tulisan macam-macam tentang suami saya di internet. Ada yang bilang ada lafal Allah di wajahnya. Entahlah apa itu benar. Tapi, semoga itu pertanda baik untuknya. Meyakinkan saya bahwa suami bukan pencuri. Ia sedang mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya.

Seandainya pun suami saya mencuri, tidak seharusnya ia diperlakukan seperti itu. Suami saya masih manusia.

Saya tidak sanggup melihat video yang mempertontonkan kekejian manusia-manusia yang ditimpakan pada suami. Saya tahu kabar suami dari polisi pada malam di hari kejadian. Polisi menjelaskan sebab musababnya.

Saya membuat laporan ke Polres, berharap polisi sungguh-sungguh mengusut siapa yang telah menganiaya dan membakar suami. Cukup suami saya. Semoga hal seperti itu tidak terjadi pada orang lain.

Banyak yang datang ke rumah, keluarga, sanak saudara, teman, orang-orang yang saya tidak kenal. Mereka berdoa untuk suami, menguatkan saya, memberikan bantuan yang sangat berarti di tengah situasi yang berat ini.

Saya tidak bekerja. Belum terbayang bagaimana nanti ke depan. Alhamdulillah. Terima kasih pada semua pihak yang menaruh perhatian pada keluarga kami. Allah Swt akan membalas semua kebaikan yang telah mereka berikan pada kami. *

Teks: Siti Afifiyah   I   Foto: Siti Afifiyah dan Dok. Pribadi