Rohani Dg Tene Naik-turun Gunung Tandu Wanita Hamil

Rohani Dg Tene Naik-turun Gunung Tandu Wanita Hamil

Rohani Dg Tene bersama suaminya adalah penggarap ladang. Namun ia begitu tulus dan peduli terhadap ibu hamil yang akan melahirkan. Menggunakan tandu darurat, ia mengantarnya turun gunung menuju puskesmas. 

 

Rohani hidup di Dusun Bangkeng Batu, Desa Pao, Kecamatan Tamaona, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Bahasa lokal Bangkeng Batu berarti juga kaki batu. Disebut demikian sebab wilayahnya berada di lereng gunung yang dihiasi bebatuan dan pastinya menanjak.

Hanya ada jalan setapak untuk mencapai desa dengan pemandangan kebun sayuran dan palawija ini. Bagian tertentu jalan setapak itu disambung sebuah jembatan bambu dengan pemandangan sungai dan lereng curam di bawahnya. Jangankan motor dan mobil, sepeda saja tak dapat digunakan untuk melintasinya.

Lantas bagaimana mencapai jalan raya menuju wilayah agak kota? ”Ya jalan kaki,” jawab Rohani Dg Tene seraya tertawa lebar. Berapa lama? ”Dua jam saja,” sambungnya santai.

Di dukuhnya, Rohani termasuk yang paling sering ’turun gunung’ melakukan jalan kaki dua jam itu. Bukan jalan santai tentunya, sebab ada ibu hamil yang berkali-kali merintih kesakitan hendak melahirkan.   

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana membawa ibu hamil yang kesakitan di jalan setapak? Jawabnya: Dengan tandu!

Namun jangan bayangkan tandu itu bergagang besi dengan alas nyaman. Tandu yang digambarkan Rohani benar-benar darurat. Dirangkai dari dua kursi plastik yang dibuat berhadapan dengan penyambung tongkat bambu atau kayu.     

Suami si ibu hamil serta keluarga dan tetanggalah yang bertugas mengangkat tandu itu selama kurang lebih dua jam menuju jalan raya. ”Kalau kekurangan orang, ya suami dan anak saya turut membantu,” imbuh wanita 48 tahun ini.

Selanjutnya ibu yang akan melahirkan dibawa dengan sepeda motor atau mobil selama setengah jam menuju Puskesmas Tamaona. Rohani akan terus mendampinginya hingga bayi lahir.

”Paling cepat satu malam, tapi terkadang bisa sampai dua malam. Jadi saya menemani sepanjang dua malam itu lalu mengantarnya pulang ke rumah lagi,” ungkap Rohani.

Terkadang tak cukup dua hari dua malam. ”Suatu kali pernah sampai tiga malam saya menginap di puskesmas karena menyusul ada ibu hamil lain yang harus dijemput. Jadi ya lanjut,” kisah Rohani tanpa kehilangan senyumnya.

Itu belum jika ada masalah, sebutlah pendarahan, kehabisan ketuban atau kasus lain yang tak dapat ditangani dengan fasilitas puskesmas. Rohani tetap mendampingi ke rumah sakit di Gowa, sekitar 3 jam perjalanan dengan mobil dari Tamaona. Jika itu terjadi waktu pendampingannya akan jadi lebih panjang.

Persalinan ke-13

Bukan itu saja persoalannya, rata-rata keluarga di dusunnya tak punya banyak uang. Meski mungkin biaya rumah sakit ditanggung BPJS atau surat keterangan miskin, tetap dibutuhkan banyak uang untuk membayar transportasi, membeli makan dan sebagainya. Karenanya Rohani selalu berdoa bagi kelancaran persalinan para ibu yang didampinginya.  

”Pernah ada ibu yang melahirkan anak ke 13, petugas puskesmas sempat bilang akan dirujuk ke rumah sakit di Gowa. Keluarga yang tak punya biaya dan juga tidak terbiasa dengan rumah sakit, panik. Bagaimana harus ke melahirkan rumah sakit yang semakin jauh? Kakaknya si calon bayi saja masih kecil-kecil,” tiru Rohani.

Keluarga yang nyaris putus asa meminta Rohani turut mendoakan. ”Saya pegang perutnya dan mengajak berdoa. Saya bilang Allah Maha Kuasa, insyaAllah lahir dengan normal di sini. Benar, sekitar 2 jam kemudian lahir di puskesmas itu. Sebagai ucapan terima kasih mereka kasih saya uang Rp 50 ribu,” lanjutnya tersenyum lagi.

Jangan ditanya imbalan yang diperoleh Rohani. Hanya sesekali dia menerima imbalan uang. Selebihnya ada beragam ungkapan terima kasih dari keluarga ibu hamil yang ditemaninya melahikan. 

”Ada seorang ibu hamil dari Langkoa, sekitar 2 jam jalan kaki lagi dari tempat saya, melewati hutan pinus. Pulangnya saya antar naik ke rumahnya di gunung, sekitar 4 jam jalan kaki dari ujung jalan puskesmas. Sampai di sana saya tinggal bantal dan kursi saya yang dipakai untuk tandu, sebab di rumahnya tidak ada apa-apa. Mereka lalu kasih saya madu dua botol. Katanya ini tanda terima kasih,” kenang Rohani, matanya menerawang.

Kalau kursinya habis diberikan pada tetangga, bagaimana untuk tandu selanjutnya? ”Kalau ada rezeki kami bisa cari lagi. Atau pinjam dari tetangga lain yang punya,” jawabnya ringan.

Begitulah kata Rohani, indahnya persaudaraan di desa. Aktivitasnya sebagai relawan kesehatan memang tidak membuatnya kaya harta, namun kian banyak saudara. Itu sudah cukup membuat Rohani bahagia.

Dua tahun belakangan atas perannya membantu pemerintah mempersuasi para ibu untuk melahirkan di puskesmas Rohani diupah Rp 75 ribu per bulan dari anggaran desa.

Yang terbaru, Rohani diganjar penghargaan ’Heroines of Health’ oleh GE Healthcare. Rohani satu-satunya wanita Indonesia dalam penghargaan perdana yang diberikan pada 13 perempuan pejuang kesehatan dari 11 negara ini.

’Heroines of Health’ adalah hadiah untuk upaya tak kenal lelah yang dilakukan para wanita untuk meningkatkan kesehatan di komunitasnya. Salah satunya turut mengurangi angka kematian ibu dan anak.

Data Kementerian Kesehatan RI 2016 mencatat, angka kematian ibu karena kehamilan, melahirkan dan nifas masih mencapai lebih dari 4900 kasus. Meski tidak besar, terjadi penurunan angka di beberapa wilayah. Salah satunya tentulah berkat kegigihan relawan kesehatan seperti Rohani.

Sebab analisis kematian ibu yang dilakukan Direktorat Bina Kesehatan Ibu pada tahun 2010 membuktikan bahwa kematian ibu terkait erat dengan penolong persalinan dan tempat/fasilitas persalinan.

Persalinan yang ditolong tenaga kesehatan terbukti berkontribusi terhadap turunnya risiko kematian ibu. Demikian pula dengan tempat/fasilitas, jika persalinan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan, risiko kematian ibu dapat diantisipasi.

Pakai Bilah Bambu

Mendengar perannya turut membantu mengurangi angka kematian ibu dan anak sebenarnya cukup bagi Rohani. Ia merasa senang, bangga dan tentu saja bersyukur. Eh sekarang dapat penghargaan internasional, harus diterima di Jakarta pula! Dia bisa mengunjungi ibu kota yang belum pernah dilihatnya hingga berusia hampir setengah abad.

Lagi-lagi dengan tawa dan bicaranya yang polos Rohani mengatakan, benar bahwa ini kali pertama dia ke ibu kota. ”Kemarin sudah jalan-jalan ke Monas segala,” ceritanya riang usai menerima penghargaan pertengahan Juli lalu.  

Sekali lagi Rohani menekankan tak menyangka bakal mendapat penghargaan semacam ’Heroines of Health’. Bahkan istilah dalam bahasa Inggris ini terdengar asing baginya yang berijazah SMP.

Rohani mengenang, ia mulai aktif menjadi relawan kesehatan sejak penghujung 90-an, sekitar setahun setelah anak keempatnya meninggal. Seperti semua wanita di desanya, seluruh persalinannya kala itu dibantu dukun.

Salah satu dari banyak hal yang dinilai tak sehat oleh para tenaga medis adalah pemotongan tali pusat menggunakan sebilah bambu. Bahkan tanpa disterilkan dengan alkohol.

Rohani tak dapat memastikan apakah kematian anaknya di usia 24 hari berhubungan dengan itu. Namun begitu ia mengandung ke lima kalinya, Rohani mulai menerima informasi kesehatan. Bahkan para dukun di wilayahnya mulai difasilitasi peralatan kesehatan dari puskesmas.

”Sehingga mereka tidak lagi menggunakan campile, begitu kami menyebut sebilah bambu untuk memotong tali pusat,” jelas Rohani.

Perlahan kampanye kesehatan berkembang, ibu hamil dianjurkan kontrol kesehatannya di posyandu dan melahirkan di puskesmas. Dibekali kaos relawan kesehatan Rohani diminta mempersuasi warga melakukan hal tersebut.

Begitulah aksi sosial Rohani dimulai. Tak selalu mulus, bahkan di awal tak sedikit yang menolak sarannya. Salah satunya mertua seorang wanita berusia sekitar 25 tahun.

”Ceritanya ia sudah 7 tahun menikah baru dikaruniai kehamilan. Nah jelang kelahiran katanya dia sudah lima hari sakit perut, tapi saya tidak tahu. Ketika saya mendengar kabar langsung ke sana. Pagi-pagi saya menjumpai keluarganya, saya bilang lebih baik diantar ke puskesmas, aman dan banyak tenaga serta peralatan medisnya. Namun mertua menghalangi, katanya, tidak ada riwayat keluarganya yang melahirkan di puskesmas,” kisahnya.

Rohani tak bisa memaksa, hanya meminta keluarga berunding dan memikirkan keselamatan si ibu dan bayi. Ia mengatakan menunggu keputusan hingga pukul 5 sore.

”Lalu sekitar jam setengah lima ada adiknya yang datang ke rumah saya, katanya minta diantar ke puskesmas. Segera kami siapkan tandu, berjalan kaki hingga sekitar jam 7 malam. Lahir dini hari,” lanjut Rohani bersyukur.

Kini makin banyak warga yang telah sadar. Maka tak jarang Rohani disusul ke ladang untuk menemani para ibu melahirkan.

Sebenarnya masing-masing dukuh ada relawan seperti dirinya, namun entah mengapa Rohani yang lebih sering diminta menemani. Bahkan oleh para ibu dari tetangga dukuh yang masih harus berjam-jam jalan kaki jauhnya dari rumah Rohani.

”Saya sih senang saja bisa membantu. Alhamdulillah suami dan anak-anak tak masalah sering saya tinggal beberapa hari. Mereka bisa masak sendiri kok,” pungkasnya sambil tersenyum.*

Teks & Foto: Kristina Rahayu Lestari, Istimewa