Bantu Sesama, Rohani Dg Tak Peduli Jasanya Tidak Diingat

Bantu Sesama, Rohani Dg Tak Peduli Jasanya Tidak Diingat

Terlihat beberapa petugas puskesmas turut menemani Rohani menerima penghargaan. Salah satunya Bidan Wina yang telah 17 tahun mengenal Rohani. 

 

Bidan Wina mengenang, ia ditugaskan sebagai pegawai tidak tetap (PTT) dari Palopo ke Puskesmas Tamaona pada tahun 2000. Perjumpaan mereka pertama kali terjadi dalam pertemuan petugas kecamatan dengan para relawan.

Waktu itu di Tamaona ada tiga bidan yang bertugas melayani 9 desa. ”Kalau hanya kami, tangannya pastilah tidak sampai. Apalagi untuk membelah diri ke-35 dusun, mempersuasi masyarakat. Jadi peran relawan tentu sangat membantu,” terang Wina.

”Seperti diceritakan Bu Rohani, dulu banyak warga desa yang melahirkan di rumah tanpa pengawasan tenaga medis. Kemudian banyak kasus seperti tidak keluar plasentanya, berdarah-darah, bahkan ada yang sampai meninggal di rumahnya,” imbuh Wina. 

Wina bersyukur sekarang banyak hal lebih baik di Puskesmas Tamaona. Selain bangunan puskesmas yang telah dikembangkan dengan kamar-kamar perawatan, ada tenaga sukarela dari anak-anak setempat yang sedang mengambil pendidikan kesehatan. ”Belum lama ini ada tambahan dua perawat dan dua dokter,” syukurnya.

”Dulu bisa dibayangkan bagaimana kewalahannya kami. Bidan bahkan tidak hanya menangani ibu hamil dan melahirkan tapi juga pasien sakit lainnya,” lanjut Wina. 

Yang tak kalah menggembirakan dan membuat Wina bersyukur tentulah penghargaan yang diterima Rohani. Apa yang membuat Rohani spesial? ”Ketulusannya!” seru Wina.

”Beliau tidak mengenal yang namanya facebook dan media sosial lainnya. Kan sekarang lagi tren, habis nolong orang lalu di-upload di akun media sosial. Nah beliau ini jangankan pamer begitu, dokumentasi saja tidak punya,” imbuh Wina.

Baca juga: Rohani Dg Tene Naik-turun Gunung Tandu Wanita Hamil

Yang penting bagi Rohani adalah bekerja dan bekerja. ”Orang tidak ingat jasanya, dia tidak pedulikan itu. Yang penting orang yang ditemaninya selamat,” ungkap Wina. 

Menurut Wina, sebenarnya tenaga sukarela di tempatnya banyak. Namun sedikit yang medannya sesulit Rohani.

”Kondisi kehidupannya tidak berkecukupan. Menghidupi 6 anak dengan pertanian tradisional yang hasilnya tidak seberapa dan tidak tetap, pastinya tidak mudah. Meski begitu dengan ringan hati beliau menjalankan tugasnya, mengajak dan mendampingi ibu-ibu ke puskesmas,” puji Wina.

Program EMAS

Ketulusan itu membuat Rohani juga tak pernah memikirkan bakal mendapat penghargaan semacam ini. Bahkan ia tak tahu ada penilaian relawan.

”Kami juga tidak tahu akan ada penghargaan seperti ini. Sebelumnya kami memang ada pembinaan dalam program EMAS. Karena Gowa, termasuk puskesmas wilayah kami ini, angka kematian ibu dan bayinya cukup tinggi. Nah pemerintah menyelenggarakan pelatihan untuk bidan dan kemitraan dengan relawan serta pembinaan dukun untuk antisipasi berbagai kasus selama ibu hamil dan melahirkan,” cerita Wina. 

EMAS (Expanding Maternal and Newborn Survival) adalah program kerja sama dengan pemerintah Amerika Serikat. Tujuannya, menurunkan angka kematian ibu melahirkan.

”Masalah utama di banyak wilayah Indonesia termasuk di daerah kami menyangkut sosial budaya. Mereka menganggap melahirkan adalah peristiwa alami biasa, bisa dijalani sendiri di rumah. Kalaupun ada yang meninggal dianggap sudah takdirnya,” keluhnya.

Setelah program ini banyak puskesmas diperbaiki. Maka ketika Puskesmas Tamaona diundang presentasi, mereka mengira kelanjutan atau evaluasi program EMAS.

”Intinya bagaimana upaya dari Tamaona untuk mengurangi angka kematian. Waktu itu kebetulan saya mewakili kepala puskesmas. Kami ceritakan yang sulit adalah sosial budaya, banyak masyarakat berprinsip kalau sudah waktunya pasti melahirkan biarpun bukan bidan yang menolong. Sudah kodratnya. Jadi kami butuh para relawan untuk menyadarkan masyarakat pentingnya pendampingan tenaga medis,” cerita Wina.

Dari presentasi itu, salah satu dokter menyatakan ingin melihat kondisi di desa-desa. Wina lantas menjembatani pertemuan dengan Rohani.

”Waktu itu ingin ambil foto motivator KIA (kesehatan ibu dan anak). Diambil foto Ibu Rohani untuk ditampilkan di Kabupaten Gowa. Bahwa beliau ini dari Tamaona, mengedukasi sekitarnya supaya melahirkan di tenaga medis,” lanjutnya.

Wina berharap, ke depan ada penghargaan lebih dari Rp 75 ribu untuk kerja keras relawan seperti Rohani. *

Teks & Foto: Kristina Rahayu Lestari