Rohmaida Lestari, Anak Tukang Becak Jadi Sarjana dengan IPK 3,99

Rohmaida Lestari, Anak Tukang Becak Jadi Sarjana dengan IPK 3,99

Melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi menjadi dambaan Rohmaida Lestari. Meski keuangan keluarga tidak mendukung, ia tak patah arang. Hasilnya, ia menjadi lulusan terbaik dengan IPK hampir sempurna.

 

Wanita kelahiran Bantul, 20 Januari 1995 ini baru saja meraih gelar sarjana ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Fakultas Ekonomi Bisnis, Program Studi Akuntansi. Bukan perjalanan yang mudah hingga Rohmaida Lestari akhirnya bisa mengenakan toga dan memberikan kata sambutan di hadapan banyak orang di hari bahagianya.

Rohmaida bercerita, menempuh pendidikan setinggi-tingginya menjadi salah satu impiannya. Putri pasangan Kusman, 57 tahun dan Jinem, 52, ini waktu kecil juga pernah bermimpi bisa menjadi guru. Hal ini dilatarbelakangi dari ceritanya ayahnya yang sejak kecil menjadi yatim, memutuskan tidak melanjutkan sekolah dan bekerja keras membantu keluarganya demi pendidikan sang adik (tante Rohmaida, red) untuk menjadi guru. 

Ayah Rohmaida yang hanya menyelesaikan pendidikannya sampai jenjang SMP kemudian menjadi tukang becak. Sementara, stelah menyelesaikan pendidikan sebagai guru, tante Rohmaida diajak seseorang merantau ke Sumatera dan dijanjikan akan dicarikan pekerjaan sebagai guru. Namun, orang tersebut tidak membuktikan janjinya. Alih-alih menjadi guru, tante Rohmaida justru diajak bekerja di ladang orang.

”Setelah itu tante saya dipindahkan ke Tangerang untuk bekerja di pabrik. Beliau juga meninggal di sana. Karena keterbatasan ekonomi, tante dimakamkan di sana. Bapak belum bisa menikmati jerih payahnya dan melihat keberhasilan adiknya yang digadang-gadang bisa jadi guru tapi, Allah berkehendak lain,” kisah bungsu dari dua bersaudara ini.

Hal itulah yang lantas memotivasi Rohmaida untuk meneruskan cita-cita tantenya menjadi guru. Ia pun bertekad mengejar pendidikan setinggi mungkin.

“Walau secara ekonomi saya tidak seberuntung yang lain. Tapi saya yakin bisa wujudkan itu dan bisa berpendidikan tinggi seperti anak-anak lainnya,” kata wanita berhijab ini.

Mengayuh becak masih dilakoni ayah Rohmaida hingga kini. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan demi menafkahi keluarganya. Sedangkan ibundanya yang tidak pernah merasakan bangku sekolah sehari-hari bekerja dengan membantu warung miliki orang di dekat Pantai Parangtritis.

”Ibu saya masak, mencuci, jaga warung, tapi hanya hari-hari tertentu. Kadang jadi buruh di sawah orang. Serabutan sehari-harinya,” terang Rohmaida.   

Meski begitu, Rohmaida yang biasa dipanggil Tari oleh keluarganya ini tetap bersyukur bisa melewati masa anak-anaknya seperti teman sebayanya. Ia bisa berbagi keriangan bersepeda dengan teman-temannya. Pendidikan sampai bangku SMP juga masih bisa disanggupi orang tuanya.

”Setelah lulus SMP bimbang karena pengin masuk SMA. Pandangannya, setelah itu mau kuliah, tapi orang tua saat itu tidak terlalu mendukung karena tidak mampu menjanjikan banyak hal dan takut mengecewakan saya,” ungkap Rohmaida.

Kuliah Bukan Hanya untuk Orang Kaya

Akhirnya, lanjut Rohmaida, ia masuk SMK. Pikirnya, paling tidak ia memiliki keahlian jika setelah lulus harus bekerja. Namun, selama SMK keluarganya mengalami banyak kesulitan. Ditambah, jurusan Teknik Informatika yang diambilnya membutuhkan perlengkapan penunjang yang tidak murah. Orang tuanya pun tidak memiliki persiapan untuk mengantarkan putri semata wayang mereka itu ke perguruan tinggi.

”Saya pengin kuliah, tapi orang tua kok sepertinya nggak sanggup membiayai. Kami berunding sampai tidak ada solusi lain dan orang tua mengatakan, kalau memang tidak ada yang bisa dijual untuk bisa kuliah, apa harus sampai menjual rumah?” ungkap Rohmaida menirukan ucapan orang tuanya.  

Penegasan itu semakin menunjukkan bahwa memang tidak ada lagi yang bisa dilakukan orang tua untuk membiayainya kuliah. Memang bukan hanya Rohmaida, banyak anak di dusunnya yang juga tidak melanjutkan kuliah. Pola pikir mereka menempuh pendidikan sampai jenjang tertinggi belum terbuka.

”Mereka pikir, kuliah hanya untuk orang yang kaya. Padahal setahu saya tidak seperti itu, karena ada beberapa teman yang bisa kuliah walau ekonomi keluarganya pas-pasan,” tutur Rohmaida.

Rohmaida memang harus berbesar hati kehidupannya tidak seberuntung anak-anak seusianya. Mereka bisa dengan mudah mengenyam pendidikan atau difasilitasi orang tuanya untuk menggapai mimpi.

”Itu menjadi cambuk bagi saya agar tidak kalah dengan mereka yang difasilitasi orang tuanya. Selagi ada kemauan, saya harus perjuangkan kemauan dan impian saya,” ungkap Rohmaida.  

Setelah lulus UN, sambil menunggu ijazah, Rohmaida bekerja di industri rumahan yang membuat olahan pisang. Pekerjaan ini ia lakoni mulai Senin sampai Sabtu. Tak hanya itu, hari Minggunya juga diisi dengan bekerja di pemancingan untuk mencuci piring, mengambil dan mengantar pesanan.

Sebulan kemudian, dari informasi di kampusnya Rohmaida tahu sebuah department store di Kota Pelajar itu sedang merekrut karyawan baru. Coba mendaftar, ia diterima menjadi kasir.

Meski sudah mendapat pekerjaan tapi tak melunturkan tekad Rohmaida untuk melanjutkan kuliah. ”Saya nggak akan puas hanya bekerja sebagai pelayan di toko atau sama seperti ibu yang bekerja serabutan. Saya maunya kuliah, harus berpendidikan tinggi, beda dengan orang tua saya,” tegasnya.

Oleh karena itu, di sela bekerja, ia sempatkan mencari informasi seputar beasiswa atau bertanya seputar biaya kuliah dari seniornya yang bisa melanjutkan kuliah. Rohmaida juga sempat ikut SNMPTN tapi tidak lolos.

”Mungkin karena jurusan di SMK dan jurusan yang dipilih di kampus tidak relevan jadi tidak lolos dan nggak sempat ikut SBMPTN yang pakai ujian tulis juga karena sempat terpikir, kalau nanti diterima, belum berembuk dengan orang tua. Jadi saya harus aktif cari informasi tentang beasiswa di tiap kampus. Sempat terpikir mau merantau 2 atau 3 tahun, bekerja dulu, kumpulkan uang untuk kuliah,” tuturnya.

Dapat Beasiswa

Sampai akhirnya Rohmaida mendapat tawaran beasiswa dari sebuah PTS. Di saat bersamaan, ia yang mengajukan beasiswa Bidikmisi juga dinyatakan lolos dan diterima di UMY.

”Alhamdulillah, kalau sebelumnya kesulitan dan kurang dukungan orang tua karena kepesimisan dan pola pikir mereka yang masih sama dengan orang-orang di dusun, saya buktikan bisa lolos dan ada dua universitas yang siap berikan beasiswa pada saya,” urai Rohmaida.

Setelah menimbang, Rohmaida menerima beasiswa Bidikmisi dan melanjutkan kuliah di UMY Program Studi Akuntansi. Walau sebelumnya tidak memiliki latar belakang ilmu pengetahuan tersebut, tapi karena kesenangannya berhitung yang menurutnya lebih mudah dipelajari, ia mantap pilih program tersebut.

Menyadari harus mengejar ketinggalan, Rohmaida banyak bertanya pada teman-temannya sesama penerima beasiswa yang berasal dari jurusan akuntansi waktu SMK. ”Saya banyak dibantu mereka. Kalau ada yang kurang paham, tanya ke teman-teman yang paham atau tanya dosen. Intinya, jangan malu bertanya. Di rumah, di ulang lagi pelajarannya. Tugas juga langsung dikerjakan biar tidak malas,” jelasnya.

Ketekunannya itu terlihat dari Indeks Prestasi (IP) yang Rohmaida peroleh setiap semesternya. Ia lima kali mendapat IP sempurna, 4, yaitu saat semester satu, dua, tiga, lima dan tujuh. Sedangkan saat semester empat dan enam, IP-nya 3,97.

Tidak sekadar kuliah, Rohmaida yang senang membaca puisi ini mengisi hari-harinya di kampus dengan mengikuti organisasi. Dari situ ia mendapat teman-teman baru dan bisa menyalurkan bakatnya di luar bidang akademik.

Liburan pergantian semester yang bisa sampai dua bulan juga dimanfaatkannya  untuk bekerja. Rohmaida pergi ke dusun tetangga untuk mengajar anak-anak mengaji di sebuah madrasah diniyah. Ia juga memberi les privat anak SD. Hasilnya, lumayan bisa menambah pemasukannya.  

”Saya nggak mau buang-buang waktu, daripada hanya berdiam diri di rumah lebih baik lakukan sesuatu yang bermanfaat. Alhamdulillah dari pekerjaan itu jadi bisa punya printer sendiri. Sangat membantu apalagi untuk mengerjakan skripsi,” tandasRohmaida.

Rohmaida pun mendapat predikat Mahasiswa Terbaik se-fakultasnya. Dia diminta naik ke podium untuk memberi kata sambutan.

Di hadapan orang tua, para dosen, rektor dan teman-temannya yang hari itu juga diwisuda, Rohmaida menyampaikan sedikit perjalanannya bisa sampai meraih gelar sarjana. Menurutnya, setelah lulus semuanya harus berlomba mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat di dunia nyata dan bisa bermanfaat untuk orang lain.

Rohmaida menambahkan, agar jangan berpuas diri menjadi orang yang biasa saja. Oleh karena itu, apapun kondisinya jangan malu dengan keadaan kita. Menurutnya, hal itu justru harus dijadikan penyemangat untuk berusaha lebih keras lagi.

”Jadilah luar biasa karena jadi biasa sebaiknya bukan menjadi pilihan. Itu bukan pilihan bagi saya dan seharusnya juga bukan pilihan untuk teman-teman semua,” kata Rohmaida.

Motivasi kepada teman-temannya juga ia sampaikan agar mereka tidak jadi orang yang mudah putus asa. Rohmaida percaya, kalau kita mengingankan sesuatu pasti ada jalannya.

”Pesan saya untuk mereka dan diri saya sendiri, dengan ilmu yang kita dapat seyogianya tidak boleh menyombongkan diri. Untuk apa kita berilmu kalau tidak bermanfaat untuk orang lain dan hanya penuh dengan kesombongan,” ujar Rohmaida mantap. *

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Dok. Pribadi