Sentuhan Kain Tradisional untuk Interior Ruangan

Sentuhan Kain Tradisional untuk Interior Ruangan

Indonesia begitu kaya akan budaya. Kain tradisional pun tidak terhingga ragamnya. Tak hanya diaplikasikan dalam karya busana, kain tradisional pun sudah sejak dahulu menghiasi rumah dengan beragam bentuk. Semakin hari, semakin kreatif saja para pengrajin membuat aneka pernak-pernik menggunakan kain tradisional. Mulai dari sarung bantal kursi, gorden, karpet, bed cover hingga taplak meja. Pemilihan motifnya pun beragam, ada yang secara keseluruhan, atau sebatas pada aksen saja. Jika Anda tertarik, berikut beberapa contoh pengaplikasian kain tradisional dalam interior ruang.

Siapa bilang jenis kain tradisional tidak bisa digabungkan menjadi satu? Lihat saja perpaduan batik dan songket dalam ruang keluarga ini. Warna cerah membuat suasana ceria hadir dalam kebersamaan Anda.

 


Teknik ikat celup memang terlihat mudah untuk dibuat sendiri. Sehelai sarung bantal putih yang diikat di beberapa bagian lalu dicelupkan pada bagian pinggir ini bisa menjadi satu karya abstrak yang cantik. Pilih warna lembut, seperti biru muda. Jika teknik celup berhasil, maka bantal di tempat tidur Anda akan menjadi focal point yang unik.


Tudung saji di meja makan terlihat monoton dengan warna itu-itu saja dan model yang kaku? Coba saja lapis tudung saji dengan kain beraksen batik. Pilih bahan berserat untuk pelapis agar mudah dibersihkan jika terkena tumpahan air atau noda makanan.

 


Kain khas tradisional Sumatra, ulos, selalu memiliki nilai estetik yang tinggi. Tidak ada salahnya menggabungkan kain bernuansa etnik ini dengan bahan lain yang dapat menciptakan tema retro pada sofa Anda. Jika Anda tidak terlalu yakin untuk memadumandankan,  serahkan saja kepada ahlinya untuk melakukan padu padan ini.


Perca merupakan solusi jika Anda ingin memadukan kain-kain tradisional dalam satu sofa. Tidak hanya sofa sebenarnya, bisa juga diaplikasikan dalam interior lain, seperti gorden atau Unik dan trendi.

 

Agar Kain Tetap Awet

  1. Sebaiknya kain tradisional tidak dicuci dengan mesin cuci. Proses mencuci dengan tangan dan tidak menggosoknya dengan sikat bisa membuat kain lebih awet.
  2. Pakailah obat khusus untuk kain seperti lerak yang berfungsi sebagai detergennya kain batik. Jika terdapat noda membandel, rendam kain di air hangat terlebih dahulu sebelum mencucinya.
  3. Pada proses pengeringan, jangan peras kain. Biarkan kain tersebut kering alami dengan dijemur di tempat yang teduh atau di tempat yang ada naungannya. Jangan menjemur kain langsung di bawah terik matahari.
  4. Khusus untuk kain tenun, usahakan untuk tidak melipat kain. Cara lain untuk menyimpan adalah dengan menggulung kain dan menyimpannya di dalam tabung atau pipa PVC atau plastik agar benang tenunan tidak lekas rusak.
  5. Sebaiknya tidak menaruh kapur barus di dekat kain pada saat menyimpan kain. Sebagai ganti, Anda bisa menaruh akar wangi kering atau rempah-rempah seperti cengkeh. Kedua bahan ini bisa menghindarkan kain dari serangan rayap atau ngengat.

Teks: Rizkita Lubis
Foto: Istimewa