Dulu Diancam Dibunuh, Kini Bernadette Deram Dapat Penghargaan

Dulu Diancam Dibunuh, Kini Bernadette Deram Dapat Penghargaan

Siapa bilang niat baik akan mendapat jalan baik pula? Namun seperti kata Bunda Teresa, tetaplah berbuat baik. Itulah salah satu pegangan Bernadette Deram saat memberdayakan para perempuan kepala keluarga di berbagai wilayah di Flores Timur.

 

Tak hanya ban motornya yang dikempesi, Bernadette Deram pernah pula diusir menggunakan parang dan tombak oleh seorang kepala desa. Namun ia tak mau menyerah. Hati wanita asal Desa Lamawara, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata Nusa Tenggara Timur ini terlanjur miris menyaksikan ketidakadilan yang dialami oleh kaum perempuan Lamaholot, sebuah suku yang mendiami wilayah gabungan Pulau Lembata, Solor, Adonara, Alor dan Flores.

”Tak sedikit dari mereka yang dimadu, banyak pula yang ditinggal merantau tanpa kabar berita. Akibatnya, mereka terpaksa menanggung segala beban tanggung jawab dalam keluarga, menghidupi dan membesarkan anak-anak sendirian,” ungkap Dette, demikian Bernadette Deram akrab disapa.

Yang membuat Dette kian geram, para perempuan itu tidak boleh menikah lagi sekalipun sudah jelas suaminya telah menikah lagi. Alasannya, ia masih terikat pernikahan.

Mereka kian terbeban dengan tanggung jawab adat. Misalnya harus membawa kain sarung tenun sejumlah yang di tentukan setiap kali ada orang menikah atau meninggal dunia. Di lain waktu mereka harus membawa binatang sejumlah dan sebesar yang di tentukan oleh kepala suku.

”Tidak ada toleransi, aturan adat itu tidak bisa dilepas sekalipun suaminya tidak menafkahi. Padahal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama anak-anak saja mereka sudah kesulitan. Akibatnya, ratusan anak akhirnya putus sekolah karena tidak ada biaya,” ungkap Dette dengan wajah muram.

Mengesampingkan Impian

Wanita kelahiran 17 November 1969 ini bersyukur rupa-rupa kejadian di atas tidak menimpa orang tuanya. Bahkan meski kedua orangtuanya hanya menggantungkan hidup pada pertanian dengan hasil tak seberapa, mereka kompak mendukung sepenuhnya keinginan Dette dan 5 anak lainnya untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya.

Tentu mereka tak mampu jika harus mengeluarkan biaya 100%. Maka anak-anak didorong untuk berprestasi sehingga mendapat beasiswa.

Begitulah yang diperjuangkan Dette hingga akhirnya dapat memasuki gerbang Universitas Nusa Cendana Kupang pada tahun 1993. Mempertimbangkan profesi orangtuanya, Dette mengambil Jurusan Penyuluhan Pertanian Terpadu.

”Mimpi awalnya ingin jadi petani sukses. Tapi setelah praktik di lapangan, mimpi jadi petani itu perlahan bergeser menjadi nomor ke sekian,” tutur Dette.

Sebabnya adalah ketidakadilan yang dihadapi para perempuan seperti dia ceritakan di atas. Dette yang kian luas cakrawalanya saat kuliah mendadak ingin mengubah pola pikir perempuan di desa. Ia ingin mereka punya wawasan luas dan berani menyuarakan keinginannya, memperjuangkan harapannya.

”Jika pola pikir perempuan sudah berubah, mau jadi petani atau apapun menjadi hal yang lebih mudah,” kata anak kedua dari 6 bersaudara ini.

Begitulah akhirnya Dette membelot dari kewajaran lulusan perguruan tinggi di wilayahnya. ”Menurut masyarakat NTT, kalau sudah kuliah berarti pulang harus jadi PNS atau pegawai swasta kantoran. Kalau tidak dianggap belum berhasil,” tutur Dette.

Namun selain merasa tak cocok bekerja di balik meja, Dette terusik dengan ketidakadilan para perempuan yang diceritakannya. ”Apalagi tidak banyak perempuan Lamaholot yang mau bekerja mendampingi mereka untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang saya ceritakan tadi,” imbuhnya.

Sempat mempraktikkan ilmunya mendampingi kelompok tani, Dette kemudian bergabung dengan PEKKA (Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga) yang diinisiasi aktivis perempuan Nani Zulminarni. Ia mendaftar sebagai fasilitator lapangan di Adonara.

PEKKA merupakan pengembangan program kerjasama Komnas Perempuan yang mulanya ingin mendokumentasikan kehidupan janda di wilayah konflik dengan Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW). Tujuannya, mengangkat martabat janda dan menempatkannya pada kedudukan, peran dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga dan bukan dilihat dari status perkawinan semata.

Penolakan demi Penolakan

Banyak sekali halangan yang merintang Dette menjalankan aksi sosialnya. Yang paling ringan adalah dianggap tidak bekerja.

”Pekerjaan sosial semacam ini selalu dianggap bukan pekerjaan. Bahkan sampai saat ini orang tua saya sulit menjelaskan apa pekerjaan saya pada masyarakat sekitar,” ungkap Dette.

Itu tak menjadi masalah berarti bagi orang tuanya. Yang membuat mereka ketar-ketir tak bisa tidur adalah segala aksi yang dilakukan oknum tertentu untuk menghalangi Dette. Bukan satu dua kali diancam bakal dihabisi.

Bermula dari ban motornya dikempesi di daerah Adonara, sebuah kepulauan di sebelah timur Pulau Flores. Itu terjadi sekitar tahun 2002-2003, saat jalan masuk ke desa-desa di Adonara hanya setapak, tak dapat dilalui kendaraan bermotor, walaupun hanya roda dua. ”Kalau masuk kampung motornya diparkir di jalan induk,” kisahnya.

”Eh sepulang dari rumah ina-ina (ibu-ibu) untuk mengajak mereka berkelompok, ban motor sudah dikempesi. Kadang juga kran bahan bakarnya ditutup, sehingga begitu jalan tiba-tiba mati mesin,” ungkap Dette.

Tak jarang pula beberapa anak muda bergerombol sembunyi di balik semak, lantas saat Dette lewat mereka memberikan kode pada temannya untuk menutup jalan dengan bambu atau daun-daun kelapa.

Berikutnya Dette dipanggil salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal. ”Saya disuruh pulang ke Lembata. Tapi saya bilang ke ketuanya bahwa kebebasan ina-ina untuk berorganisasi dijamin undangan-undang jadi biarkan ibu-ibu yang memilih. Saya juga menunjukkan izin dari pemerintah pusat hingga desa. Saya bilang, mereka saja mengizinkan kenapa bapak yang menolak saya?” tirunya.

Jawaban Dette memang dapat membungkam para pengurus LSM, namun bukan berarti tak ada lagi usaha untuk menghalangi aksinya. Sasaran berikutnya adalah janda-janda yang diajak Dette berkumpul dan berorganisasi. Hasilnya, pada pertemuan bulan kedua tak ada perempuan yang datang.

”Setelah saya cek dari rumah ke rumah ternyata mereka ditakut-takuti. Katanya, jika mereka nekat berkumpul akan dipotong lehernya seperti waktu PKI dulu. Langsung saya bilang, kalau seperti itu pasti saya yang pertama kali akan dipotong lehernya, bukan ina-ina,” tandas Dette.

Para ibu kembali berkumpul, Dette lantas membentuk serikat Lodan Doe. Pada mereka yang buta huruf, ia menggelar kelas baca tulis.

Selanjutnya Dette membentuk koperasi sebagai pusat pemberdayaan ekonomi. Target berikutnya, mendorong mereka memiliki keberanian menyuarakan aspirasinya. Bahkan jika mungkin berperan di kepengurusan desa.

Perempuan Kepala Desa Pertama

Meski aksinya terus berjalan, sebenarnya masih ada berbagai penolakan terhadap Dette hingga tahun 2005. Yang paling parah, ia diusir oleh Kepala Desa Horinara beserta jajarannya. Horinara adalah salah satu desa di Kecamatan Kelubagagolit, Kabupaten Flores Timur,.

”Ketika itu saya sedang memfasilitasi pelatihan visi misi dan motivasi berkelompok. Mereka datang dan mengusir saya menggunakan parang dan tombak,” cerita Dette dengan mimik ngeri.

Bohong jika Dette tak ketakutan. Namun ia mencoba menyembunyikan perasaannya. Seperti di tempat lain, pelan-pelan ia menjelaskan niatnya.

Singkat cerita, dengan restu para pejabat setempat Dette menjalankan aksinya. Di antaranya membangun center Pekka Lodan Doe.

”Ini dimulai dengan mengumpulkan iuran, tidak hanya berupa uang tapi juga tenaga dan bahan seperti, batu, pasir hingga kayu dan lainnya. Setelah bangunan jadi, ina-ina kader memilih untuk tinggal di center agar bisa berjualan gorengan dan berkontribusi untuk operasional pengelola center tersebut. Mereka juga mengembangkan berbagai kegiatan seperti kebun gizi, sembako, sekolah paket dan lain-lain,” kisah Dette.

Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, anggota serikat perlahan dapat keluar dari keterbelakangan pendidikan seperti buta huruf ataupun informasi situasi politik, kepemimpinan, serta pastinya pemahaman tentang  hak-hak mereka.

Yang menyenangkan Dette, mereka kian punya kepercayaan diri dan keberanian untuk menyuarakan aspirasinya. Hasilnya, pada tahun 2007 salah satu anggota mereka, Mama Nella (Petronella Penne) berhasil terpilih sebagai Kepala Desa Nesa Nula. Namanya menggema sebagai kepala desa perempuan pertama di Flores Timur.

Tidak hanya demi kemajuan para anggota, mereka juga memperhatikan sekitar. Di antaranya para kaum muda yang tidak memiliki pendidikan baik dan kegiatan positif. Akibatnya mereka kerap berbuat hal negatif, seperti mengempesi ban Dette saat awal berkegiatan.   

“Saya usul pada Ina-ina agar anak muda tersebut bisa di himpun untuk sekedar membaca koran atau buku-buku bekas. Untuk memancingnya, kemi mem buat pasar senja untuk jual gorengan dan kopi sore biar mereka datang. Perlahan kita ajak mereka diskusi,” cerita Dette.

Diskusi berlanjut dengan dibukanya pinjaman lunak buat anak-anak muda untuk membeli sepeda motor. Dengan motor itulah mereka dapat mengojek. ”Kita juga buka sekolah paket A, B dan C buat mereka. Akhirnya anak-anak muda ini bisa jadi sahabat,” ujarnya seraya mengembangkan senyum.

Dette kian bersyukur dan bangga ketika pada pertengahan Juli lalu ia diundang ke Jakarta. Pada puncak ulang tahun Yayasan Bina Swadaya ke-50, ia diundang ke atas panggung untuk menerima penghargaan khusus. Aksinya menginisiasi arisan tenun dan mendirikan Swalayan Pekka Mart mencuri perhatian para juri.

Sebelumnya Dette juga diundang ke berbagai acara yang menyoroti berbagai aksi pemberdayaan perempuan. Tahun 2015 misalnya, ia bersama Direktur Pekka Nani Zulminarni terbang ke Australia untuk menyosialisasikan program Pekka dan mencari donor untuk beasiswa anak-anak orang tua yang tidak mampu.*

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Zulham, Dok.Pri