Tri Suswati Karnavian, Istri Kapolri yang Jago Nyelam

Tri Suswati Karnavian, Istri Kapolri yang Jago Nyelam

Tri Suswati Karnavian bukan anggota Bhayangkari, biasa. Tak sekadar menjadi pendamping suami, Jenderal Tito Karnavian, ia turut melakukan aktivitas tak kalah menantang dengan para polisi wanita.

Pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-72 Republik Indonesia misalnya, Tri Suswati Karnavian melakukan upacara bendera dan defile (mengarak) bendera di bawah laut.

Sejumlah  tempat menjadi lokasi kegiatan tersebut. Antara lain Sabang, Kepulauan Seribu, Kepulauan Komodo dan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua Barat dan Maluku Utara.

Karena tanggal 17 Agustus ia harus mendampingi suami mengikuti upacara kemerdekaan di Istana Negara dengan baju adat khusus, upacara di laut harus dilakukan sebelumnya.

Yang membuat Tri senang, peserta upacara bendera dan defile di bawah laut terus bertambah. ”Ini terlihat dari jumlah divers (penyelam) yang terlibat dalam kegiatan pengibaran bendera dan defile kemarin,” ungkapnya senang.

Tri merasakan banyak manfaat dari aktivitasnya ini. Selain termasuk olahraga yang menyehatkan tubuh, menyelam membuat mata dan jiwanya kian segar berkat pemandangan indah di dalam laut.

Karena itu Tri terus menyosialisasikannya pada para anggota Bhayangkari. Terlebih Indonesia menjadi salah satu tempat yang dikunjungi para penyelam dari seluruh dunia. Pikirnya, mereka saja berdatangan untuk menikmati keindahan alam bawah laut Nusantara, bagaimana kita sebagai pemiliknya tidak pernah menyaksikan langsung.

Diakui Tri, ada saja yang menganggap aneh keputusannya mengajak anggota Bhayangkari menjadi penyelam.

”Banyak sekali divers perempuan di luar sana, namun mungkin karena kedudukan dan status saya sebagai istri anggota Polri jadi beda,” katanya.

Bukannya minder, Tri memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat olahraga menyelam semakin populer.

”Mudah-mudahan ini menimbulkan motivasi dalam diri masyarakat. Sehingga timbul kecintaan terhadap olahraga selam,” harap istri mantan Kepala Densus 88 ini.

Tak Bisa Berenang Bukan Masalah     

Bagi masyarakat yang tidak bisa berenang tak perlu khawatir. Tri sendiri mengaku punya kekurangan yang sama. Tapi buktinya dia bisa menyelam.

”Untuk menyelam nggak ada alasan tidak bisa berenang. Ini banyak yang tidak percaya, kalau saya tidak bisa berenang. Kalau di laut saya berani. Kalau di kolam renang, saya malah menyerah. Karena mengingat peralatan selam sendiri adalah sebagai penyelamat kita agar tidak tenggelam,” tutur Tri seraya berpromosi.

Tentang hobi barunya ini Tri mengaku, dulu tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menjadi penyelam. Penyebabnya seperti ketakutan banyak orang, dia  tak memiliki kemampuan dasar berenang. Tapi  pemandangan bawah laut yang sempat diintipnya dari atas air, membuatnya penasaran.

Semua berawal dari aktivitas  menemani sang suami, Kapolri Tito Karnavian yang menjalankan hobi diving, akhirnya menggelitik Tri Suswati Karnavian untuk mencari tahu apa keasyikan dari hobi yang ditekuni suaminya.

Tri mengenang, tepatnya di tahun 2012 saat keluarga kecilnya mengikuti Tito bertugas ke Papua. Suatu ketika Tri ikut menemani sang suami saat melakukan kunjungan kerja ke Raja Ampat.

”Sekali dua kali ya, akhirnya saya mau mencoba. Karena katanya nggak perlu bisa berenang untuk menyelam. Saya coba, kemudian belajar bagaimana menyelam yang benar di kolam renang. Setelah turun ke tempat asli, saya baru mengetahui pemandangan di bawah laut  benar-benar bagus,” ungkap Tri, perihal hobi menyelamnya.

Sejak saat itu, setiap kali ada kesempatan, Tri pun berusaha menjalankan hobi barunya itu. Menurutnya menikmati keindahan bawah laut dengan mata kepala sendiri memberi keasyikan tersendiri.

”Ketika saya ada di sana merasa semua orang harus tahu bahwa di bawah laut itu indah sekali. Mungkin kalau mau lihat bagaimana foto-foto di bawah laut, tetap saja tidak bisa melihat secara luas. Kita hanya melihat  bagian per bagian. Sementara begitu menyelam, kita akan melihat begitu luas mata memandang keindahan laut,” tutur Tri memberi perbandingan.

Terpesona Labuan Bajo

Tak henti-hentinya Tri berucap syukur karena sang suami berhasil mempengaruhinya untuk menikmati hobi satu ini. Tito sendiri menekuni hobi menyelam sejak masih bertugas sebagai Kapolda di Papua.

”Suka diajak temannya di Bali. Kemudian bapak kan suka tugas operasi-operasi di luar. Misalnya operasi keamanan, seperti Poso, Aceh dan lain-lain. Mungkin untuk menghilangkan rasa bosan di tempat yang lokasinya nggak tentu, refreshing dengan diving,” papar Tri.

Menurut Tri setiap spot penyelaman memiliki keindahan serta keunikan yang berbeda-beda. Ia mengaku selalu terpesona setiap kali datang ke Labuan Bajo yang terkenal dengan keindahan ikan-ikan besarnya. Bahkan menyebutnya sebagai salah satu lokasi menyelam favorit keluarganya.

Tri mengaku tidak memiliki waktu khusus kapan harus menjalankan hobi ini. Semua tergantung kesempatan yang datang saja.

”Nggak ada jadwal pastinya. Biasanya tinggal ikut Pak Tito pas kunjungan kerja saja. Kadang kalau waktunya memungkinkan kita diving bareng sama anak-anak. Seperti tahun lalu, saat ke Manado. Waktu itu Pak Tito hadir di acara Natal nasional bersama Pak Jokowi,” urai Tri.

Spot menyelam di luar negeri yang ingin didatangi? Tri menyebut  kepulauan Maldives,  salah tempat yang kerap dijadikan sebagai lokasi bulan madu oleh pasangan pengantin baru dari seluruh dunia.

”Tapi belum kepikiran kapan mau ke sana. Karena di dalam negeri aja masih banyak yang belum saya kunjungi,” tuturnya.

Dari Laut Lanjut ke Gunung

Selain aktif menyosialisasikan olahraga selam, baru-baru ini sambil mendampingi suaminya ke Timika, Tri melepas 24 anggota polwan melakukan pendakian  ke Puncak Cartensz. Tak tanggung-tanggung, ia turut mengantarkan hingga ketinggian 4200 mdpl.

Menurut Tri, ekspedisi ke Puncak Cartensz oleh polwan merupakan pembuktian bahwa wanita tak kalah hebat dengan pria. Ketika diberi dan mendapat kesempatan, wanita bisa membuktikan kemampuannya.

”Saya melihat Polwan merupakan profesi di lingkungan yang didominasi laki-laki. Ada stereotype bahwa secara fisik polwan tidak sehebat laki-laki. Sehingga selama ini tidak mendapatkan tempat yang strategis di jajaran operasional. Mereka hanya sebagai administrasi dan paling tinggi di bagian pendidikan dan lain-lain,” ungkap Tri.

Untuk itulah Puncak Cartensz digunakan sebagai ajang pembuktian. ”Saya ingin menunjukkan bahwa para polwan itu mampu secara fisik dengan pendakian ke Puncak Cartensz di ketinggian 4884 meter di atas permukaan laut,” kata Tri.

Tentang dirinya yang hanya mampu mengantarkan di ketinggian 4200 mdpl,  Tri mengatakan semua tidak terlepas dari beratnya medan. Dibutuhkan stamina yang kuat di tengah minimnya oksigen.

”Tabungan fisik saya hanya sampai segitu, nggak bisa sampai atas. Itu itu sudah melewati medical checkup standar. Semua harus memenuhi syarat. Kalau tidak, seperti 3 polwan yang sempat kolaps. Mereka tidak bisa berjalan. Tapi alhamdulillah saya baru sekali datang mampu ikut pendakian,” ujar Tri tersenyum.

Saya Tahu Siapa Pak Tito

Sebagai Ketua Umum, Tri Suswati Karnavian selalu menekankan kepada sekitar 400 ribu anggota Bhayangkari untuk dapat berguna bagi lingkungan sekitar.

Menjadi berguna bagi lingkungan sekitar tak harus sesuatu yang besar. Menurut Tri, sekecil apapun itu pasti ada dampaknya.

”Misalnya dari keluarga sendiri dengan memberikan bimbingan kepada anak-anak kita. Bagaimana tentang kebangsaaan dan bagaimana kita bertoleransi kepada semua kalangan di lingkungan kita. Mengajarkan kepada anak-anak untuk menghormati kebhinekaan. Ini adalah modal bagi anak-anak agar toleran terhadap semua perbedaan,” papar Tri.

Agar peran itu semakin luas, Tri mendorong agar setiap wanita tidak hanya sibuk dengan rutinitas domestik. Tapi tidak lupa bersosialisasi dengan berbagai kalangan. Meski sekadar membagikan berita-berita positif.

”Tidak sebaliknya, men-share berita hoax atau yang tidak berguna yang hanya akan menimbulkan perpecahan,” ujar Tri mengingatkan.

Tri menyadari, sebagai istri polisi begitu banyak suka dan dukanya. Bahkan bagi sebagian besar anggota Bhayangkari terasa begitu berat.

”Karena mereka harus bertugas tidak mengenal waktu , harus 24 jam siaga dalam ketertiban dan keamanan masyarakat. Apalagi sebagai seorang Kapolri, tentu harus betul-betul fokus menjaga keamanan dan ketertiban di seluruh Indonesia,” lanjut Tri.

Apalagi seperti saat ini ketika permasalahan yang terjadi di masyarakat semakin kompleks. Tidak hanya kriminalitas umum, namun juga dari segi gejolak politik, kestabilan politik dalam negeri. Semua itu mau tak mau  juga menjadi tanggung jawab polisi.

”Namun saya sudah terbiasa. Kebetulan mendampingi beliau yang bekerja keras untuk menjadi anggota polri yang nantinya hasilnya adalah dipercaya oleh masyarakat,” papar Tri.

Di tengah beratnya tugas seorang kapolri, tidak sedikit pula kritikan yang datang terhadap sang suami. Bagaimana Tri menanggapi?

”Saya tidak melihat hal-hal negatif yang ada di sosmed untuk diambil hati. Karena saya tahu siapa Pak Tito. Bekerja berdasarkan undang-undang dan bukan berdasarkan kepentingan pribadi. Jadi apapun kritik orang, bisa kita terima dan saya yakin juga yang mengkritik mungkin tidak tahu permasalahannya sehingga mereka mengkritik menurut versi masing-masing. Saya tidak perlu khawatir,” jawab Tri.

Tek: Dewi Muchtar   I   Foto: Dok. Pri