Serba Jengkol

Cara Praktis Hilangkan Racun dan Bau Jengkol

Cara Praktis Hilangkan Racun dan Bau Jengkol

Banyak yang enggan mengkonsumsi jengkol karena khawatir terpapar bau dan racun dari asam jengkolat. Toni, pemilik Republik Jengkol menampik anggapan lawas tersebut. Yang terjadi di Republik Jengkol, warung sederhana  dan café miliknya yang menjual beragam varian olahan jengkol, pengunjung tanpa merasa bersalah terlihat asyik mengonsumsi jengkol sebagai menu sehari-hari.

“Dahulu memang benar, mulut, keringat, urine hingga feses berbau jengkol dan sulit hilang. Yang mengonsumsi berlebihan malah terkena racun dan berakibat sulit buang air kecil,” ujarnya.

Di cafenya di wilayah Pasar Rebo, deretan mobil terpakir rapi, pembeli datang dari berbagai kalangan seperti pekerja kantoran. Umumnya datang berombongan atau bersama keluarga. Mereka antusias menikmati varian jengkol yang diolah layaknya menu populer seperti,  Rendang dan Balado Jengko, Tongseng Jengkol, Jengkol Lada Hitam, Nasi Goreng Jengkol dan sederet menu lain berbahan jengkol. Selain nasi putih hangat,  mi, pasta, atau nasi merah menjadi teman yang tepat untuk menikmati olahan jengkol racikan Toni.

Untuk menghilangkan kandungan racun dan efek bau, Toni melakukan treatment khusus sebelum mengolah jengkol. Seperti menggunakan jengkol berkualitas yang umumnya berasal dari luar Jakarta. Cirinya, buah berdaging tebal dan bundar, dengan ukuran yang sama. Jengkol bersama kulitnya akan direndam semalaman dengan air yang dicampur abu dan garam. Keesokkan harinya, jengkol akan dibersihkan dari kulit, lalu dicuci hingga bersih. Lalu kemudian dipresto dengan rempah seperti serai, lengkuas dan daun salam. Hasilnya  tekstur jengkol menjadi empuk, rasanya gurih dan lezat,  serta mudah diolah dengan beragam varian olahan.

Yang lebih menyenangkan efek bau dan racun hilang. Ini dibuktikan dengan banyaknya pelanggan yang berasal dari kalangan menengah, yang rutin mengonsumsi olahan di Republik Jengkol.  Mereka memberikan testimoni, makan jengkol tidak menimbulkan bau.

Selain penggemar jengkol di Jakarta dan dari daerah lain, olahan  Republik Jengkol sudah melanglang buana dan menjadi santapan nikmat di Singapura, Australia, Amerika dan Perancis. Proses produksi yang dilakukan secara teliti dan hati-hati, menghasilkan citarasa dan tekstur jengkol  yang tidak  mengalami perubahan.     

Tak hanya di Republik Jengkol, masyarakat Sunda mengenal treatment jengkol seperti yang dilakukan oleh Toni dengan istilah “sepi jengkol”. Jengkol yang akan diolah akan ditanam di dalam tanah selama beberapa hari,  hingga tumbuh kecambah pada bagian ujung buah. Proses selanjutnya jengkol akan dibersihkan,  dan  diolah sesuai petunjuk resep. Jika ingin digoreng, sepi jengkol terasa lebih lezat dan nikmat. Bahkan ada yang mengumpamakan tekstur dan rasanya menyerupai daging ayam.

----
Teks: Budi Hartono
Foto: Zulham