Rahasia Sukses Finansial Ala Mien R Uno

Rahasia Sukses Finansial Ala Mien R Uno

Semilir angin bertiup ditingkahi kicau burung menyambut di halaman kediaman Mien R Uno.Rasanya seperti di pedesaan saja. Padahal rumah seluas 900 m2 itu berada di jantung kota Jakarta Selatan, dekat ke mana-mana. Inilah salah satu kenyamanan buah kepandaiannya mengelola keuangan.

Memasuki ruang tamu kesejukan itu masih saja mengiringi.Selain karena efek rindangnya pepohonan di halaman, tingginya struktur bangunan dan sembulan beberapa tanaman hias hidup di berbagai sudut turut mempengaruhi.

Ruangan kian menarik dengan banyaknya ‘harta karun’ Mien Uno.Mulai dari perangkat minum teh buatan abad 13, keramik cantik dari berbagai penjuru dunia, hingga tumpukan buku karya para sahabat.

Suasana kian sejuk tatkala tuan rumah menyambut dengan senyum ramahnya. Seperti biasa pendiri Sekolah Kepribadian Duta Bangsa ini tampil prima.Mengenakan atasan batik warna sogan dipadu dengan kulot putih dan sepatu hak tinggi, kecantikan wanita yang akrab disapa Ibu Mien ini terpancar sempurna.Tak banyak kerutan nampak di wajahnya yang ber-make up tipis.

Siapa sangka ibunda Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Sandiaga Uno ini sudah mencapai usia kepala 7! Apa rahasianya?

“Kuncinya manajemen. Secara menyeluruh ya, bagaimana mengelola diri, keuangan, penampilan dan kasih sayang,” jawabnya seraya mengembangkan senyum manis.

“Semua harus dikelola dari menit ke menit setiap hari. Intinya bagaimana kita membuat diri happy,” imbuh Mien menegaskan.

Penulis kolom dan karya tulis di berbagai media nasional ini setuju bahwa salah satu sumber kebahagiaan itu adalah kenyamanan dan keamanan finansial. Artinya ia dapat menyiapkan anggaran untuk membeli busana perancang kenamaan demi menunjang penampilan, punya kendaraan dan rumah nyaman, serta merasa aman karena memiliki sejumlah tabungan dan investasi.

“Tapi untuk bikin busana di perancang itu saya biasanya bayar bertahap lho!” Oya? “Iya, kan mahal. Mungkin sekali bayar bisa, tapi keuangan bulan tertentu kami jadinya tidak seimbang,” ungkapnya tanpa gengsi.

Untuk kendaraan, Mien mengatakan bisa saja dia membeli merk Ferrari. “Tapi apa itu perlu? Yang penting bisa mengantar saya dengan nyaman dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain,” imbuh Mien seraya mengulas senyum lagi.

 

Tak Asyik Kaya Sendiri

Mien bersyukur, karena prinsip di atas kini ia dapat menikmati hidup mapan dan nyaman. Kedua putranya, Indra Cahya Uno dan Sandiaga Salahuddin Uno telah berhasil dalam kehidupan mereka.Ia sendiri masih aktif berkarya.Mulai dari menjadi Komisaris lembaga pendidikan kepribadian Duta Bangsa, Dewan Penasehat Pengurus Besar PGRI, hingga menjadi Dewan Pembina Mien R. Uno Foundation.

Mien R. Uno Foundation adalah sebuah yayasan yang didirikannya bukan hanya untuk membantu pendidikan anak muda, namun lebih pada pemberdayaan ekonomi.

“Kalau hanya diberi beasiswa, setelah lulus kuliah mereka akan mencari kerja. Tapi kalau dilengkapi pendidikan kewirausahaan, mereka akan menciptakan lapangan kerja bagi sekitarnya,” ujar wanita yang pernah menjadi Public Relations PT Nyonya Meneer ini kembali mengembangkan senyumnya.

Bagi Mien, inilah salah satu perwujudan social wealth. Menurutnya tak asyik jika kaya dan makmur sendiri.Sayang pula jika ilmu keberhasilan dalam keluarganya disimpan sendirian.

Bukan hanya pada generasi muda, peraih penghargaan Ernst & Young Entrepreneur of the Year World Judge Monte Carlo ini juga rajin membagi ilmu pengelolaan keuangan pada para ibu rumah tangga.

Di berbagai kesempatan ia menekankan pentingnya disiplin membuat pos-pos keuangan dalam keluarga. “Wajib bagi para ibu rumah tangga menabung dan berinvestasi!” tegas istri Razif Halik Uno ini.

 

Bermula Dari Celengan Ayam

Mien mengenang, kebiasaan menabung telah diajarkan di keluarganya sejak ia kecil. Sang ayah yang seorang pendidik selalu mengingatkannya untuk menyisihkan sebagian dari uang sakunya untuk ditabung.

“Saat itu masih pakai celengan ayam. Makanya saya sering pasang hiasan celengan ayam di depan rumah untuk selalu mengingat nasihat ayah ‘Jangan lupa menabung dan jangan sampai besar pasak daripada tiang.’,” tutur Mien menirukan.

Semangat menabung dan berhati-hati dalam berbelanja kian menggebu kala Mien mulai menghasilkan uang sendiri di usia 15 tahun. Ketika itu ia magang sebagai pengajar di sekolah pimpinan ayahnya.

Kebiasaan itu terus terbawa kala Mien menikah dan terus berkarier di berbagai bidang. Mulai dari pengasuh program Dunia Wanita di TVRI tahun 70an, menjadi Partisipan Badan Pengembangan Eksport Nasional ke berbagai negara, konsultan marketing berbagai perusahaan, hingga menjadi Direktur Sekolah Pengembangan Pribadi John Robert Powers Indonesia dan berbagai jabatan mentereng lainnya.

Awalnya Dewan Ahli ESQ (Emotional Spiritual Quotient) ini lebih banyak menabung emas dalam bentuk lempengan dan gelang padat.Selain alasan nilainya yang stabil, dapat pula dikenakan untuk menunjang penampilan.

“Jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk membayar pendidikan anak misalnya, tinggal dijual,” katanya.  

Selebihnya Mien menerapkan prinsip pengelolaan keuangan keluarga secara umum. Antara lain 40 % kebutuhan hidup, 30 % cicilan, 20 % dana darurat, investasi dan asuransi, serta 10 % kebaikan/ sosial.

 

Lebih Aman Dan Terdata Di Bank

Seiring makin banyaknya penghasilan Mien dari kegiatan seminar dan sebagainya, makin rajin pula ia berinvestasi. Bukan hanya dalam bentuk emas, namun juga berbagai produk yang ditawarkan bank.

Pertimbangan Mien memilih bank adalah kemanan dan jelasnya pencatatan. “Dana awal kita berapa dan naik berapa persen tercatat dengan jelas. Pakai kartu kredit juga membantu pencatatan kita lebih rapi,” ungkap Mien. “Asal jangan besar pasak daripada tiang ya,” imbuhnya mengingatkan lagi.

Soal produk, Mien yang menjadi salah satu nasabah prioritas Bank Bukopin mengaku lebih memilih investasi minim risiko.Sebutlah Deposito dan ORI (Obligasi Ritel Indonesia). Namun beberapa kali ia juga bermain Reksadana.

Tentang pilihannya terhadap Bank Bukopin, Mien rupanya punya alasan khusus. “Mungkin saya agak idealis ya, karena bank ini seratus persen punya Indonesia. Padahal katanya banyak investor asing yang ingin menanam modalnya, tapi mereka keukeh. Menurut saya kita harus membantu bank-bank yang dipunyai orang Indonesia,” pungkas peraih ratusan Piagam Pembangunan Nasional dari berbagai lemba pemerintah dan swasta ini.

 

Teks: Kristina Rahayu Lestari • Foto: Zulham