Sudahkah Anda Mengelola Kekayaan Dengan Benar

Sudahkah Anda Mengelola Kekayaan Dengan Benar

Jika Mien Uno dapat menikmati hari tuanya dengan nyaman dan lebih dari berkecukupan, banyak wanita sepantaran tak merasakan kondisi serupa. Padahal bisa jadi pada masa produktif mereka memiliki jumlah kekayaan setara. Rahasianya adalah wealth management. Apa itu?

wealth management merupakan sebuah sistem yang komprehensif dan terpadu terkait pengelolaan harta. Tujuan utamanya, melindungi, mengembangkan dan mengakumulasikan kekayaan atau aset nasabah,” jelas Secretary General of Certified Wealth Managers’ Association, Desi Armadiani.

Ada pilar wealth management, yakni wealth protection, wealth growth and accumulation, dan wealth distribution.

“Jadi, ketika aset nasabah bertambah, kami juga memberikan layanan terkait distribusi kekayaannya,” imbuh pakar keuangan yang akrab disapa Desi ini.

Desi melanjutkan, sebagian besar layanan ini disediakan perbankan. Alasannya, lembaga ini memiliki nasabah cukup banyak. Menurut Desi, saat ini ada sekitar 27 bank di Indonesia yang sudah memiliki layanan wealth management.

“Keberadaan wealth management di Indonesia masih belum terlalu lama. Tahun 2005 baru digaungkan. Khususnya ketika Asosiasi Certified Wealth Managers berdiri,” ungkap Desi.

Awalnya, kata Desi, masyarakat fokus pada perencanaan keuangan. Namun semakin bertambahnya aset yang dimiliki, ditunjang dengan jenis produk investasi yang ditawarkan bank kian bervariasi, wealth management mulai menarik perhatian.

Ini menjadi peluang bagi bisnis perbankan. Sebab data menunjukkan masyarakat Indonesia masih memiliki kepercayaan cukup tinggi terhadap lembaga satu ini.

“Produk yang ditawarkan wealth management tidak konservartif. Bukan hanya bicara dana pihak ketiga atau deposito tabungan saja, tapi produk-produk yang lebih sophisticated,” terang wanita yang juga menjabat sebagai Director PT. Maesa Creation Indonesia ini.

Produk sophisticated yang dimaksud Desi di antaranya produk investasi seperti reksadana dengan berbagai macam jenisnya, ORI (Obligasi Ritel Indonesia) atau asuransi jiwa. Semua itu hanya dipasarkan melalui layanan wealth management.

 

Apakah semua orang bisa mendapatkan layanan ini?

“Layanan ini bisa dibuat ke semua lini, tapi perbankan membuat entry level. Rata-rata mereka menetapkan layanan ini  bagi yang mempunyai dana di bank tersebut minimal 500 juta rupiah atau diberikan pada nasabah prioritas. Jumlah itu bervariasi di setiap bank, ada yang minimal memiliki dana 1 miliar rupiah,” jelas Desi.

 

Pahami Tujuan Investasi

Ada beberapa hal yang menurut Desi harus diperhatikan seseorang saat hendak  menggunakan sistem wealth management. Salah satunya, harus memiliki strategi investasi.

“Pertama harus tahu tujuan investasinya apa. Kedua, harus tahu dan mampu menentukan jangka untuk berinvestasi,” katanya.

Desi lantas mencontohkan sebuah keluarga yang ingin menyekolahkan anaknya ke luar negeri saat SMA. Untuk mencapainya, keluarga ini merencanakan investasi.

“Jika usia anak saat ini 6 tahun, berarti keluarga itu masih punya waktu 12 tahun untuk berinvestasi,” ungkap Desi.

Dengan jangka waktu dan tujuan yang sudah diketahui, ditambah sudah mengetahui profil risiko calon investor, pihak bank akan membantu melakukan aset alokasi.

“Jadi asetnya tidak ditaruh di satu keranjang. Tapi akan dialokasikan ke berbagai hal, lalu portofolio dibuat. Setelah itu baru menentukan produk apa yang cocok untuk kebutuhannya. Dari situ bisa diketahui berapa dana yang harus disimpan,” urai Desi lebih lanjut.

Setiap investasi tentu memiliki risikonya masing-masing. Tapi tak semua orang siap menerimanya. Karena itu profil risiko keuangan seseorang menjadi penting.

Untuk menghadapi ini, biasanya bank akan memberikan formulir atau kuesioner yang harus diisi nasabah. Pengisian itu menjadi dasar penilaian.

“Berdasarkan pembagiannya, ada tiga jenis profil risiko. Jika penilaian yang muncul konservatif, berarti orang tersebut cenderung menghindari risiko saat berinvestasi. Untuk tipe moderat, sudah berani mengambil risiko tapi belum terlalu tinggi. Terakhir tipe agresif yang artinya berani ambil risiko,” jelas Desi.

Mengelola aset yang kita miliki memang bisa kita lakukan sendiri. Tapi Desi menyarankan sebaiknya serahkan saja pada ahlinya.

“Mereka tidak hanya ahli di banking tapi bisa juga di investasi atau asuransi. Kalau di perbankan, bisa lebih dapat informasi dan layanannya lebih luas. Yang mengelola kekayaannya sendiri memang ada, tapi jarang. Mereka yang mengelola sendiri cenderung gagal karena informasinya terbatas,” Desi mengingatkan.

 

Tercatat 1,9 Juta Orang Miliki Dana Lebih Dari Rp 500!

Pengetahuan masyarakat terkait produk investasi jangka panjang yang masih rendah menjadi tantangan bagi industri wealth management di Indonesia.

Desi memaparkan, masyarakat kita masih suka dengan produk yang aman, bunga tinggi dan jangka pendek. Padahal, peluang industri wealth management di Indonesia masih sangat besar. Hal ini terlihat dari data dan fakta yang dikeluarkan LPS per April 2017.

“Total nasabah yang memiliki dana di perbankan lebih dari 500 juta rupiah sekitar 1,9 juta orang dengan total dana sekitar 2.500 triliun rupiah,” jabar Desi.

Selain itu, lanjut Desi, jumlah populasi high network individual (HNWI) di Indonesia dengan kekayaan antara USD 1 juta sampai lebih dari USD 10 juta di tahun 2016 ada 52.050 orang. Jumlah populasi ultra HNWI yang kekayaannya lebih dari USD 30 juta juga mencapai 1300 orang.

Karenanya, hal ini menjadi tantangan industri wealth management di Indonesia untuk terus mengenalkan sistem ini. Ditambah, pengetahuan literasi keuangan masyarakat Indonesia masih kecil, apalagi terhadap wealth management.

“Jika tidak mengenal, maka orang tidak akan mulai,” pungkas Desi mengingatkan.