Jaga Anak dari Kejahatan Seksual

Waspada, Media Sosial Bisa Jadi Gerbang Kejahatan Seksual

Waspada, Media Sosial Bisa Jadi Gerbang Kejahatan Seksual

Memiliki seorang putri dalam masa pra pubertas, Pramitha Matalini punya kegelisahan yang sama terkait kejahatan seksual yang mengincar di media sosial. Apalagi anaknya telah memiliki akun facebook.

 

Namun Mitha, demikian Pramitha Matalini akrab disapa tak mau khawatir berlebihan. Ia berusaha tenang sembari terus menjaga kewaspadaan.

Mitha sadar, ini eranya teknologi yang serbuannya dalam kehidupan sehari-hari tak lagi dapat dihindari. Begitupun pada keseharian anak-anak. Adalah pemandangan yang jamak jika anak-anak sudah akrab dengan gawai dan segala yang dapat diakses di dalamnya. Tak terkecuali media sosial. 

Karenanya Mitha tak mau terlalu keras pada Ara, putrinya. Ia bahkan mengakui memberi izin khusus pada putri sulungnya itu untuk memiliki akun media sosial saat naik kelas 3 SD.

Sebenarnya sejak lama Ara ingin memiliki ponsel pintar seperti teman-temannya. Mitha dan suaminya sepakat untuk menuruti permintaan Ara saat ia dapat melewati ujian kelas 2 dengan hasil memuaskan. Hitung-hitung sebagai penghargaan atas capaiannya.

”Jadi ceritanya waktu dia naik ke kelas 3 rankingnya naik ke 5 besar dari sebelumnya 12. Maka kami beri hadiah ponsel pintar. Fungsinya untuk bermain dan komunikasi. Fungsi komunikasinya, yakni aku tetap bisa memantaunya saat dia berada jauh dari aku. Sebab tuntutan pekerjaan membuatku sering ke luar kota. Dengan alat yang sama dia juga bisa berkomunikasi dengan saudara dan teman-temannya,” kisah Mitha.

Ada Aturannya

Sebagai pendukung komunikasi itu, di dalamnya Mitha memasang aplikasi WhatsApp. Tambahannya, ayah Ara meng-instal-kan facebook dan membuatkan akun atas nama Ara. Tentu dengan data usia yang berbeda karena umurnya belum memenuhi batas minimal, 13 tahun.

Pastinya bukan tanpa pertimbangan. Sebagai pengguna facebook, Mitha melihat banyak kreativitas yang dapat dicontek anaknya dari media sosial ini.

”Anakku seneng banget dengan prakarya-prakarya. Nah di facebook itu banyak sekali contoh dan tutorial yang dibagikan orang-orang, jadi aku bisa share ” ungkap Mitha.

Baca juga: Lagi, Orang Tua Diingatkan pada Ancaman Predator Seksual

Untuk mengantisipasi segala kejahatan yang mungkin mengintai di sana, Mitha dan suami sepakat memberlakukan aturan ketat. Tentu dengan penjelasan yang dapat diterima Ara

”Intinya sebelum dia menggunakan ponsel itu harus tahu manfaat dan bahayanya. Kami juga selalu mengawasi penggunaannya. Bahkan untuk facebook kami mengharuskan dia meminta persetujuan dari kami dulu untuk meminta atau menerima pertemanan,” tutur Mitha.                  

Mithaa hanya mengizinkan Ara menonton video cara membuat kreasi mainan atau hiasan tertentu. ”Aku nggak izinkan dia buka-buka video yang lain. Aku bilang ke dia banyak orang suka share yang seram dan sadis. Jadi dia takut. Tapi intinya memang karena dia nurut, dan aku ngasih ponsel juga karena aku nilai dia sudah bisa bertanggung jawab,” ungkapnya.

Karena kebiasaan ibunya, Ara juga kerap berbagi hal menarik pada eyang atau om dan tantenya. ”Kalau ada tugas di sekolah, dia share sama temennya juga lewat WA. Anak-anak kecil itu sudah punya grup WA lho!” seru Mitha.

Main Game Saat Mama Sibuk

Untuk fungsi hiburan, Mitha mengizinkan Ara bermain game dan nonton YouTube di saat dirinya sibuk dengan urusan bisnis atau lainnya. ”Mama dan papanya kan juga suka main game, jadi ponsel, laptop dan internet ibarat makanan setiap hari. Ya sudah anak-anak diajarin saja skalian,” kata ibu dua anak ini santai.

Dia mengaku tak khawatir anaknya bakal kecanduan gawai. ”Karena aku juga kasih banyak target di dunia nyata ini,” imbuh Mitha.

Mitha bersyukur Ara dan adiknya paham. Begitupun dengan aturan yang mereka terapkan pada akses terhadap YouTube.        

”Kayaknya kita nggak bisa lepas dari YouTube ya. Tapi kami biasakan Ara untuk meminta izin dulu sebelum membukanya dan memberitahu apa saja yang dia buka,” syukurnya.

Mitha menambahkan, ada aturan lain yang harus dipenuhi Ara. ”Kalau YouTube-an cuma boleh di rumah pakai wi-fi rumah. Lalu untuk search engine cuma kami kasih Google yang khusus untuk anak-anak. Lumayan dengan Google bisa bantu bikin tugas dan cari lirik lagu kesukaan. Kalau download sesuatu jelas dibantu papanya,” jelas Mitha.

Dengan segala yang dia dan suami terapkan, Mitha mengaku tidak memiliki ketakutan berlebih pada kejahatan di gawai, internet dan media sosial. ”Pastinya sebagai orangtua harus terus mengawasi dan mengikuti perkembangan zaman dan berita. Kalau ada game atau video di YouTube yang dianggap meresahkan aku langsung akses dan sampaikan ke anakku bahwa itu tidak baik buat dia. Kami harus jelaskan alasan-alasannya sebelum dia tahu dari tempat/orang lain yang aku ragu mereka bisa memberi pengertian baik,” tegas wanita 34 tahun ini.                       

Dengan sikap seperti di atas terhadap ponsel dan segala yang dapat diakses di dalamnya, Mitha berharap anaknya tidak mengalami euforia berlebihan terhadap kehadiran teknologi. ”Mereka menganggapnya sebagai alat saja. Jadi nggak lebay (berlebihan),” pungkasnya. *             

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Dok. Pri.