Maria Sharapova, Antara Lapangan Tenis & Bisnis Cokelat

Maria Sharapova, Antara Lapangan Tenis & Bisnis Cokelat

Wanita ini menjadi petenis cantik termuda ketiga yang meraih gelar Grand Slam di Wimbledon pada tahun 2004. Kini ia menjelma menjadi ratu lapangan tenis. Sebagai seorang olahragawati dengan berlimpah kekayaan, ternyata Sharapova sedang berusaha merintis karier di bidang lain.

Keluar dari image nya sebagai seorang petenis nomor satu dunia, Sharapova mencoba berbisnis di bidang kuliner. Ia rupanya tertarik berbisnis kudapan ringan, permen dan cokelat. Gula-gula yang diberi label, Sugarpova itu ditaksir bernilai 20 juta USD atau setara dengan Rp 266 miliar di tahun depan.
Dilansir dari tennisworldUSA, awal 2017, merek Sugarpova milik Maria Sharapova, dikabarkan semakin besar dan berkembang. Terutama premium bar cokelat yang baru diluncurkan. Setidaknya, premium cokelat akan dijual di lebih dari 50.000 lokasi pada akhir 2018.

Cokelat bukanlah satu-satunya senjata bisnis Sugarpova. Di tahun 2012, Sharapova berinvestasi sebesar 500.000 euro atau setara Rp 7,8 miliar untuk menjual permen dengan merek Sugarpovanya.  Jelas popularitas banyak membantu Sugarpova dikenal  dunia. Terlebih karena pemain tenis Rusia tersebut memiliki 23 juta pengikut di Facebook, Twitter dan Instagram.

"Media sosial adalah senjata rahasia Maria dan ia telah mengintegrasikan permen tersebut di media sosialnya. Kini ia sedang fokus untuk bisa mengembangkan bisnisnya lebih jauh lagi. Karena ia sadar, ketika sudah saatnya ia harus pensiun dari lapangan tenis, ia tetap harus memiliki karier untuk bertahan hidup," ujar Pat Kenny, Managing Director Traub Consumer, yang telah menangani Sugarpova sejak 2014.

Tersandung Kasus Doping

Perjalanan kariernya tak selalu manis seperti cokelat dan permen. Di balik gelar dan julukan Sharapova saat ini, ia juga ternyata pernah tersangkut kasus doping. Rasanya hampir semua olahragawan dunia pernah tersandung kasus serupa.

Maria mengaku telah menggunakan doping bernama Meldonium selama satu dekade terakhir. Ia beralasan, zat terlarang tersebut dikonsumsi untuk menyembuhkan beberapa penyakit yang diderita, seperti flu dan diabetes yang merupakan penyakit keturunan dari keluarganya.  

Namun Badan Doping Dunia (WADA) menganggap obat tersebut termasuk kategori doping. Sharapova menerima surat dari Federasi Tenis Internasional tahun 2016 lalu yang mengakibatkan mantan kekasih Adam Levine ini harus berhenti memegang raket karena terkena skorsing selama 15 bulan.  

"Aku tidak pernah tahu bahwa jenis obat yang kugunakan termasuk dalam kategori doping. Selama ini aku mengonsumsinya untuk menjaga daya tahan tubuhku saja, dan tidak memberikan efek kecanduan padaku. Tetapi jika memang itu salah, aku minta maaf. Aku membuat kesalahan besar dalam hidupku,” katanya dalam acara konferensi pers.

Namun kini Sharapova sudah dinyatakan bersih dan terbebas dari skorsingnya. Di awal Agustus lalu, ia berhasil mengalahkan petenis asal AS, Jennifer Brady dalam turnamen Bank of the West Classic di Stanford, California

 

3 Fakta Tentang Sharapova

Dikontrak Nike Sejak Kecil
Di usia 4 tahun, Sharapova sudah aktif bermain tenis. Walaupun latihan yang dijalankannya secara otodidak, namun membuat Yuri Yutkin, seorang pelatih profesional, terkesan dan melatihnya.
Maria mulai berlatih secara profesional sejak tahun 1993. Dan pada saat usianya baru 11 tahun, Sharapova sudah mendapat tawaran kontrak dari produsen apparel ternama, Nike.

Teriakan di Lapangan
Di atas lapangan, Sharapova tak hanya mencuri perhatian lewat penampilannya. Dia juga 'mengusik' penonton lewat teriakannya saat memukul bola. Saat tampil di Wimbledon 2005 lalu, tingkat kebisingan teriakan Maria tercatat mencapai 101.2 db.

Aktif di Program Amal
Sejak 2007 Sharapova ditunjuk sebagai duta Program Pengembangan PBB untuk bidang pemulihan Chernobyl. Pada tahun 1986, daerah ini mengalami musibah bocornya reaktor nuklir yang menyebabkan ribuan orang meninggal dunia dan ribuan lainnya mengungsi. Radiasi radioaktif juga menyebabkan banyak anak lahir dalam kondisi cacat dan sebagian penduduknya mengalami kanker.

--------
Teks: Rizkita Lubis
Foto: Istimewa