Pandai Mengatur Keuangan

Anda Shopaholic Atau Shopalogic?

Anda Shopaholic Atau Shopalogic?

Pernahkah Anda mengalami kondisi di mana Anda tidak mampu menahan keinginan untuk membeli sesuatu dan bersifat terus-menerus? Atau apakah Anda orang yang mampu menahan untuk tidak membeli hal-hal yang sifatnya tidak penting dan hanya fokus membeli apa yang memang dibutuhkan saja?

Berbelanja dapat mengeluarkan hormon endorphin yang menimbulkan perasaan senang, meningkatkan mood, bahkan bisa meningkatkan kekebalan tubuh. Oleh karena itu mungkin bagi wanita, belanja dijadikan media hiburan untuk menghilangkan stres dan beban pikiran. Begitu menimbulkan rasa senang, belanja kemudian menjadi jawaban bagi mereka, terutama wanita, yang ingin melepas stres.    

Padahal, sebenarnya yang terjadi ketika Anda berbelanja di saat stres melanda adalah hanya kesenangan sesaat saja. Hanya pada saat hormon endorphin muncul di momen berbelanja sedang berlangsung.

Perasaan bahagia itu perlahan akan sirna setelah proses belanja selesai, ketika Anda kembali ke aktivitas normal lainnya dan hormon endorphin berangsur turun. Bukan tak mungkin rasa stres dalam diri akan kembali muncul. Jika siklus ini Anda teruskan, tentu Anda akan semakin gila belanja. Itulah yang disebut dengan shopaholic.

Kasandra Putranto, Psikolog klinis, mengatakan dalam acara Wealth Wisdom Permata Bank beberapa waktu lalu, bahwa, “Shopaholic dalam artian klinis adalah adiksi atau kecanduan, yakni kondisi di mana seseorang tdk bisa mengendalikan diri untuk berbelanja. Sementara shopalogic adalah perilaku belanja yg cerdas, bijaksana, bisa mengendalikan diri, dan memiliki kontrol dalam berbelanja.”
    
Menjadi seorang shopaholic, kita tidak akan pernah merasa puas. Karena kesenangannya hanya sesaat, ia baru akan merasa bahagia saat berbelanja, dan ketika selesai berbelanja, rasa bahagia itu  hilang karena hormon endorfinnya kembali turun.

Selanjutnya Kasandra juga mengungkapkan bahwa belanja sebenarnya merupakan sebuah perilaku, yakni perilaku membeli. Maka, jika bicara mengenai perilaku, maka belanja sangat erat kaitannya dengan psikologis manusia.
Lain jika Anda berbelanja sesuai kebutuhan, mereka sangat menggunakan logika dalam kegiatan belanja mereka, terutama dalam memutuskan apakah barang yang akan dibeli adalah barang yang penting dan memang harus dibeli atau tidak. Biasanya orang seperti ini disebut shopalogic.

Benarkah Dipengaruhi Kondisi Finansial?

Banyak yang mungkin mengamini bahwa meningkatnya kondisi finansial seseorang akan membuat kebutuhan yang harus dibeli juga semakin bertambah. Akibatnya banyak dari Anda yang mungkin menjadikan ini sebagai alasan untuk membenarkan perilaku shopaholic Anda. Karena naik jabatan misalnya, maka Anda pun membeli barang-barang baru untuk menggantikan barang lama yang dirasa kurang pantas untuk dimiliki orang dengan jabatan tinggi seperti Anda.
    
Padahal sebenarnya, menurut Kasandra, “Kondisi finansial seseorang tidak berpengaruh terhadap perilaku berbelanjanya. Karena perilaku berbelanja itu adalah persoalan mental dari masing-masing orang. Orang yang shopaholic berarti mengalami suatu adiksi dalam berbelanja. Bahkan saat orang sudah menjadi shopaholic, ia tak lagi melihat dan mempertimbangkan kondisi finansialnya, karena ia mengalami dorongan yang sangat kuat untuk berbelanja, yang tidak bisa ia kendalikan.”


Tips Hilangkan Keranjingan Belanja

Bisa dikatakan shopaholic termasuk dalam kategori gangguan mental, di mana terjadi kecanduan dalam diri seseorang yang membuatnya tak bisa menahan keinginan untuk berbelanja. Ini merupakan hal yang serius yang jika dibiarkan dapat membuat kondisi finansial seseorang menjadi goyah, bahkan tak menutup kemungkinan baginya untuk jatuh pada kemiskinan. Lantas bagaimana menghindarinya? Berikut beberapa tips yang disampaikan oleh Kasandra:

  1. Jangan jadikan sebagai penghilang stress - Mulai dari sekarang, biasakan diri untuk mencari hal-hal lain selain belanja yang bisa menjadi penghilang stres, tetapi tidak menghabiskan uang. Misalnya dengan mendengarkan    musik kesukaan  sambil bernyanyi dan berjoget. Atau bisa juga dengan dengan bercerita pada sahabat atau orang yang dipercaya, tentang masalah yang Anda alami. Ini paling tidak bisa mengurangi tekanan dalam diri.
  2. Kritis sebelum membeli -- Disiplin perlu ditekankan lagi ketika memutuskan untuk membeli sesuatu. Coba Anda pikirkan baik-baik, apakah yang dibeli merupakan hal yang bersifat penting dan sangat darurat, atau hanya sekadar hal yang dapat memenuhi kesenangan Anda semata?
  3. Jangan terpengaruh kata ‘promo’ dan ‘diskon’ --  Promo dan diskon merupakan sebuah taktik penjualan semata. Biasanya sebelum diberi label diskon, penjual terlebih dahulu menaikkan harga barang tersebut. Atau bisa saja, yang sering terjadi selama ini, kata ‘promo’ dan ‘diskon’ adalah kata yang digunakan untuk menarik perhatian pembeli, karena kedua kata tersebut dapat membuat orang untuk berpikiran bahwa barang itu murah, dan sayang kalau tidak dibeli karena mungkin tidak akan ada diskon lagi nanti.

-----
Teks: Nydia Jannah
Foto: Istimewa