Hari Aksara Internasional

Trauma Kerusuhan 1998, Dianne Dhamayanti Buka Sekolah Pinggiran

Trauma Kerusuhan 1998, Dianne Dhamayanti Buka Sekolah Pinggiran

Bukan hanya pada Mak Nuriah. Jejak Dianne Dhamayanti dalam memberantas buta aksara sebenarnya sudah dia rajut sejak lama. Tepatnya ketika ia masih berjaya mengelola toko di Pasar Cikarang, Jawa Barat.

 

Ketika itu di sekitar pasar banyak remaja yang menjadi pengamen hingga kuli panggul. Mereka putus sekolah bahkan sebelum lancar baca tulis. Sayang Dianne tak lagi kembali ke pasar karena trauma pembakaran brutal.

Kebakaran yang membuat Dianne trauma adalah kerusuhan tahun 1998. Akibat peristiwa itu seluruh dagangan dan hartanya ludes, termasuk buku tabungan di ’bank keliling’ pasar yang disetornya setiap hari.

”Bayangin, uang dan dagangan yang saya kumpulin puluhan tahun tiba-tiba dibakar habis dalam beberapa jam saja!” seru Dianne, pandangannya menerawang jauh.

Dianne ingat, sehari sebelum peristiwa pembakaran itu ia belanja di Tanah Abang, Jakarta. Celakanya, semua belanjaan ditaruhnya di toko. Padahal biasanya sebagian dibawa pulang.

Keesokan harinya Dianne nekat ke pasar untuk mengecek kondisi tokonya. Saat itu masih tersisa hawa panas kebakaran. Bahkan sandal jepit karet yang dikenakannya nyaris meleleh. Ia lantas meminjam sandal kayu (bakia) pada satpam.

Ketika pintu terbuka, Dianne melihat dagangan bajunya masih tergantung dengan rapi. Namun begitu tangannya bergerak menyentuhnya, semua jatuh menjadi debu. ”Jadi sepertinya baju itu terbakar bukan oleh bara api langsung tapi panas yang ada di luaran,” ungkapnya.    

”Hanya tersisa celengan recehan koin yang saya simpan di sebuah kaleng bekas biskuit. Saya hitung, totalnya Rp 500 ribu. Sudah itu saja,” lanjut Dianne lirih.

Takut Terbakar Lagi

Keluar dari kiosnya hati Dianne makin ngilu menyaksikan beberapa mayat yang juga telah menjadi debu. Beberapa di antaranya terlihat berpelukan. ”Beberapa minggu kemudian saya masih gemetaran,” tuturnya.

Maka ketika yang lain mulai berbenah dan kembali ke pasar, Dianne bertahan di rumah saja. Dia tak sanggup melanjutkan usaha. ”Takut kebakar lagi,” katanya. Bahkan sekadar menengok kiosnya saja dia butuh waktu.

Mulanya Dianne di rumah saja menjaga dua anaknya yang saat itu masih berusia 8 dan 6 tahun. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan gaji suami yang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS).

”Tapi lama-lama saya berpikir, kalau gaji bapak saya ambil terus nanti beliau nggak bisa berangkat kerja lagi karena nggak punya ongkos. Selain itu rasanya nggak enak pula mengandalkan gaji suami. Mungkin karena saya terbiasa cari uang sendiri,” imbuh Dianne.

Untuk mengisi waktu luangnya Dianne mengantar anak-anak ke sekolah. Jeda waktu sebelum bel masuk berbunyi ia manfaatkan untuk mengajak mereka mengulang kembali materi yang telah dipelajari. Hasilnya putri-putrinya tergolong cukup menonjol.

”Ada ibu-ibu buta aksara yang sama-sama mengantar anaknya. Karena tidak bisa mengajari, ia minta tolong saya. Saat anak masuk kelas 5 dengan pelajaran makin sulit, ibu-ibu lain yang rata-rata lulusan SD pun nanya-nanya ke saya. Mereka meminta saya melayani les aneka pelajaran SD,” kisah Dianne.

Karena anak-anak masuk pukul 12 siang, Dianne memanfaatkan waktu satu jam sebelumnya untuk mengajar anak-anak di sekitar lingkungan sekolah. ”Sejak itu mulai timbul kesenangan mengajar dalam diri saya,” ujar Dianne mengenang.

Manfatkan Warung Sembako

Melayani permintaan les dijalani Dianne hingga anak-anaknya duduk di bangku SMP. Sembari menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung, ia memanfaatkan tawaran pinjaman dengan sistem cicilan. Uang itu bukan dia manfaatkan sebagai modal usaha, melainkan disimpan lagi dalam bentuk deposito. Ternyata menghasilkan.

”Seiring waktu uang yang terkumpul itu bisa saya pakai untuk membeli rumah yang sekarang jadi tempat belajar ini,” cerita Dianne.

Awalnya Dianne berencana memanfaatkan rumah keduanya ini sebagai toko sembako. Bahkan ia sudah memesan barang-barang yang akan diperdagangkannya. Namun tiba-tiba sang suami mengusulkannya membuka Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) berupa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

”Awalnya saya bilang nggak bisa, tapi bapak mengatakan coba saja dulu. Akhirnya penasaran juga, saya coba deh. Langsung saya kumpulkan anak-anak untuk belajar secara gratis. Responsnya bagus dan tanpa sadar ini menimbulkan kegembiraan,” ungkap Dianne.

Di tengah jalan, Dianne merasa ada dorongan untuk untuk berdagang lagi di pasar. ”Maka ketika ada seseorang yang melamar, saya merasa mendapat guru pengganti. Pikir saya, sekolah ini bisa saya percayakan pada orang lain sementara saya kembali berdagang di pasar,” tutur anak ketiga dari enam bersaudara ini.

Namun rupanya PAUD itu tidak berjalan baik tanpa campur tangan yang intens dari Dianne. Ia pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pasar. 

Baca juga: Tak Perlu Malu Mengejar Ilmu

Dianne meyakini rezeki ada saja jika Tuhan telah mengaturnya. Benar saja, semangatnya membangun PKBM Modeslavidi terdengar oleh beberapa perusahaan. Hasilnya, ia kerap diminta mengajar keterampilan tertentu pada kaum ibu.

Seiring waktu PKBM rintisannya kian maju. Selain PAUD dibukalah KB (Kelompok Bermain), hingga  Kejar Paket A, B dan C. ”Untuk Kejar Paket A (SD), B (SMP) dan C (SMA), ada biaya untuk tenaga pengajar. Tapi itu bisa diangsur, misalnya Rp 10 ribu seminggu,” ungkapnya.

Kelas Kejar Paket banyak diikuti oleh para pendatang yang bekerja di pabrik-pabrik seputar Cikarang. Seperti Rosita Dewi, seorang gadis asal Banyumas, Jawa Tengah yang sedang menjalani Kejar Paket C demi mendukung pekerjaannya di sebuah pabrik.

Ada pula anak warga sekitar yang mengikuti kelas Paket C lantaran sempat meninggalkan bangku sekolah karena keasyikan bermain game.

Kelas Para Ibu dan Homeschooling

Keistimewaan lain dari PKBM yang dibangun Dianne adalah kelas keterampilan gratis untuk ibu-ibu perkampungan di sekitar Cikarang. Tak hanya itu, ia melayani home schooling tingkat SD.

”Untuk pelatihan aneka keterampilan bagi ibu-ibu menyesuaikan dengan kesepakatan waktu di antara mereka,” ungkap Dianne.

Materinya juga beragam. Salah satu unggulannya adalah daur ulang sampah plastik menjadi aneka tas dan dompet, serta koran bekas menjadi beragam perlengkapan rumah tangga seperti piring buah dan kotak air mineral gelasan.

Untuk home schooling, menurut Dianne dia buka demi memenuhi permintaan masyarakat. ”Ada beberapa anak yang butuh penanganan khusus. Orang tua mereka merasa anak-anak ini tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah negeri yang satu kelasnya diisi sangat banyak. Namun mereka juga tidak punya dana untuk membayar sekolah swasta yang mahal. Jadi di sinilah mereka,” terangnya.

Ia lantas mengajak WI mengunjungi sebuah kelas yang ada di lantai dua. Terlihatlah keseruan tujuh anak yang sedang mengikuti kelas keterampilan. Pembimbing kelas lantas meminta mereka segera mengumpulkan hasil karya untuk selanjutnya istirahat dan makan siang. Pembimbing juga mengumumkan, usai makan siang mereka harus mengerjakan ulangan mingguan berdasar jenjang kelas masing-masing. 

Mengulas senyum Dianne mengucap syukur jika PKBM yang dibukanya berguna bagi masyarakat sekitar. Ia juga bersyukur kegiatan ini membuka gerbang perkenalannya dengan banyak pihak, bahkan berbuah penghargaan dan kerjasama menjalankan misi pendidikan bersama UNESCO.

Tengoklah dinding ruang kerjanya yang dipenuhi aneka foto, mulai dari pertemuan dengan pengusaha, menteri hingga presiden.

”Untuk misi bersama UNESCO, saya diminta berbagi pengalaman ke beberapa negara,” ujar Dianne sambil senyum.

Salah satu pengalaman berharga yang tak bisa dilupakan Dianne adalah saat diminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengajar di daerah perbatasan, tepatnya di Nunukan, Kalimantan*

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Tari, Dok. Pribadi