Hari Aksara Internasional

Karena Mayoritas Wanita Adalah Manajer Keuangan Keluarga

Karena Mayoritas Wanita Adalah Manajer Keuangan Keluarga

Di awal program PPSW (Pusat Pengembangan Sumber Daya Wanita) Jakarta pada akhir 80-an dibentuk kelompok wanita dan koperasi di Pondok Rangon. Tak lama berselang, dibuka pula kelas baca tulis. Sebabnya saat itu masih banyak wanita setempat buta aksara dan angka.

           

”Kami ajari dari hal sederhana, seperti menulis nama sendiri, suami dan anak-anak. Juga dari hal simpel di sekitar, seperti pintu dan meja. Tak ketinggalan pastinya tanda tangan dan mengenal angka. Oya, yang muslim kami ajari juga baca iqra,” cerita Tri Endang Sulistyowati, Ketua Dewan Direktur PPSW. 

Beberapa hal di atas menurut Tri adalah bekal dasar untuk kehidupan sehari-hari. Dia mengenang, untuk baca tulis saat itu pesertanya sekitar 40 orang. Intensif belajar, semua sudah lancar membaca dan menulis dalam waktu enam bulan.

”Pernah ada kejadian, suami yang tahunya sang istri nggak bisa baca kaget saat istrinya menanyakan sebuah bon rumah makan dengan angka cukup besar. Pertanyaan istrinya, ini makan dengan siapa?” tutur Tri seraya menirukan.

Akibatnya muncul konflik dalam keluarga tersebut. Bersyukur dapat terselesaikan dan sang istri menjadi kian percaya diri. Setiap kali ada bon tertentu ia tahu untuk pembelian apa dan sejumlah berapa.

Selain koperasi dan baca tulis, di Pondok Rangon dikembangkan pula program pertanian. Alasannya, tanah di wilayah pinggiran Jakarta Timur ini saat itu masih luas.

”Sekarang Koperasi Wanita Pengembang Sumber Daya (KWPS) Rangon Makmur Melati sudah besar,” imbuh Tri senang.

Berdaya dalam Banyak Bidang

Begitulah strategi yang selalu diterapkan PPSW ketika memasuki suatu wilayah untuk memberdayakan wanita-wanita miskin. Selain membentuk kelompok wanita dan koperasi wanita basis, dikembangkan pula potensi lokalnya. Aktivitas yang dirancang pun beragam.

Kenapa selalu membentuk koperasi? Menurut Tri karena mayoritas wanita miskin berjarak dengan lembaga keuangan. Ciri utamanya tidak punya tabungan.

Karena dalam benak mereka yang namanya tabungan adalah uang sisa. Sementara mereka merasa untuk kehidupan sehari-hari saja kekurangan.

Nah, dengan koperasi yang merupakan lembaga keuangan yang bisa dimiliki sekelompok warga, PPSW memberikan pendidikan keuangan sekaligus tempat praktiknya. Para anggotanya didorong melakukan simpan pinjam dan pengelolaan secara mandiri. Dengan begitu tanggung jawab dan sumber daya manusia setempat juga tertempa.

Karena milik warga, koperasi boleh saja dilengkapi berbagai kegiatan sesuai kebutuhan mereka. Dengan ciri khas demikian, PPSW menilai koperasi menjadi tempat yang tepat untuk para wanita berkumpul dan membangun solidaritas antar mereka.

”Jadi tidak melulu bicara keuangan, tapi bisa dibuat kegiatan lain supaya wanita lebih berdaya,” tegas Tri.

Kegiatan lain yang dia maksud diantaranya menyangkut bidang kesehatan, pendidikan dan kepemimpinan. Di bidang kesehatan Tri mencontohkan, koperasi menyediakan program tabungan atau pinjaman untuk papsmear.

”Karena papsmear sekarang makin terjangkau, bahkan bisa pakai BPJS, kami kerap menyelenggarakannya secara gratis. Caranya bekerjasama dengan lembaga tertentu. Kami juga sering mengundang nara sumber untuk bicara isu-isu kesehatan lainnya,” ungkap Tri.

Untuk bidang pendidikan, masing-masing koperasi disarankan membuat tabungan khusus pendidikan. ”Ini untuk memotivasi para anggota supaya menyiapkan dana pendidikan untuk anaknya sejak dini,” jelas Tri.

Bidang kepemimpinan diwujudkan dengan pelatihan-pelatihan para pengurus koperasi hingga musyawarah perencanaan pembangunan (Musrembang) bagi anggota. Menurut Tri, ini sekaligus menjawab kesempatan partisipasi wanita yang dijamin undang-undang.

”Kami dorong mereka ikut rembug mulai dari RT-RW dan seterusnya. Biasanya yang diundang dari perwakilan PKK saja. Nah mereka minta wakil koperasi diundang juga. Supaya bisa memberikan masukan pada pembanguan setempat. Misalnya mereka butuh ruang terbuka dan taman bacaan untuk anak-anak,” papar Tri.

Karena Usia Wanita Lebih Panjang

Mengikuti perkembangan zaman, PPSW pun menyesuaikan programnya. ”Tahun 2012 kami mulai konsen di pendidikan keuangan. Sebenarnya ini sudah menjadi isu nasional bahkan internasioanal sejak 2010. Banyak pihak mulai menyadari bahwa manajer keuangan dalam keluarga adalah wanita. Sayangnya sebagian besar wanita pengetahuannya masih rendah,” sesal Tri.

Ketika menggodok rencana ini, sebuah bank tertarik untuk membantu. Begitulah kemudian PPSW menerapkan replikasi Tsao Foundation Singapura. ”Tujuannya, menyiapkan perempuan menyambut masa tua yang sejahtera dan mandiri,” katanya.

Ini mengacu pula pada sebuah survei yang menyebut bahwa sebagian besar wanita lansia tidak mandiri. Rata-rata bergantung pada pasangan, atau keluarga besar. ”Mereka yang bekerja kantoran mungkin punya dana pensiun. Nah bagaimana dengan ibu rumah tangga yang di rumah?” tanya Tri.

”Tentunya harus punya juga. Karena itulah kami buat gerakan dana hari tua untuk perempuan sektor informal. Kami dorong mereka untuk punya tabungan hari tua, jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Misalnya satu bulan Rp 10 ribu dan terus berkelanjutan. Terserah mau diambil usia berapa,” lanjut Tri menjawab pertanyaannya sendiri.

Pertanyaan selanjutnya, kenapa perempuan harus mandiri? “Karena banyak penelitian membuktikan usia perempuan lebih panjang. Jadi kemungkinan besar akan hidup sendirian,” jawab Tri.

Tri senang banyak hasil positif dari ragam kegiatan PPSW. Ia lantas mencontohkan beberapa ibu rumah tangga di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Mulanya mereka merawat anak-anak di rumah saja, tanpa kegiatan produktif yang menambah pemasukan keluarga.

”Sejak bergabung di kelompok PPSW dan menjadi anggota koperasi seorang ibu berani meminjam modal untuk membangun wc umum dan lama-lama berkembang dengan sebuah kontrakan murah,” kisahnya seraya mengulas senyum.

Contoh lain seorang penjual pecel yang tempat tinggalnya saja masih mengontrak. ”Perlahan dia bisa meminjam uang di koperasi sebanyak Rp 250 juta untuk beli rumah. Sekarang rumahnya sudah bagus,” imbuh Tri.  

Beberapa koperasi binaan PPSW memang telah memiliki dana berputar cukup besar. Di Ciracas misalnya, asetnya sudah Rp 11,5 miliar. Jadi anggotanya ada yang bisa meminjam hingga Rp 500 juta.

”Pastinya dengan kriteria tertentu ya. Yang bisa meminjam tinggi itu tabungannya juga sudah besar-besar,” jelasnya.

Baca juga: Tak Perlu Malu Mengejar Ilmu

Cerita lain, seorang ibu yang awalnya mau keluar rumah saja sulit karena dilarang suaminya. ”Akhirnya kami nego dengan suaminya dan menjamin bahwa kelompok ini hanya untuk perempuan mengembangkan diri. Akhirnya ibu itu sekarang menjadi pengurus dan punya usaha yang berkembang,” lanjut Tri.

Tentang pendekatan dengan suami, Tri menyebut tidak berlaku pada orang tertentu saja. Sebab salah satu strategi PPSW adalah melakukan kunjungan individual pada anggota atau calon anggota.

”Jadi kami kenal dengan suami dan anak-anaknya. Ini diperlukan untuk menumbuhkan pengertian dari pasangan. Sebab banyak laki-laki yang tidak siap ketika istrinya lebih pintar dan berani. Maka laki-laki yang menjadi pasangan di kelompok wanita binaan PPSW kami beri pahaman. Ini sekaligus strategi untuk mengikis budaya patriarki,” imbuhnya.

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Tari, Dok. Pri.