Kisah Tragis Hendro di Balik 3 Medali Emas Sea Games

Kisah Tragis Hendro di Balik 3 Medali Emas Sea Games

Untuk kali ketiga, atlet jalan cepat Hendro berhasil membawa pulang medali emas di ajang Sea Games. Bahkan berhasil memecahkan rekor. Namun ada kisah tragis di balik prestasi itu.

 

Pesta olahraga ke-29 negara-negara di Asia Tenggara, Sea Games 2017, baru saja usai. Di antara 38 medali emas yang diraih Indonesia, salah satunya dari Hendro. Atlet jalan cepat ini untuk ketiga kalinya, berturut-turut berhasil merebut medali emas.

Padahal persiapan Hendro terhitung singkat. Dia pun sempat tak percaya diri. Apalagi ada kendala lain di lapangan yang membuatnya harus berjuang ekstra.

”Saat itu strateginya mengatur kecepatan, jangan emosi, yang penting tidak langgar aturan. Di lapangan ternyata berbeda, tuan rumah sudah menyiapkannya lebih baik dibanding kita. Mulai dari wasit sampai memberikan rintangan pertandingan seperti di dalam track. Itu sebenarnya beban untuk atlet karena di kejuaran internasional sekelas Asia Tenggara apalagi di jarak 20 km, itu jarang,” jelas pria 26 tahun ini.

Meski begitu, akhirnya Hendro menjadi juara pertama. Jarak 20 km berhasil ditempuh dalam 1 jam 32 menit 11 detik. Itu berarti dia memecahkan rekor Asia Tenggara, 1 jam 33 menit 47 detik yang sebelumnya diciptakan Harbans Singh Narinde, atlet Malaysia pada Sea Games 1999.

Ini menjadi cerita baru bagi Hendro yang sudah empat kali mengikuti Sea Games. Saat mengikuti Sea Games 2011 dia sedang dalam kondisi terkena cacar air. Pada pagelaran dua tahun kemudian, lutut kanannya masih dalam keadaan cedera.

Meski kondisinya kurang prima, Hendro berhasil mendapat medali emas pertamanya. Hal ini berulang sampai tiga kali.

Senang dan bangga tentu dia rasakan. Meski Hendro harus menyiapkan hatinya jika bonus yang diberikan pemerintah kepada para pemenang nantinya tak sesuai yang dijanjikan.

”Dari tahun ke tahun janjinya dikasih kerja dan bonus naik. Sebelumnya dapat bonus aja tapi tidak ada kenaikan karena janjinya ada kenaikan,” ungkap Hendro.

Demi Melanjutkan Sekolah

Tak pernah terlintas di benak Hendro akan menjadi atlet. Apalagi hingga berhasil merebut medali emas Sea Games hingga tiga kali berturut-turut.

Kedua orang tuanya yang asal Medan hijrah ke Bogor saat usia Hendro 7 tahun. Ayahnya bekerja menjadi kepala gudang di sebuah bengkel dan ibunya menjadi ibu rumah tangga. Berasal dari keluarga kurang mampu, dia kecil hidup dalam segala keterbatasan.

”Makan sehari sekali bisa pakai telur aja udah enak banget. Biasanya cuma nasi pakai kecap,” kenang anak kedua dari enam bersaudara ini.

Kesulitan ekonomi pula yang membuat Hendro nyaris tidak bisa melanjutkan ke jenjang SMA. Orang tuanya yang tidak sanggup membiayai mengatakan, jika ingin tetap sekolah maka dia harus mencari biaya sendiri.

”Saya pengin lanjutkan sekolah, dapat masukan dari guru olahraga untuk jadi atlet,” ungkap pria kelahiran 24 Oktober 1990 ini.

Perjalanannya menjadi atlet dimulai saat duduk di bangku kelas 3 SMP. Saat itu guru olahraga menyarankan Hendro mencoba jalan cepat. Jika tidak bisa juga, dia diminta tidak ikut latihan lagi.

Sebenarnya sejak kelas 1 SMP Hendro mencoba berbagai cabang olahraga di sekolahnya. Dia pernah mengikuti seleksi tim basket, sepak bola, voli sampai atletik, tapi tidak lolos. Walaupun pada awalnya, keikutsertaannya di berbagai olahraga itu agar memiliki banyak teman. Pasalnya, darah Tionghoa yang mengalir di tubunya membuatnya sering menjadi korban diskriminasi dan di-bully sejak kecil sehingga tidak punya teman.

”Segala seleksi yang dicoba itu gagal, kesempatan terakhir dari guru itu di jalan cepat. Pas coba jalan cepat dibilang bagus. Latihan tiga minggu diikutkan lomba tingkat provinsi dan dapat peringkat tiga se-Jawa Barat,” ungkap Hendro.

Hendro pun mulai menekuni jalan cepat. Awalnya orang tua tak memberikan izin. Mereka lebih senang anaknya berdagang, ditambah dia memiliki riwayat asma sejak kecil.

Meski dilarang, Hendro kerap diam-diam berangkat latihan. ”Kalau ketahuan latihan, saya pasti dipukul, dapat hukuman,” akunya.

Hendro tak mundur. Untuk menuju tempat latihannya di Cibinong yang berjarak sekitar 45 km atau sekitar 1,5 jam dari rumahnya di Cileungsi, dia harus naik angkutan umum.

”Pulang sekolah saya bawa sepeda ke Bantar Gebang, cari kardus atau besi bekas. Uang yang didapat dari situ buat ongkos saya berangkat latihan,” urai Hendro.

Walau saat itu masih kelas 3 SMP, Hendro tidak merasa malu. Prinsipnya, selama itu dilakukan dengan benar dan tidak mencuri. Berbagai pekerjaan yang pernah dicobanya tak lepas dari kesulitan ekonomi keluarganya.

Hendro mencontohkan, jika anak-anak seusianya punya komik, dia tidak sanggup membelinya. Sampai suatu hari pernah coba mencuri komik dan ketahuan.

”Itu membuat saya jera. Ayah saya mengajari, kalau mau cari uang ya harus usaha. Saya lakukan segala hal yang saya bisa. Jualan es, kerja di bengkel las, kerja di bangunan angkat semen, angkat pasir, memungut bola tenis di lapangan, pernah saya lakukan,” katanya lagi.

Pria bertinggi 177 cm ini kemudian mengikuti seleksi tingkat SMP, Pusat Pelatihan Olahraga dan Latihan Pelajar (PPLP), sepulang dari pekan olahraga pelajar nasional mewakili Jawa Barat. Dia akhirnya diterima dan mendapat beasiswa sehingga bisa melanjutkan SMA-nya di Bandung sekaligus terus berlatih.

Tapi hal ini ia lakukan tanpa sepengetahuan orang tuanya. Saat itu, Hendro hanya izin ke neneknya untuk main ke Bandung. Tapi ia tidak pulang-pulang dan sebulan kemudian ia baru menghubungi orang tuanya, menjelaskan kondisinya saat itu yang sudah bisa cari uang sendiri dan sekolah di Bandung.

”Mereka tetap tidak setuju, tapi kalau saya bersikeras silakan dijalani,” kata Hendro menirukan ucapan orang tuanya.

Pengalaman jauh dari orang tua mengubah pola pikir Hendro. Berbagai hal yang dia dapat selama SMA jadi pengalaman berkesan dan membuatnya mandiri. Dari menjadi atlet, dia juga bisa menlajutkan kuliah di UPI Bandung, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Program Studi Kepelatihan berkat beasiswa dari Pusat Pelatihan Olahraga dan Latihan Mahasiswa (PPLM).

Hendro mengenang, 10 tahun lalu dipanggil sang pelatih, Heri Surahno, dinyatakan masuk dalam tim nasional. Sejak itu, dia mulai merasakan perlombaan tingkat Asia. Ditambah ketika namanya masuk dalam tim Sea Games 2009. Baginya ini  penghargaan yang luar biasa.

“Saat rasanya seperti mimpi. Benar nggak ya masuk tim Sea Games, dan sempat dapat medali perak juga,” ungkapnya senang.

Tanpa Merah Putih

Hingga mampu merebut tiga medali emas Sea Games berturut, banyak hal yang sudah dikorbankan dan diperjuangkan Hendro. Terutama soal waktu dan masa mudanya yang dia korbankan untuk latihan.

”Waktu untuk bermain tidak ada. Saat SMA nggak punya teman, kalau ikut kerja kelompok paling hanya dua jam. Saya juga nggak ikut acara perpisahan karena bertepatan ada acara dan harus latihan. Banyak sekali yang dikorbankan,” kenang Hendro.

Perasaan jenuh juga bukan tak pernah dia rasakan. Begitu juga rasa kecewa dengan Indonesia. Contohnya, saat namanya tiba-tiba di coret saat Asian Games 2014 yang berlangsung di Incheon, Korea Selatan karena Hendro tidak dipercaya mampu bersaing.

”Saya sempat ditawari pindah ke Singapura, diberi segala fasilitas dan dibilang bisa ikut Asian Games tapi harus bela Singapura. Tapi, setelah dipikir lagi dan ingat pembekalan yang saya dapat waktu pelatihan pembentukan karakter, kalau saya pindah ke Singapura berarti saya mengkhianati bangsa saya,” ungkap Hendro.

Walau saat itu sedang marak isu sara terhadap etnik Tionghoa. Ada kalanya Hendro merasa menyesal dengan segala pengorbanan yang dia lakukan dan masih juga belum mengakuinya sebagai orang Indonesia karena darah Tionghoa dalam dirinya.

”Sebenarnya sampai sekarang masih belum menerima, tapi saya ingin buktikan kalau saya orang Indonesia. Berjuang untuk negara ini dengan menyumbang medali emas. Seperti kemarin di Malaysia, negara kita dihina, insiden bendera terbalik dan lainnya yang membuat kita emosi. Tapi saya buktikan tetap berjuang bela bangsa ini,” tegas Hendro.

Hendro juga pernah tidak jadi diberangkatkan saat Sea Games 2009, lalu mengundurkan diri dari pelatnas dan pilih fokus pada kuliahnya. Baru dua tahun kemudian dia diminta kembali ke pelatnas setelah meraih medali perak saat mewakili Indonesia di kejuaraan mahasiswa tingkat Asia Tenggara tahun 2010.

Setahun kemudian, barulah Hendro bisa mengikuti Sea Games pertama kalinya. Emas pertama berhasil dia dapatkan di Sea Games 2013.

Walau tidak terbayang bisa menang, Hendro tetap menaruh harapan dan terbukti bisa membawa pulang medali emas. ”Tapi saat itu sempat tidak puas karena tidak ada bendera waktu penghormatan pemenang dan tidak ada lagu Indonesia Raya. Selama ikut Sea Games empat kali, tiga di antaranya mendapat medali emas, baru Sea Games kemarin saya berselimutkan bendera merah putih,” sesalnya.

Selama ini Hendro tidak pernah diunggulkan meraih medali emas. Kemenangannya di Sea Games juga tidak diprediksi. Tapi lagi-lagi dia berhasil membuktikan kemampuannya.

”Kemarin ada teman yang bawa bendera dan dia percaya saya bisa dapat medali emas. Dia kasih saya bendera itu. Dua Sea Games sebelumnya hanya pengalungan medali emas saja. Gema lagu Indonesia Raya juga mengalun dari rekaman handphone melalui pembesar suara. Saat itu kecewa, tapi saya merasakan Indonesia Raya dikumandangkan dan kibaran bendera merah putih itu hanya untuk saya dan ini saya persembahkan untuk negara saya,” sesal Hendro.

Tak hanya untuk Indonesia, berkat menjadi atlet, kini Hendro bisa menggantikan orang tua untuk menjadi tulang punggung keluarga. Restu yang dulu tak didapatnya kini berubah menjadi rasa bangga dari orang tuanya. Bahkan menyarankan adik-adiknya mengikuti jejak Hendro. Dia pun kini ikut melatih adik bungsunya yang sudah masuk tim nasional sebagai atlet jalan cepat sepertinya.

”Sekarang saya bisa diakui, diterima masyarakat dan bisa makan tanpa harus pikirkan besok makan apa atau bisa makan apa tidak. Saya bisa pakai baju dan sepatu layaknya manusia,” tutur Hendro. *  

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Dok. Pribadi