Hari Aksara Internasional

Tak Mau Sepenuhnya Bergantung Suami

Tak Mau Sepenuhnya Bergantung Suami

Terpaksa mundur dari pekerjaannya di bank demi menjalani program kehamilan sempat membuat Rusyani senewen. Dalam benaknya, dia bisa stres karena bosan dan merasa tidak berkembang di rumah.

 

Untuk mengalihkan pikiran negatifnya, Rusyani sempat mengikuti les jahit dan berbisnis sprei serta jasa jahit busana. Ternyata usaha ini menguras tenaganya. ”Dokter bilang saya tidak boleh terlalu lelah jika ingin hamil. Ya sudah saya lepas,” cerita Ani, demikian sapanya.

Beruntung tahun 2002 Ani digandeng PPSW yang telah beberapa tahun mendampingi pemberdayaan wanita di Klender, Jakarta Timur. ”Waktu itu kebetulan dibutuhkan bendahara karena para pengurus koperasi sudah lansia. Saya punya pengalaman di bank jadi diminta membantu,” katanya.

Bergabung dengan kegiatan PPSW bukan hanya menambah kesibukan namun juga membuka cakrawala Ani. ”Ternyata saya tetap bisa memanfaatkan ilmu dan pengalaman saya. Bahkan bukan hanya untuk diri sendiri dan perusahaan yang menggaji seperti saat masih kerja kantoran, tapi untuk lingkungan sekitar. Kebahagiaannya berbeda,” tuturnya.

Sebagai pengurus Ani juga memanfaatkan pinjaman dan berbagai produk yang ditawarkan di koperasi, seperti Permata (Persiapan Masa Tua) dan Simpanan Pendidikan untuk anak-anaknya. Apalagi setelah mengikuti pendidikan keuangan.

Baca juga: Karena Mayoritas Wanita Adalah Manajer Keuangan Keluarga

”Pendidikan keuangan kemarin benar-benar membuka pikiran saya. Bagaimana di usia lansia kita harus punya tabungan dari usaha sendiri. Supaya tidak bergantung pada anak,” katanya.

Sejak itu Ani semakin bersemangat menekuni usaha. Memang tidak mudah tapi setiap proses membuatnya belajar. Satu tujuan yang selalu dipegang, dia ingin punya masa tua yang nyaman.

”Jadi sekarang serius menjalani bisnis pempek dan melayani les. Selain bisa punya tabungan sendiri, ini membuat saya bangga karena meski tidak lagi bekerja kantoran tetap tidak bergantung sepenuhnya pada suami,” pungkas Ani.

Menjadi Sarjana Keuangan Seumur Hidup

Literasi keuangan di PPSW digarap serius dengan pendidikan khusus yang harus diikuti secara lengkap selama 6 bulan tanpa putus. Sebagai bukti kelulusan, para peserta pun diwisuda.

”Mereka yang lulus mendapat gelar sarjana seumur hidup,” ungkap Tri Endang Sulistyowati, Ketua Dewan Direktur PPSW. Untuk mencapai kelulusan itu, mereka harus mengikuti kelas dua jam setiap minggunya untuk menyelesaikan enam modul yang berisi materi berikut:

1. Penilaian Diri dan Menatap Masa Depan

Materi ini semacam penyadaran dan motivasi bahwa perempuan pasti tua. Tapi harus tua dalam kondisi mandiri dan sejahtera, dan bahagia.

2. Membuat Anggaran dan Tabungan

Pada tahap ini peserta dikenalkan pada tabungan pendidikan dan sebagainya. Peserta digiring untuk berpikir bahwa tabungan bukanlah uang sisa. Jadi harus dialokasikan di awal. Misal pendapatan 100 ditabung 20.

3. Jaringan Perlindungan Keuangan

Dari lahir sampai mati seseorang butuh biaya. Jadi harus ada asuransi dan dana pensiun. Di koperasi ada asuransi Dasima (Dana Risiko bersama). Misal masih punya pinjaman tapi meninggal, ini akan dicover Dasima dan mendapat santunan. Pada materi ini peserta dikenalkan juga dengan program pemerintah seperti BPJS Kesehatan.

4. Pinjaman dan Utang

Dalam pertemuan ini peserta diberikan pemahaman boleh berhutang tapi harus disesuaikan dengan kemampuan. Disebut pinjaman yang bijaksana dan untuk hal-hal produktif. Bukan untuk belanja gaya hidup. Diajarkan pula bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan.

Baca juga: Trauma Kerusuhan 1998, Dianne Dhamayanti Buka Sekolah Pinggiran

5. Investasi

Yang didiskusikan bukan investasi papan atas seperti saham tapi tabungan jangka panjang. ”Yang menarik setiap wilayah ada keunikan. Di Jakarta trennya tabungan uang atau usaha kontrakan dan WC umum, di Aceh emas dan mayam, di Jawa Barat tanaman jati dan sengon serta ternak seperti sapi dan kerbau,” cerita Tri.

6. Rencana Keuangan

Pada tahap terakhir peserta diminta membuat semacam skripsi berupa tiga perencanaan,  meliputi dana hari tua, atau yang ke dua dan tiga bisa rencana pendidikan, atau ibadah seperti haji umrah, atau mengembangkan usaha.*

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Dok. Pri.