Hari Palang Merah Indonesia

Sekantong Darah yang Menyelamatkan

Sekantong Darah yang Menyelamatkan

Mendonorkan darah berarti memberikan bagian yang berharga dari tubuh kita kepada orang lain yang belum tentu kita kenal. Menakjubkan, sekantong darah kita dapat menyelamatkan nyawa seseorang.

 

Itulah semangat yang selalu digaungkan Palang Merah Indonesia untuk menggugah rasa kemanusiaan. Terlebih mendekati peringatan Hari PMI pada 17 September.

Menengok ke belakang, di tanggal yang sama pada tahun 1945 Presiden Soekarno secara resmi membentuk PMI. Diharapkan lembaga ini membantu pemerintah di bidang sosial kemanusiaan, terutama tugas kepalangmerahan sebagaimana disyaratkan dalam ketentuan Konvensi Jenewa 1949.

Dr. Salimar Salim, MARS, Kepala Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia DKI Jakarta menyampaikan, kemanusiaan dapat diwujudkan salah satunya dengan kepedulian berdonor darah. Ini sangat diperlukan untuk membantu pasien yang membutuhkan darah.

Aktivitas sosial ini nyatanya tak hanya menyelamatkan banyak nyawa, namun juga bermanfaat bagi pendonornya. Dari sisi psikologis, ada kebahagiaan bagi pendonor lantaran dapat membantu pasien yang sedang membutuhkan. Bisa saja darah kita berguna bagi pasien yang sedang melalui masa kritis.

”Donor darah juga membuat tubuh kita bereaksi membentuk darah baru. Jadi menyehatkan tubuh. Selain itu bisa mengurangi risiko terkena penyakit jantung dan ginjal. Manfaat lainnya, bisa mengurangi beban kerja ginjal pada tubuh,” papar Dr. Salimar.

Setiap harinya, sambung Dr. Salimar, wilayah DKI Jakarta saja membutuhkan seribu sampai 1100 kantong darah. Sedangkan secara nasional, setidaknya dibutuhkan 2% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 4 juta kantong darah. 

Darah hasil donor paling banyak digunakan untuk pasien penyakit dalam, seperti kanker, pendarahan pasca persalinan, thalasemia dan sebagainya.

Setengah dari total kantong darah yang dibutuhkan mengalir ke rumah sakit besar. Di Jakarta seperti RSCM dan rumah sakit lainnya, termasuk rumah sakit di wilayah perbatasan seperti Bekasi.

Banyak orang kerap bertanya, ”Kita mendonorkan darah secara gratis, kenapa saat membutuhkan harus membayar bahkan cukup mahal?”

Menurut Dr. Salimar, uang itu untuk memenuhi Biaya Pengganti Pengolahan Darah atau BPPD. Pasalnya, darah harus ditampung di kantong darah khusus yang harus dibeli.

Begitu juga pada waktu pemeriksaan hingga menjadi beberapa komponen darah. Ditambah pula penggunaan reagen untuk mendeteksi adanya penyakit berbahaya di dalamnya.

Pengecekan kualitas darah dari pendonor memang menggunakan teknologi Nucleic Acid Testing (NAT). Proses yang panjang demi menghasilkan darah yang aman dan berkualitas itulah yang membuat BPPD tidak murah.

”Saat ini, Rp 510 ribu per kantong darah. Khusus di DKI Jakarta ada bantuan pemerintah, jadi per kantongnya Rp 360 ribu,” jelas Salimar.

Perhatikan Syaratnya

Kebutuhan darah memang sangat tinggi, meski begitu PMI harus selektif dalam meloloskan pendonor. Sebab ada syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi. Berikut di antaranya:

  • Sehat jasmani dan rohani. Tidak mengidap penyakit seperti Hepatitis B, Hepatitis C, sifilis, dan HIV/AIDS
  • Usia minimal 17 tahun
  • Berat badan minimal 45 kg
  • Tekanan darah tidak boleh kurang dari 100/60 dan tidak boleh lebih dari 160/100
  • Kadar haemoglobin minimal 12 gram %  untuk wanita dan 12,5 gram % untuk pria.

 

”Jika setelah diperiksa pendonor ada salah satu syarat yang tidak dipenuhi, seperti tidur kurang dari empat jam atau sedang flu, maka tidak bisa melakukan donor. Disarankan pula untuk banyak minum sebelum donor dan makan dua jam sebelumnya,” jelas Dr. Salimar.   

Untuk memastikan darah yang diterima pasien aman dan berkulitas, setiap darah yang diambil akan melewati proses screening untuk empat macam penyakit yakni, Hepatitis B, Hepatitis C, sifilis dan HIV/AIDS.

PMI DKI Jakarta misalnya sudah memiliki alat berstandar internasional sehingga bisa mendeteksi lebih awal jika ada penyakit berbahaya. Jika ternyata ditemukan, darah tersebut akan dimusnahkan. Pendonor pun akan dipanggil secara pribadi untuk pemberitahuan mengenai hal ini.

Proses mulai dari donor darah, sampai darah masuk ke tubuh pasien memakan waktu sekitar 8 jam. Uji golongan darah juga dilakukan sampai tiga kali menggunakan alat otomatis sampai darah diterima pasien.

Selanjutnya, penyimpanan darah akan dilakukan secara khusus sesuai komponennya.  Misalnya untuk trombosit, plasma, atau darah merah. Semua disesuaikan dengan suhu yang diperlukan. Jika tidak pas, darah tidak bisa digunakan.

Yuk Jadi Relawan

Selain donor darah, PMI membuka pula kesempatan menjadi relawan kemanusiaan. Anda terpanggil? Jika ya datanglah ke kantor PMI terdekat.

Herman, Kepala Seksi Bidang PMR dan Sukarelawan PMI DKI Jakarta menjelaskan, ada penggolongan sukarelawan di PMI. Pertama, masyarakat yang pernah mengikuti donor darah sudah otomatis termasuk menjadi sukarelawan PMI.

Kedua, Tenaga Sukarela (TSR). Ini ditujukan bagi individu yang secara sukarela ingin bergabung dan mengaplikasikan keahliannya.

”TSR biasanya punya keterampilan atau latar belakang profesional. Misalnya, dokter, perawat, ahli gizi, teknisi dan sebagainya. Kalau ada kejadian atau bencana akan dimobilisasi berdasarkan kemampuannya,” terang Herman.

Selain itu, ada pula Korps Sukarela (KSR) yang menjadi ujung tombak PMI. Mereka yang bergabung akan menjalani pendidikan dan pelatihan selama 120 jam. Selama itu pula mereka akan mendapat materi seputar pengetahuan kebencanaan, manajemen bencana, water and sanitation dan sebagainya.

Usai mengikuti pelatihan dasar, mereka akan mendapat sertifikat dan waktu setahun untuk mengabdikan ilmu yang sudah diperolehnya. ”Setelah itu mereka bisa ambil spesiliasi bidang sesuai yang diinginkan. Ada 32 bidang, mulai dari ambulans, rescue, evakuasi dan sebagainya,” jelas Herman.

Bagi yang ingin bergabung sebagai KSR, dibagi menjadi unit markas dan perguruan tinggi.  Jika mahasiswa, bisa bergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Kepalangmerahan di kampusnya atau selain mahasiswa bisa datang ke PMI setempat karena pelatihan disesuaikan dengan wilayah masing-masing.*

Teks: Arimbi Tyastuti, Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Arimbi, Dok. Pribadi