Dini Fitria: Aku Sampai Minta Suami Cari Istri Lagi

Dini Fitria: Aku Sampai Minta Suami Cari Istri Lagi

Mungkin banyak orang mengenal Dini Fitria sebagai produser dengan program Jazirah Islam-nya yang sukses. Pada saat bersamaan ia menjadi penulis best seller seri cinta. Namun tak banyak yang tahu, pada masa itu ia divonis tak dapat punya anak dan dicurigai menderita kanker otak!

 

Bersyukur vonis tak memiliki anak dan dugaan menderita kanker otak itu tak terbukti. Nyatanya Dini Fitria tetap terlihat segar, cantik dan produktif di sela tugas utamanya membesarkan dua buah hati, Muhammad Everest Adziqa, 3 tahun, dan Raihana Almahyra Mumtaz, 2,5 bulan.

Begitulah yang terlihat saat WI menjumpainya pada Sabtu pekan kedua September lalu. Hari itu Dini menghabiskan waktu di rumah saja, di salah satu sudut kawasan Sawangan, Depok,  Jawa Barat bersama keluarga. Sebab Minggu, 10 September, dia harus naik ke salah satu panggung talk show di acara International Book Fair di Jakarta Convention Center.

Dini diminta berbagi cerita sejarah Islam di India sekaligus trik jalan-jalan di negeri Mahatma Gandhi ini. Tentu berdasar pengalamannya mengeksplorasi India dalam proses pembuatan buku ketiganya, Islah Cinta. Tak ketinggalan pastinya beragam trik menulis cerita perjalanan.  

Ini bukan kali pertama Dini menjadi nara sumber di berbagai festival buku. Tak jarang pula undangan datang dari kampus-kampus luar daerah. Sebab bukunya banyak dikupas sebagai bahan skripsi. Latar belakangnya sebagai jurnalis yang beralih menjadi penulis merupakan daya tarik tersendiri.

”Sayang terkadang waktunya bertepatan saat aku merawat bayi kecil seperti sekarang ini. Jadi terpaksa dilewatkan. Seperti kemarin ada undangan dari Solo terpaksa kutolak karena agak riskan kalau mengajak mereka pergi jauh dan aku sendirian,” sesal Dini.

Sebenarnya Dini sangat menikmati saat-saat ia menularkan ilmu. Entah tentang pengalaman menjelajah suatu negara atau bagaimana membuat tulisan menarik. Buatnya ini menjadi cara lain berbagi.

”Ya, kalaupun aku sudah tidak di dunia televisi, aku berharap bisa berbagi dengan cara lain. Entah dengan sharing, menulis buku atau menulis di media online,” sambungnya seraya mengembangkan senyum, memamerkan lesung pipit di kedua pipinya.

Bumbu Fiksi

Sejak 2015 Dini memang tidak lagi menjabat produser sekaligus presenter program Jazirah Islam. Ia tak memungkiri berat meninggalkannya. Program ini sudah seperti anak yang dilahirkannya dari nol dengan perjuangan berat.

Dini mengenang, Jazirah Islam terinspirasi dari salah satu perjalanan liputan senang-senang ke Korea Selatan pada tahun 2010.

”Aku pikir ngapain ya liputan senang-senang saja, ketawa ketiwi kurang ada isinya. Nah kebetulan saat itu menjelang bulan puasa, aku dengar ada yang menyinggung soal warga muslim yang sangat sedikit di tempat ini. Akhirnya aku meminta perpanjangan waktu untuk mengulik kehidupan sedikit warga muslim itu,” kisah Dini.

Ternyata tayangan pendek itu disukai pemirsa. Diputuskanlah membuat liputan serupa untuk Ramadan berikutnya. Seiring waktu liputan komunitas Islam yang minoritas di berbagai negara berkembang menjadi program tersendiri.

Pada awal penayangan Dini ditolak banyak kedutaan besar Eropa yang menjadi targetnya, seperti Spanyol. Ia kemudian memutuskan mengeksplorasi wilayah yang mudah ditembus lebih dulu, seperti Thailand, China dan India.

Cerita menarik di beberapa negara Asia ini lantas menjadi portfolio dan tiketnya menembus negara-negara di Eropa. Tahun 2011 Dini menjalani petualangan religi di Belanda, Jerman, Prancis, Italia, Austria dan Spanyol selama kurang lebih 2 bulan.

Merasa tak semua hasil petualangannya tersampaikan melalui media televisi, Dini mulai menulis buku, tepatnya novel. Genre ini dirasa lebih luwes karena dapat dibumbui romantisme dan humanisme. Ia ingin menyampaikan berbagai pengalaman yang menggetarkan hatinya menjadi sesuatu yang bernilai religius tanpa kesan menggurui.

”Misalnya ketika aku bertemu dengan seorang anak yang diperkosa ayah tirinya yang tinggal satu rumah. Bagaimana pula seorang mualaf yang terpaksa berpisah dari keluarganya karena masuk Islam. Dia terlunta-lunta di Belanda, masuk dari satu masjid ke masjid lain untuk menemukan seseorang yang mau menolongnya dan mengajari tentang islam lebih dalam. Ada pula cerita menyentuh seorang fotografer Italia yang masuk Islam, Stefano Romano yang sekarang menikah dengan orang Indonesia,” cerita wanita kelahiran 1982 ini.   

Begitulah kemudian Dini menuangkan perjalanannya di 6 negara Eropa ke dalam buku pertama Scappa per Amore (2013), sebuah bahasa Italia yang berarti ’Lari Karena Cinta’. Berlanjut pada 2014 ia membuat Scappa per Amore 2 dengan latar Amerika Latin.  

Kedua buku ini lantas dilirik penerbit lain dan diterbitkan kembali dengan judul berbeda. Isinya pun direvisi.

”Menjadi Musahabah Cinta, Hijrah Cinta, dan satunya Islah Cinta. Maka disebut Seri Cinta. Tokohnya tetap sama, Diva yang merupakan plesetan namaku, Dini Fitria. Lokasi dan cerita asli dengan sedikit bumbu fiksi,” ungkap Dini.

Sekali Periksa Gaji Habis

Dengan program Jazirah Islam yang menjadi salah satu unggulan dan bukunya yang laris nama Dini kian menggema. Mimpinya merantau dari Padang untuk menjadi wanita karier yang sukses di Jakarta terjawab sudah.

Namun ada ruang sisi hatinya yang lain terasa kosong. Jika ada yang mengatakan seorang wanita belum sempurna jika belum melahirkan seorang anak, itulah yang dirasakan Dini.

Saat itu, memasuki 7 tahun pernikahannya dengan Ponco Wijaya, Dini tidak juga hamil. Sebenarnya ia setengah pasrah, sebab dokter mencapnya tidak bisa punya anak.

”Penyebabnya sel darah putihku lebih banyak sehingga sperma suami tidak bisa membuahi. Ditambah lagi sebagai sesama jurnalis kami sama-sama kerap kelelahan dan dilanda stres tinggi. Bahkan bertemu pun jarang. Ada masanya aku hanya di Jakarta tiga bulan, selanjutnya terus bepergian,” jelas Dini lirih.

Dini mencoba cari pendapat lain dengan mendatangi salah satu dokter vertilitas senior di Jakarta. Namun kata-kata dokter ini justru membuat hidupnya terasa lebih hancur.

”Ini tak ada masalah dengan bapak, tapi sama Ibu…,” ujar dokter itu sambil menatap Dini tajam. ”Ada masalah di kepala kamu, bisa jadi kamu kena tumor otak atau sesuatu. Kalau tumor membesar bisa jadi kamu buta,” lanjut Dini menirukan kalimat dokter tersebut.

Dini lansung tercekat. Berbagai bayangan buruk langsung memenuhi kepalanya. ”Siapa yang tidak down dibilang begitu?” tanyanya.

Sebuah tes memang menunjukkan kadar prolaktin Dini sangat tinggi. Jika orang normal antara 5-25 nanogram per liter, ia mencapai 600. Dokter pun menyarankannya menjalani pemeriksaan MRI di rumah sakit lain.

Proses ini tidak hanya melelahkan secara batin. Gajinya yang baru masuk ke rekeningpun langsung ludes untuk menjalani pemeriksaan.

”Keluar dari rumah sakit aku berhenti di trotoar dan menangis sejadinya. Tidak peduli dilihat orang. Bahkan aku meminta suami untuk cari istri lagi karena aku tidak akan bisa punya anak,” ujar Dini dengan mata berkaca-kaca.

Itu adalah ujian yang luar biasa berat bagi Dini. ”Tidak ada tempat aku mengadu karena tak ada yang tahu tentang persoalan ini. Sementara di tempat kerja aku harus berusaha mati-matian membuat sesuatu dari nol sampai berhasil menjadi program yang sukses dan mempertahankannya,” keluhnya.

Dini memang putus asa. Namun sisi hatinya yang lain mengajak tetap berpikir positif, bersabar sekaligus pasrah. Mungkin memang Tuhan belum memberikan kepercayaan pada dirinya dan suami. Mungkin juga Tuhan memberinya kesempatan untuk belajar tentang kehidupan lebih banyak dari program Jazirah Islam yang dirintisnya.

”Ya, seiring waktu aku merasa diubah menjadi manusia yang lebih baik dalam perjalanan ini. Tuhan mempertemukanku dengan banyak persoalan berat yang diceritakan para narasumber yang aku jumpai. Ada yang tadinya kaya raya kemudian jatuh tersungkur miskin dan menemukan Allah. Ada pula yang terpaksa berpisah dengan keluarganya demi memeluk Islam,” kisah Dini.

Cerita-cerita itu membuat Dini menengok kembali masalahnya sendiri. ”Ternyata banyak orang yang mengalami persoalan lebih berat, dan apa yang aku hadapi itu tak ada apa-apanya dibanding mereka” renungnya. *

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Zulham, Dok. Pri.