Makan Bunga, Kenapa Tidak?

Makan Bunga, Kenapa Tidak?

Tahukah Anda, ternyata bunga tidak hanya digunakan sebagai dekorasi atau hadiah istimewa yang melambangkan kasih saja. Beberapa jenis bunga memiliki khasiat untuk tubuh dan bisa dikonsumsi. Terlebih saat ini, bunga menjadi satu bahan yang banyak digunakan sebagai bahan tambahan untuk sajian lezat.

Tren ini sebenarnya sudah mulai populer sejak tahun 2016. Edible flower, sebutan untuk bunga-bunga yang bisa dikonsumsi tak hanya ditambahkan sebagai hiasan.

Bicara mengenai sejarah edible flower itu sendiri, dan bagaimana bisa dikenal oleh masyarakat Indonesia, Astrid Enricka Dhita, chef cantik, owner dari Restoran Ayam Tangkap Atjeh Rayeuk, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mengatakan bahwa sebenarnya tren mengonsumsi bunga bukan merupakan suatu hal yang baru, melainkan sudah ada sejak zaman sebelum masehi.
     
“Setahu saya sih, sudah beberapa tahun edible flower (bunga, atau bagian dari bunga) digunakan sebagai elemen makanan. Kalau mau look back jauh banget, di jaman sebelum masehi pun edible flower sudah dikenal di era Yunani Kuno dan Romawi Kuno. Namun baru booming banget di Indonesia (khususnya Jakarta) sometime around 2016. Sejak Great British Bake Off di Inggris mempertontonkan desserts yang diwarnai edible flowers nan cantik, sejak itu tren ini menyebar ke mana-mana, termasuk Indonesia,” ceritanya.

Bunga Apa Saja?
    
Ada cukup banyak jenis bunga yang bisa dikonsumsi dan sering dikreasikan pada makanan. Beberapa di antaranya yaitu, bunga telang, bunga mawar, bunga melati, bunga kecombrang, lavender, kembang sepatu, bunga matahari, bunga telang, chamomile, chrysanthemum, bunga rosella, dan masih banyak lagi.

“Yang terpenting, make sure that it's organic. Sesungguhnya ada potensi bahaya yang mengintai dalam tren edible flower ini. Jika tidak organik, maka ada bahaya pestisida. Bisa membuat ruam juga. Plus, bisa menimbulkan alergi. Jadi, pastikan dulu bunga yang akan dipakai sudah diuji coba dan tidak menimbulkan alergi ya,” saran Astrid.

Peran Edible Flower dalam Dunia Kuliner
    
Karena bentuk dan warnanya yang cantik, edible flower sering dimanfaatkan sebagai culinary art, yakni sebagai garnish untuk mempercantik hidangan. Namun, apakah fungsinya hanya sekadar dekorasi saja? Ternyata tidak lho, sebab saat ini edible flower sudah banyak dimanfaatkan sebagai salah satu bahan campuran salad, serta untuk minuman, seperti teh yang dicampur bunga chamomile.

Sedangkan dalam kancah perkulineran Nusantara, menurut Astrid, yang telah berkutat dengan berbagai masakan Indonesia selama bertahun-tahun, edible flower memang lebih sering menjadi elemen pelengkap saja, bukan sebagai bahan utama. Kendati begitu, dalam beberapa masakan, edible flower justru memiliki peran yang cukup dominan. Seperti misalnya dalam nasi tumpeng biru, yang menggunakan bunga telang (clitoria ternatea) sebagai pewarna alami. Bahan utama (beras) berpadu apik dengan bunga telang, menghasilkan masakan yang cantik, unik, dan menggugah selera.

“Salah satu edible flower yang cukup common ditemui di makanan Indonesia, yakni bunga kecombrang, atau dalam bahasa sunda disebut honje. Bunga kecombrang ini bisa memiliki peran penting yang dominan dalam sambal, khususnya sambal kecombrang, atau rujak Sunda yang memakai kecombrang,” papar Astrid.

Namun tentu saja kita juga harus hati-hati menggunakan edible flower yang dicampur dalam masakan gurih. Masakan Indonesia memiliki kompleksitas bumbu yang memiliki layer pedas, asin, asam dan berempah, sedangkan edible flower memiliki aroma kuat dan tangy. Hal ini bisa berisiko mempengaruhi rasa makanan.

“Kalau melengkapi rasa masakan sih bagus saja. Namun kalau mempengaruhi in a bad way kan tidak baik juga. Sebab bagaimanapun rasa masakan tetap menjadi hal yang esensial dan selayaknya tidak di-over shadowed oleh kepentingan penampilan, sehingga "mengorbankan" rasa makanan,” tambahnya.

---
Teks : Nydia Jannah
Foto : Dok. Pribadi & Istimewa