Kenari Timur Rasa: From Jungle to Table

Kenari Timur Rasa: From Jungle to Table

Kacang kenari adalah bagian dari kekayaan tanah Indonesia yang layak diperkenalkan pada dunia. Bersanding setara dengan almond dan walnut yang kini lebih ternama. Itulah keyakinan Martin Kresna yang kini tengah diperjuangkan.

 

Dalam perjumpaan di sebuah kafe pada suatu siang di awal September, Martin Kresna menyodorkan sebutir kenari dengan taburan serbuk hijau daun kelor (moringa). ”Coba deh,” ujarnya seraya tersenyum.

Begitu memasuki mulut serbuk daun kelor meleleh menambah rasa manis pada biji kenari yang gurih. Rasanya unik.

Selanjutnya Martin mengeluarkan beberapa butir kenari berhias tumbukan kasar lada andaliman atau dikenal pula dengan sebutan ’merica batak’. Begitu digigit, varian yang satu ini menebar campuran rasa gurih, manis dan pedas yang sulit diungkap dengan kata. Bahkan setelah kenari tertelan melewati kerongkongan, rasa panas-panas dingin hampir serupa mint masih menempel di gigi dan gusi.

Gimana, kebas dan dingin ya? Itulah sensasinya, unik, kan?” tanya Martin meminta pendapat dengan senyum lebarnya. Saya pun mengangguk sepakat. Rasanya memang lebih unik dari yang pertama.

Karena keunikan itu pula, varian Sweet Andaliman Pepper produk Timur Rasa karya Martin dan kawan-kawannya ini terpilih menjadi salah satu kudapan yang dibagikan dalam acara puncak Bulan Rempah di Semarang akhir September 2017. Lolos dari sekitar seratus produk yang dikirim ke Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Kenari Sweet Andaliman bakal dicicipi Presiden Joko Widodo dan para tamu istimewa.

Bagi Martin dan kawan-kawan di Timur Rasa ini adalah prestasi membanggakan. Mengingat produk mereka terhitung masih baru.

Baca juga: Membangun Pertanian ala Generasi Digital

Martin berharap pencapaian ini kian mendorong kenari untuk melejit. Bukan saja di negeri sendiri namun diakrabi lidah warga negara tetangga. Sebutlah Singapura yang salah satu perwakilan retailnya sedang melakukan penjajagan untuk memasarkannya.

”Sebenarnya kami sudah mengirimkan pula ke Finlandia. Namun masih dalam bentuk kenari kupas. Produk yang sama akan dikirim pula ke Australia,” ceritanya lebih lanjut.

Kuliah dan Berhaji dengan Kenari

Makian, sebuah pulau kecil nan indah di Maluku Utara adalah salah satu surganya kenari. Sampai-sampai orang menjulukinya Pulau Kenari. Pohon kenari besar besar berusia ratusan tahun menghias setiap sudut pulau terlebih di bagian hutan pegunungan api Kie Besi yang masih aktif.  

Martin yang sempat tinggal beberapa waktu di Pulau Makian bercerita, kenari punya sejarah panjang. Konon pada era 1500-1700 kacang kenari Makian menjadi buruan saudagar-saudagar Eropa yang juga berburu rempah ke wilayah timur Indonesia ini. Setibanya di Eropa, kacang kenari menjadi cemilan mewah para bangsawan.

Sadar dengan komoditas yang dimilikinya, suku Makian menjaga baik-baik pohon kenari mereka. Bahkan saat berkali-kali Gunung Kie Besi meletus dan pemerintah melarang pulau ini ditinggali, masyarakat tetap saja selalu kembali. Sebab dengan memanen kenari mereka dapat mewujudkan cita-cita menguliahkan anak setinggi mungkin dan naik haji.

”Tidak heran jika orang Makian terkenal pintar-pintar dan pekerja keras. Banyak dari mereka yang menjadi pemimpin di sekitar Maluku dan Ternate,” ungkap Martin.

Namun belakangan pamor kacang kenari seolah meredup. ”Orang Indonesia kurang memperhatikan kacang kenari. Di Jakarta misalnya orang lebih senang pakai kacang kacang impor seperti almond, walnut, macadamia dan sebagainya,” urai Martin prihatin.

Padahal sebenarnya kacang kenari yang tinggi lemak dan protein ini tak kalah nikmat. Persediaannya melimpah pula. Bukan hanya di Pulau Makian dan beberapa wilayah Maluku dan Maluku Utara lainnya, kacang kenari juga banyak dihasilkan di Nusa Tenggara Timur, seperti Maumere. Bedanya kenari di NTT memang berukuran lebih kecil.

”Baik yang besar maupun kecil serapannya hanya sedikit, market-nya masih sangat kecil. Bahkan bisa dibilang hanya generasi tua yang mengenalnya. Anak-anak muda jarang yang mengerti tentang kenari. Jadi biasanya mereka menjual untuk kebutuhan lokal saja. Seperti untuk campuran kue bagea, klaper tart atau ikan kuah kenari. Atau bisa juga menjadi campuran kopi jahe,” lanjutnya.

Dengan misi meningkatkan pamor dan serapan pasar kacang kenari inilah, Martin dan kawan-kawannya mendirikan Timur Rasa. Slogannya From Jungle to Table, seperti caption salah satu unggahan foto kenari di Instagram Timur Rasa.

”Belum ada yang mengolah kacang kenari sebagai cemilan dan mengemasnya dengan menarik. Itulah yang kami lakukan,” tutur Martin.

Baca juga: Samantha Gunawan: Orang yang Bekerja Paling Keras Jadi yang Termiskin 

Melalui penjualan online di Instagram dan bergabung di beberapa toko maya sejauh ini Timur Rasa menyerap 500 kg kacang kenari per bulan. Padahal masyarakat bisa menyediakan 5 ton per bulan.

”Maka bagi kami Timur Rasa ini bukan sekadar bisnis tetapi juga movement (gerakan). Karenanya kami bekerjasama dengan beberapa komunitas masak, chef, baking dan pemerhati serta pelaku gaya hidup sehat. Konsumen terbesar kami adalah komunitas sehat, vegan dan baking. Untuk penelitian kami bekerjasama dengan LIPI dan Food Technology,” jelasnya.

Martin membayangkan, tingginya permintaan pasar akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Karenanya dalam waktu dekat melalui Nirudaya, yayasan sosial yang didirikannya, Martin akan melakukan pembinaan terhadap komunitas ibu-ibu di NTT. Salah satunya dengan melatih mereka mengupas kenari.

”Kegiatan ini dapat dilakukan di rumah. Sehingga sembari menjaga anak-anak mereka bisa mendapat penghasilan juga,” pungkas Martin berharap.*

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Dok. Pribadi

Hari Tani Nasional, Generasi Digital, Kacang Kenari, Martin Kresna

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments