Reka Agni Maharani: Memakmurkan dengan Hasil Tani di Desa Cihaur

Reka Agni Maharani: Memakmurkan dengan Hasil Tani di Desa Cihaur

Nama Reka Agni Maharani disebut sebagai salah satu penerima penghargaan Trubus Kusala Swadaya pertengahan Juli lalu. Alumni UI yang pernah menjadi wartawan ini dinilai sukses menggagas kewirausahaan sosial dengan konsep agroekologi di Desa Cihaur, Sukabumi Jawa Barat.

 

Sebenarnya Reka Agni Maharani tak sendiri. Bahkan bisa dibilang ia melengkapi karya suami, Samsul Asinar, akrab disapa Ma’Chan yang lebih lama bergelut dengan pertanian di Desa Cihaur.  

”Suami adalah aktivis lingkungan, pernah di Walhi Sumsel, membantu jaringan anti tambang, membantu KPA-Konsorsium Pembaruan Agraria dan sebagainya. Nah suatu ketika dia dipercaya dan ditantang untuk mengelola sebuah lahan rusak akibat monokultur (penanaman tunggal. Red.) teh berhektar-hektar selama bertahun-tahun di Desa Cihaur. Namanya Kebun Cijapun,” cerita Agni demikian sapanya.

Lebih dari delapan tahun Ma’Chan bekerja sama dengan para petani setempat mencari cara yang tepat untuk mengembalikan kesuburan tanah. ”Dari total 32 hektar yang dipercayakan, baru 12 hektar yang bisa digarap dengan baik,” terang Agni.

”Suami juga memanfaatkannya sebagai lahan edukasi atau training center pertanian untuk berbagai komunitas. Banyak yang datang dari Jakarta,” lanjut Agni.

Salah satu langkah mengembalikan kesuburan adalah dengan menanam pohon kemiri dan empon-empon (bumbu dapur) secara organik. Beberapa hasilnya beras hitam dan merah.

Beras hitam itu salah satu yang ditunjukkan Ma ’Chan kepada Agnia saat awal mereka pacaran. ”Ini kan laku di pasaran, lagi ngetren!” seru Agni pada waktu itu.

Akhirnya beras itu dibawa Agni ke tempat kerjanya, sebuah start up di bidang kesehatan. ”Saya kenalkan pada para dokter dan teman-teman, ternyata mereka suka. Saya bilang, kenapa tidak diseriusi? Suami tersenyum, ini pas dengan cita-citanya yang ingin mengembangkan desa Cihaur dengan menggali potensi dan membina para petani setempat,” ungkapnya.

Baca juga: Membangun Pertanian ala Generasi Digital

Begitulah kemudian Agni turut terjun ke Desa Cihaur. Sebagai mantan wartawan yang juga pernah menjalani peran Corporate Communication, ia mengonsep sistem pemasaran dan promosi. Salah satunya melalui media sosial dan toko online.  

”Mulanya nggak pakai nama Agni. Akhir 2015 saat kami akan menikah baru pakai nama Agni sebagai merek dagang. Sebenarnya itu agak gombalan dari suami, ingin nama saya diabadikan hehehe. Tapi ternyata Agni bisa juga menjadi akronim agroekologi Indonesia,” cerita Agni seraya tersenyum simpul.

Penambang Liar dan TKW

Jika awalnya mereka hanya beras hitam dan merah organik, belakangan bertambah aneka kripik singkong dan pisang dengan nama Kriat.

”Kriat (Kripik Rakyat, red.) merupakan inovasi camilan sehat baru dengan rasa asli tanpa tambahan MSG, pengawet dan pemanis buatan. Dibuat dari 100% bahan alami dan diproduksi oleh Ibu-ibu di Desa Cihaur, Sukabumi, Jawa Barat untuk Pemberdayaan Perekonomian Desa. KRIAT, Kripik Rakyat Kripik Sehat!” Begitu deskripsi yang tertulis sebagai penjelasan produk di beberapa toko online yang menjajakan kripik Agni.

Pemasaran kripik ini berawal dari perkenalan Agni dengan Ihat, seorang ibu di desa Cihaur. ”Ibu Ihat istri Pak Adjam yang bekerjasama merawat Cijapun sejak dulu. Ibu Ihat rajin membuat keripik pisang serta umbi-umbian. Awalnya ia menambahkan aneka rasa dari perasa sachet-an. Perlahan kami meminta beliau untuk membuat keripik tanpa MSG dan rasa-rasa ’buatan’ yang biasanya campuran pewarna serta pengawet,” kisah Agni.

Awalnya Ihat tidak percaya diri apakah keripik dengan model yang kami pesan akan laku dijual. Sebab warga sekitar menyukai yang selama ini dia tawarkan. Agni berusaha meyakinkan. Sebab tren gaya hidup sehat kian menggeliat di perkotaan yang akan menjadi sasaran pemasaran produknya oleh Agni. Benar saja, produknya digemari.

Untuk produk beras, produk Agni sengaja tanpa sertifikat organik. Bukan karena produknya tidak seratus persen organik, tapi Agni punya misi khusus.

”Sertifikat itu kan salah satu bukti agar pembeli percaya, sementara kami ingin mengubah mindset bahwa agroekologi itu beyond organic. Kalaupun kami suatu saat dipaksa membuat sertifikat, kami akan lihat dulu para petani ini sudah mendapat keadilan dan kesejahteraan belum dari hasil pertaniannya. Karena sertifikat itu kan musti bayar dan tidak murah, apa petani mampu? Kalaupun dibayarkan, biaya ini pastinya akan dimasukkan ke harga jual. Sementara niat kita menjembatani supaya hasil tani ini dibeli oleh masyarakat kota dengan sama-sama menguntungkan. Kalau mahal dan tidak dibeli, kami gagal dong?” jelas Agni panjang lebar dan mengajak merenung.

Misi besar lain yang ingin diwujudkan Agni dan suami di Desa Cihaur adalah mengembalikan semangat pertanian warga setempat. Ia prihatin, makin banyak lelaki di desa ini meninggalkan pertanian demi menjadi penambang emas ilegal.

Baca juga: Kenari Timur Rasa: From Jungle to Table 

”Padahal kalau dihitung-hitung hasilnya sama saja. Bedanya pertanian prosesnya lama, sementara dalam pikiran mereka yang namanya emas hasilnya besar. Mereka sampai melupakan risikonya yang besar, banyak warga kecelakaan bahkan tertimbun,” sesalnya.

Agni juga ingin mengumpulkan dan memberdayakan para ibu. Salah satunya dengan semakin banyak memproduksi kripik Kriat. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi niat para ibu rumah tangga yang selama ini nekat meninggalkan keluarga demi menjadi TKW.

Karenanya mereka memutuskan sebagian keuntungan dari Agni diperuntukkan bagi kegiatan studi dan pengembangan agroekologi di Indonesia, sekaligus pengembangan bisnis pertanian yang selaras dengan alam, adil bagi petani dan layak bagi konsumen.*

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Zulham

Hari Tani Nasional, Generasi Digital, Kripik Kriat, Pertanian Modern

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments