Mantan Penjual Nasi Padang, Presiden Wanita Pertama Singapura

Mantan Penjual Nasi Padang, Presiden Wanita Pertama Singapura

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Singapura memiliki presiden wanita dan muslim. Meski dianggap tidak melalui proses demokratis, sebagai satu-satunya kandidat presiden yang memenuhi syarat, Halimah Yacob bisa melenggang ke kursi presiden.

 

”Saya, Halimah Yacob, yang telah terpilih sebagai Presiden Republik Singapura, dengan sungguh-sungguh bersumpah, saya akan setia melaksanakan tugas-tugas saya,” ucap Halimah sambil mengangkat telapak tangan kanannya saat diambil sumpahnya, 14 September 2017 lalu.

Halimah yang malam itu mengenakan setelan pakaian warna coklat dipadu kerudung krem mengucapkan janji di hadapan Perdana Menteri Lee Hsien Loong dan lebih dari 200 tamu.

Bagi Halimah, ini adalah momen membanggakan bagi multikulturalisme dan multirasialisme di Singapura. ”Multirasialisme benar-benar dipraktikkan di masyarakat kita, bukan sekadar slogan. Semua orang punya kesempatan mencapai jabatan tertinggi di negara ini,” kata Halimah seperti ditulis channelnewsasia.com

Tak hanya itu, Halimah yang saat itu didampingi suaminya juga mengajak para wanita berani menggapai cita-cita mereka setinggi langit. Hal ini juga menjadi bukti keragaman gender di Singapura bukan hanya simbolis.

”Setiap wanita bisa bercita-cita memegang jabatan tertinggi di negara ini jika Anda memiliki keberanian, tekad dan kemuan bekerja keras,” kata Halimah di hadapan para pendukungnya.

Di sisi lain, penetapan Halimah sebagai presiden juga menuai protes dan kritik. Meski ini bukan pertama kalinya pemerintah setempat mendiskualifikasi calon presiden yang tidak memenuhi syarat, beberapa di antaranya menyebut Halimah adalah presiden terpilih yang tidak dipilih rakyat karena kemenangan mutlak yang diraihnya. Ada pula yang meragukan kemampuannya memimpin Singapura.

Sistem pemilu yang ditentukan Singapura sebenarnya tidak disetujui sebagian warganya. Pasalnya, warga lebih memilih calon presiden sesuai dengan kemampuannya. Sedangkan sistem pemilu saat ini bisa diikuti warga Singapura yang berasal dari etnik tertentu dan belum pernah mengikuti pilpres bisa mencalonkan diri.

Tagar #NotMyPresident atau bukan presidenku juga beredar di media sosial warga Singapura yang merasa tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Sebelumnya, tagar #NotMyPresident pernah digunakan ketika Donald Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat.

Ada yang berpendapat, tidak masalah jika presiden mereka dari etnik Melayu. Tapi, setidaknya biarkan warga menggunakan hak pilih, karena itulah yang sebenarnya warga Singapura permasalahkan. Namun, tak sedikit pula yang mendukung dan mengucapkan selamat pada Halimah.

Keluarga Miskin

Wanita berhijab ini tahu adanya keraguan yang dirasakan warga Singapura padanya. Tapi Halimah meyakinkan, meski ini adalah pilpres khusus, dia bukan presiden khusus.  Dia siap menggantikan Tony Tan memimpin Singapura sampai tahun 2023 mendatang.

”Saya berniat mengabdi bagi semuanya tanpa keragu-raguan. Saya presiden bagi semua orang, apapun ras, bahasa, agama, atau aliran kepercayaannya. Saya mewakili semua orang. Meski tidak ada pemilihan, komitmen saya melayani Anda tetap sama,” tegasnya.

Halimah yang memiliki moto Do Good, Do Together ini mengajak semua warga Singapura bersatu dan bersama menjadikan negara mereka lebih baik lagi. Menurutnya, saat ini mereka semua harus fokus membangun Singapura sehingga menjadi masyarakat yang lebih progresif.

”Dan kita harus bekerja sama dalam usaha ini. Tidak ada yang bisa mengatakan ini bisa dilakukan sendirian. Saya meminta agar kita fokus pada kesamaan yang kita miliki, bukan pada perbedaan kita,” kata Halimah dalam pidatonya.

Setelah resmi dilantik sebagai presiden, di akun facebook-nya Halimah mengunggah beberapa foto hari pertamanya di Istana Presiden. Seperti saat berkeliling istana yang juga menyimpan tentang sejarah Singapura. Dalam postingan berikutnya, Halimah merasa terhormat setelah dilantik sebagai presiden untuk semua warga Singapura yang datang dari berbagai etnik dan agama.

”Nilai multikulturalisme, meritokrasi dan penatalayanan Singapura berperan penting dalam membimbing bangsa melalui masa-masa sulit yang kita hadapi. Meskipun Singapura sudah membuat kemajuan besar, kita tidak boleh hanya bersandar pada kemenangan kita. Saya mengajak kalian semua bergabung dengan saya dalam perjalanan penuh arti ini saat saya bekerja menjadi presiden untuk semua orang Singapura,” tulis Halimah di facebooknya.

Dalam blog pribadinya, wanita kelahiran Queen Street, Singapura, 23 Agustus 1954 ini menceritakan perjalanan hidupnya yang pernah diliputi kesulitan semasa kecil. Ayahnya yang keturunan India dan bekerja sebagai penjaga keamanan meninggal karena sakit saat Halimah masih 8 tahun.

Sebagai bungsu dan satu-satunya anak perempuan dari lima bersaudara, Halimah lantas dibesarkan ibundanya, Maimun Abdullah yang keturunan Melayu. Kehidupan keluarga Halimah saat itu bisa dikatakan pas-pasan. Mereka harus tinggal berdesakan di satu petak kamar sebuah apartemen.

Ibunda Halimah pun harus berjuang demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Untuk itu, ibundanya bekerja di kedai makanan milik kerabatnya dan berjualan nasi padang. Sejak pukul 4 pagi ibunya sudah berangkat dari rumah untuk bekerja dan belum kembali sampai pukul 10 malam.

Sejak usia 10 tahun, Halimah sudah membantu ibunya. Mulai dari mencuci piring, membersihkan meja sampai melayani pembeli. Tak jarang karena itu dia bolos sekolah di Singapore Chinese Girls’ School.

Di sela membantu ibunya pula Halimah mengerjakan tugas sekolahnya. Sering absen dari kelas demi membantu ibunya membuatnya nyaris dikeluarkan dari sekolah.

”Itu adalah salah satu momen terburuk dalam hidup saya. Tapi saya berkata pada diri sendiri, berhenti mengasihani diri sendiri, angkat dirimu dan teruslah berjalan,” ungkap Halimah.

Tak sampai di situ, perekonomian keluarganya juga membuat Halimah kerap terlambat membayar uang sekolah. Tapi, hal itu tak meruntuhkan semangatnya untuk bisa sekolah setinggi mungkin.

”Saya pernah mengalami kemiskinan dan tahu betapa sulit untuk bisa bertahan hidup, berjuang mencari makan juga menghadapi segala ketidakpastian masa depan setiap hari. Kondisi ini membatasi pilihan Anda tapi juga bisa membuat Anda bertekad untuk sukses. Karenanya, prioritas saya saat itu menyelesaikan sekolah, mendapat kerja dan bisa membantu ibu saya,” tulis Halimah.

Menjadi Menteri

Selepas SMA, Halimah berada di antara dua pilihan. Antara menjadi guru atau kuliah di bidang hukum. Tapi, setelah mempertimbangkan dengan seksama, ia mendaftar di University of Singapore.

Meski tak tahu apakah bisa membiayai kuliahnya, Halimah tetap pada keputusannya. Beruntung berkat otaknya yang encer Halimah mendapat beasiswa 1000 dolar Singapura dari Islamic Religious Council of Singapore.

Untuk biaya hidupnya sehari-hari, Halimah bekerja di perpustakaan. Salah satu kakaknya yang sudah bekerja juga membantu 50 dolar Singapura setiap bulannya.

Usai menyandang gelar sarjana hukum, Halimah bekerja di Kongres Serikat Perdagangan Nasional (NTUC) tahun 1978. Latar belakangnya yang kurang beruntung membuatnya bertekad memperjuangkan hak para pekerja. Perlahan kariernya menanjak. Setelah menjadi staf, dia ditunjuk menjadi wakil sekretaris jenderal.

Karier politik Halimah dimulai tahun 2001. Saat itu dia mengatakan, tak pernah terlintas di benaknya berkecimpung di dunia politik. Dia juga tidak sekalipun membayangkan akan mencalonkan diri sebagai presiden.

Goh Chok Tong, Perdana Menteri Singapura saat itu lah yang mendorongnya terjun ke dunia politik. Mewakili wilayah Jurong dan Marsiling-Yew Tee, pemilu parlemen sejak 2001 berhasil dimenangkan Halimah.

Halimah yang awalnya tak berniat berkarier di dunia politik, 10 tahun kemudian ditunjuk menjadi Menteri Negara pada Pengembangan Masyarakat, Urusan Pemuda dan Olahraga Singapura.

Tonggak sejarah Singapura mulai ditoreh Halimah saat menjadi wanita pertama yang menjabat Ketua Parlemen Singapura tahun 2013. Selama itu dia gencar menyuarakan hak-hak perempuan, lansia dan masalah penyakit mental, juga menjadi pelindung asosiasi seperti asosiasi wanita muslim Singapura.

Selain itu Halimah pernah jadi perwakilan Singapura yang pertama di organisasi internasional buruh tahun 1999-2001. Setelah empat tahun memegang jabatan itu, dia mengundurkan diri pada Agustus lalu dan fokus untuk pencalonan dirinya sebagai presiden.

Keputusan mencalonkan dirinya sebagai presiden juga bukan hal mudah bagi Halimah. Dia yang menikah dengan pria keturunan Arab, yang juga teman semasa kuliahnya, Mohammed Abdullah Alhabshee, dikenal sangat dekat dengan keluarganya.

Setelah yakin akan mencalonkan diri, Halimah pun meminta izin suami dan kelima anaknya. Awalnya, anak-anak merasa keberatan dengan keputusan yang diambil ibu mereka. Setelah mendiskusikan hal ini lebih lanjut, akhirnya dia mendapat dukungan penuh dari keluarga.

Tetap Tinggal di Apartemen

Meski sudah dinobatkan sebagai presiden, Halimah tetap tinggal bersama keluarganya di apartemen miliknya di daerah Yishun, utara Singapura. Dia merasa lebih nyaman tinggal di apartemen yang sudah ditempati sejak lebih dari 30 tahun lalu itu.

Suami Halimah menjelaskan, apartemen dua lantai mereka memang cukup luas dan terdapat lima kamar. Mereka menempati apartemen ini tak lama setelah menikah.

Selain merasa nyaman, Halimah juga merasa kesehatannya terjaga karena dia pilih menggunakan tangga untuk mengakses apartemennya yang terletak di lantai 6 itu. ”Setiap pagi saya olahraga minimal 45 menit,” tambah Halimah.

Istana Presiden yang menurutnya sangat besar itu juga membuatnya ingin coba berolahraga jika mulai bekerja nanti. ”Saya punya kesempatan untuk jalan-jalan dan tetap bugar,” tandas Halimah.*

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Istimewa

Presiden Singapura, Nasi Padang, Presiden Wanita

Artikel Terkait

Comments