Kisah di Balik Si Geulis dari Bogor

Kisah di Balik Si Geulis dari Bogor

Di balik sukses penciptaan corak batik khas Bogor terdapat kisah yang begitu menyentuh.  Asal muasalnya pun tidak bisa dilepaskan dari Kota Yogyakarta.

 

Sekilas galeri batik di Jalan Salak No 2 Tanah Sareal, Bogor terlihat sama dengan deretan rumah lain di dalam komplek perumahan. Namun begitu kaki melangkah ke gerbangnya, suasana khas Kota Hujan langsung menyergap telinga dan pandangan mata.

Alunan musik tradisional Sunda mengiringi mata yang dimanjakan beragam motif batik khas Bogor. Mulai dari rintik hujan yang terlihat apik dalam sebuah kemeja pria berwarna biru hingga lembaran daun talas menghias gaun wanita tanpa lengan yang terlihat indah membalut sebuah manekin.

Lebih dalam lagi, beragam tas berdesain modern, tentunya berbalut kain batik juga, seolah melambaikan tangan minta disentuh dan dibawa pulang. Semakin ke dalam sihir Batik Bogor kian membius. Lihatlah tiga lembar kain dengan pewarna alam yang terlihat lembut dan magis bagai lukisan dalam sebuah kanvas.

Berbelok ke kanan perhatian teralihkan pada keramik-keramik cantik bermotif batik. Salah seorang karyawan menjelaskan, hiasan bati tersebut adalah sisa kain yang ditempel dan dilapis kembali sehingga terasa licin dan terlihat seolah dilukis.

Mundur ke bagian belakang galeri tampak dua pegawai sedang mencelup kain. Tak jauh dari mereka terlihat tiga orang lain asyik mencanting lembaran kain bergambar daun talas.

Kembali ke bagian tengah ruangan mendadak ada pemandangan menakjubkan. Siswaya, penggiat Batik Bogor sekaligus pemilik galeri Batik Bogor Tradisiku menggelar sebuah motif baru di atas rangkaian kertas besar berwarna hitam.  

Tampak kijang hidup berdiri di samping jalinan motif kujang dan kawung kenari yang saling bertautan. Agak rumit namun secara keseluruhan terlihat indah.  

”Semua itu merupakan tiga ikon Kota Bogor yang terlihat cantik. Maka kita namakan motif Trigel, kependekan dari Tri Geulis (3 cantik, red.),” cerita Siswaya seraya menggembangkan senyumnya.

Sebenarnya motif ini telah dibuat versi tulisnya dengan warna alam. Keindahannya membuat banyak tokoh Bogor terpukau. Karena prosesnya yang rumit selembar kain motif Trigel dibanderol jutaan rupiah.

”Nah karena banyak orang juga suka namun tak terjangkau jika membeli yang tulis, kami diminta membuat versi print. Tadinya ingin kami launching bertepatan dengan peringatan Hari Batik 2 Oktober, sayangnya tidak terkejar,” sesal Siswaya.

Ketika Diklaim Malaysia

Meski motifnya jauh berbeda, bicara tentang Batik Bogor tak bisa dilepaskan dari Yogyakarta, kota yang mungkin bisa disebut salah satu leluhurnya batik. Sebab pencetusnya memanglah pria kelahiran Kota Gudeg.

Pembatik awalnya pun diboyong dari Kota Gudeg. Dua pemicunya adalah gempa hebat yang melanda Jogja dan isu pengklaiman batik oleh Malaysia.

Ceritanya, ketika gempa besar melanda Yogyakarta pada 2006 Siswaya merupakan anggota Paguyuban Sleman Manunggal Sembada (SMS) wilayah Jakarta dan sekitarnya. Ketika melakukan baksos bersama SMS, benak Siswaya terusik. Pikirnya, kalau para korban hanya diberi bantuan bahan makanan dan kebutuhan harian bisa jadi sekali habis. Sementara banyak pengusaha batik yang juga jadi korban gulung tikar. Akibatnya, banyak warga kehilangan pekerjaan.

”Saat itu muncul ide bagaimana kalau sebagian dari mereka dibawa ke Bogor?” ucap Siswaya menirukan suara hatinya.

Ide itu sempat tertunda sekian waktu. Hingga akhirnya ramailah isu bahwa batik hendak diklaim Malaysia. ”Itulah gongnya!” seru Siswaya.

”Saya segera menyusun rencana untuk mewujudkan ide pembuatan sentra batik Bogor. Kan hadis yang mengatakan sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk sesama. Lagipula saya mencari makan di Bogor, jadi mungkin ini saatnya untuk memberikan sesuatu,” lanjut Siswaya panjang lebar.

Begitulah kemudian Siswaya membawa lima orang dari Jogja, terdiri dari empat pembatik satu pencelup. Langkahnya terdengar Wali Kota dan jajarannya. Hasilnya Siswaya dipanggil untuk mencanting dalam sebuah acara Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah).

Seiring permintaan membuat seragam Dekranasda motif kujang, diresmikanlah Batik Bogor Tradisiku pada 13 Januari 2008. ”Namanya lebih terdengar sebagai kalimat ketimbang merk, ya?” tanya Siswaya diiringi tawa.

Menurut Siswaya, rangkaian kata yang dijadikan merk itu adalah doa. ”Supaya masyarakat Bogor selalu pakai Batik Bogor sebagai salah satu tradisinya,” imbuh pria yang merantau ke Bogor sejak 1981 ini.

Tak Menyangka

Seolah alam merestui niatnya, peluncuran Batik Bogor Tradisiku diminta sebagai salah satu penanda ulang tahun Kota Hujan yang ke-527. Karena langsung diluncurkan Walikota Bogor saat itu, Diani Budiarto, Batik Bogor Tradisiku mendapat sorotan banyak media. Bahkan Budiarto saat itu berharap kehadiran Batik Bogor Tradisiku dengan motif Pusaka Pajajaran Kujang, rusa dan rintik hujan menjadi identitas Bogor.

”Pak Walikota saat itu mengingatkan saya agar siap-siap kebanjiran order,” tutur Siswaya yang juga dimasukkan dalam kepengurusan Dekranasda Bogor.

Benar saja, tak lama berselang dari peluncuran itu dirinya dibanjiri permintaan membuat seragam. Kepalang basah, Siswaya lantas menjual mobil dan rumahnya sebagai modal menyewa tempat serta berbelanja peralatan dan aneka kebutuhan bahan dasar.

”Awalnya di Cibuluh. Sekarang tempatnya masih ada, hanya kami khususkan untuk produksi batik printing. Karena kami diminta membuat yang murah supaya terbeli semua kalangan,” terang Siswaya.

Singkat cerita, banyaknya pesanan seragam dan mengikuti beragam pameran di berbagai ajang seperti Inacraft di Jakarta, modal besar yang digelontorkan Siswaya kembali dalam waktu tiga tahun.

Tidak hanya menjadi pusat pelatihan Kader Kementrian Perindustrian dari 33 Profinsi di Indonesia, Siswaya juga meraih segudang prestasi. Diantaranya Penghargaan Gugus Kendali Mutu dari Kementrian Perindustrian, Penghargaan sebagai Industri Hijau karena nyaris tiada limbah sebab semua jadi produk, juga mewakili Indonesia ke Jepang dalam Jtro (Japan External Trade Organization).

Tukang Batu dan Penjual Rongsokan

Siswaya jelas sangat bersyukur dengan pencapaiannya. Selain turut menghidupi sekitar 30 keluarga yang menjadi karyawannya, ia mendapat kesempatan bergaul dengan tokoh-tokoh ternama dan kerap diundang sebagai pembicara. Pengalaman yang tak pernah terbayangkan.  

Dengan mata berkaca-kaca Siswaya berkisah tentang masa lalunya yang miskin dan pahit. Dulu, ayahnya memang seorang pamong desa. Namun akibat terlena dengan permainan judi ia melalaikan tugas. Sempat tidak pulang ke rumah selama 7 hari, ayahnya lalu pamit merantau ke Lampung karena malu.

Di Lampung kehidupan tak menjadi lebih baik. Bahkan pernah tertipu seseorang yang membawa semua hasil penjualan harta ayah Siswaya di Jogja. Saat akhirnya mereka kembali ke Sleman, keluarga Siswaya tak punya apa-apa lagi. Sang ayah yang sakit-sakitan akhirnya meninggal tahun 1981.

Begitulah Siswaya yang putus kuliah pada semester tiga akhirnya merantau kerja serabutan di Bogor. Mulai dari tukang batu, tukang rumah, sampai jual rongsokan dari pabrik dia lakukan. Kegiatan terakhir akhirnya mempertemukan Siswaya dengan istri yang mendampinginya hingga sekarang turut mengurus bisnis batik. Putri-putranya pun dapat meraih gelar S2. *

Teks/Foto: Kristina Rahayu Lestari

Hari Batik, Wanita Indonesia, Batik Bogor

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments