Perkenalkan, Ini Motif Rambutan Parakan Khas Tangerang

Perkenalkan, Ini Motif Rambutan Parakan Khas Tangerang

Untaian buah rambutan parakan berwarna merah menjulur dari beberapa ranting berhias daun hijau. Itulah motif batik baru karya Ali Akipin, salah satu penggiat Batik Tangerang.

 

Ali Akipin yang akrab disapa Ali Taba mengatakan flora endemik memanglah salah satu sumber inspirasinya dalam membuat motif batik. Namun pesona rambutan parakan memiliki arti khusus baginya.

Bicara tentang batik membuat pikiran Ali melayang ke lima tahun lalu, saat ia sering berpetualang untuk melakukan syuting bersama tim rumah produksi yang dipimpinnya ke berbagai pelosok daerah.

“Di Lombok dan Sulawesi, ada beberapa kampung yang penduduknya menggantungkan hidup pada kegiatan menenun atau membatik. Mereka juga punya idealisme untuk membuat kain dengan motif kekhasan daerahnya sendiri,” cerita Ali.

Berbagai pengalaman itu memunculkan tanya dalam diri Ali, ”Kenapa Tangerang tidak mempunyai batik?”

Padahal, Kabupaten Tangerang memiliki ikon-ikon yang cocok dijadikan motif batik. Antara lain ayam wareng, kacang tanah, bambu dan rambutan.

Motif terakhir mengikat batin Ali dengan Legok, sebuah kecamatan di Kabupaten Tangerang yang tak lain daerah kelahirannya. Legok adalah salah satu habitat di mana rambutan parakan tumbuh subur.

Tanaman ini telah dinyatakan sebagai varietas unggul dan digemari karena rasanya yang manis, agak kering dan ngelotok (mudah terlepas dari kulit). Banyak warga yang mengandalkan hidup dari hasil panen buah semusim tersebut.

Baca juga: Menjaga Budaya, Menoreh Masa Depan

Namun kini, lahan untuk menanam pohon rambutan semakin tergerus oleh pembangunan pemukiman. Keberadaan pohonnya pun kian jarang ditemukan. Hal itu akhirnya mendorong Ali untuk mengabadikan rambutan parakan dalam motif batik.

Patenkan Tiga Motif

Soal seni membatik, pria 52 tahun itu mulai mempelajarinya sekitar tahun 1985. Ketika itu ia menempuh pendidikan seni rupa di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta (sekarang menjadi Universitas Negeri Jakarta).

”Di sana ada mata kuliah seni batik. Selanjutnya saya perdalam lagi melalui teman-teman dari Solo. Kebetulan saya punya beberapa teman kuliah yang merupakan warga Solo,” terang Ali.

Seperti kebanyakan pembatik, Ali mengaku kesulitan pada awalnya. ”Sulit sekali membuat garis lurus atau meliuk-liuk saat mencanting, karena lilinnya cepat sekali kering. Kelamaan di tangan, nggak netes lagi. Kecepatan, garisnya nggak rata,” kenangnya.

Namun seiring waktu kegigihannya membuahkan hasil. Bahkan Ali rajin mencipta berbagai motif.

Hingga saat ini, Ali sudah membuat tiga motif Rambutan Parakan. Pertama motif parakan ranggeuy, yaitu motif rambutan yang dibuat bertangkai. Kedua, motif parakan klasik yang menerapkan motif klasik batik Indonesia dipadukan dengan motif rambutan. Terakhir motif parakan natural, menggunakan stilasi motif rambutan namun tidak ekstrim.

Ketiga motif tersebut ia patenkan di tahun 2015. Namun yang baru dipasarkan secara luas adalah batik printing-nya.

Sebenarnya Ali juga membuat batik tulis, tetapi hanya sebatas menjadi koleksi. Sebabnya, permintaan batik tulis Tangerang masih minim.

”Perajin batik di Tangerang sendiri jumlahnya tidak banyak. Ada beberapa kendala yang kami temui sebagai perajin batik, diantaranya kelangkaan bahan baku dan promosi batik Tangerang yang masih tersendat. Sehingga untuk Tangerang yang memang tak memiliki kultur batik, orang-orangnya tak pernah berpikir jika Tangerang punya batik,” keluhnya.

Baca juga: Kisah di Balik Si Geulis dari Bogor

Tentunya, Ali dan para perajin batik Tangerang lainnya perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah. Selama ini memang ada dukungan pemerintah kabupaten, misalnya dalam bentuk pelatihan. Baik itu pembinaan dalam berbisnis, mengoptimalkan pemasaran dengan media sosial, hingga pelatihan ekspor. Beberapa kali ia juga dilibatkan dalam pameran. Namun semua itu belum mampu mengangkat pamor Batik Tangerang.

Filosofi Nyi Pohaci

Meski pamornya kalah jauh dengan beberapa wilayah lain yang sama-sama baru merintis batik khas daerah, Ali tak patah arang. Ia optimis usaha mereka akan membuahkan hasil suatu saat nanti. Setidaknya ia turut menorehkan sejarah.

Karenanya Ali terus menjaga nyala semangat dalam dirinya untuk menjalani usaha batik yang dia beri nama Batik Nyi Pohaci ini. Meski dia sendirian dalam mengerjakan semua proses produksi.

”Ada satu anak muda yang saya libatkan, tapi tugasnya lebih ke pemasaran. Baik lewat online atau door to door ke sekolah dan kantor dinas,” kata pria yang juga berprofesi sebagai guru seni budaya ini.

Sementara ini Ali belum berencana menambah pegawai. Sebabnya pesanan batik masih bisa ia tangani sendiri. Ali berharap, pelan tapi pasti usaha yang dirintisnya sejak 8 bulan lalu ini terus berkembang. Sehingga ia bisa membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

Seperti arti nama Nyi Pohaci, yaitu dewi kesuburan orang Sunda, Ali berharap usaha batiknya memberi kehidupan bagi warga di sekitar.

Sebagai langkah awal, setiap Sabtu Ali memberikan pelatihan membatik kepada ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya. Ali optimistis, orang tanpa latar belakang pembatik pun bisa dilatih asal punya semangat.

Ali punya mimpi, suatu saat nanti Kampung Bojong menjadi kampung budaya dan pusat batik Kabupaten Tangerang. ”Obsesi saya, selain membesarkan batik Tangerang, saya ingin warga di sini punya keterampilan. Sehingga, walau hanya di rumah tetap bisa berpenghasilan,” pungkas Ali berharap.

Teks/Foto: Lucia Vania

Hari Batik, Wanita Indonesia, Batik Tangerang

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments