Ratih Megasari Belajar Ikhlas dari Anaknya yang Multikelainan

Ratih Megasari Belajar Ikhlas dari Anaknya yang Multikelainan

Melahirkan anak dengan begitu banyak kelainan sungguh berat. Namun Ratih Megasari mampu melaluinya justru setelah belajar dari anaknya.

 

Sejak masih di dalam kandungan Ratih Megasari sudah mengetahui anak yang akan dilahirkan memiliki kelainan. Namun dia tak menyangka, ternyata kelainan yang disandang Adam Fabumi Kamaludin begitu banyak dan berat.

Salah satunya adalah kelainan kromosom, yatu Trisomi 13. Ratih berusaha memahami kelainan itu dengan bergabung grup chating Trisomi 18 yang gejalanya hampir mirip. Di grup itu pula mereka saling menguatkan, berbagi pengalaman dan informasi.

”Kalau aku kelihatan baik-baik saja itu berkat suami. Dia lebih bisa mengontrol emosi karena dia bilang kalau kami berdua panik siapa yang akan menenangkan,” kata Ratih.

Saat Adam divonis Dandy Walker juga menjadi momen yang membuat Ratih sangat terpuruk, dibanding saat Adam dinyatakan Trisomi 13.

Down banget, apalagi saat itu kan masih di kandungan dan belum kelihatan secara fisik akan seperti apa. Mungkin karena dari lahir udah masuk NICU lalu berbagai penyakit yang menyertainya, mental pelan-pelan dilatih. Ketika divonis Trisomi 13, sedih pasti, hanya aku nggak terlalu berlarut-larut seperti waktu hamil. Aku juga harus kasih ASI, kalau stres bisa terpengaruh, jadi sebisa mungkin nggak mau terlalu kepikiran. Adam kan sudah berjuang di NICU jadi setidaknya aku di luar juga berjuang untuk dia,” papar Ratih.

Sebagai ucapan terima kasih kepada mereka yang senantiasa mendoakan, Ratih setiap hari mengabarkan perkembangan Adam. Dia pun selalu membuat caption yang tidak menunjukkan putraya sedang sakit. 

”Aku berpikir, anak ini tidak terlalu sakit. Kami melihatnya dia kuat banget dan termasuk bayi aktif. Bukan yang diam, lemas dan tidur-tiduran. Melihat dia seperti itu, kami juga jadi semangat,” tambah Ratih.

Baca juga: Anaknya Alami Multikelainan, Ratih Megasari Tak Menyerah Meski Dokter Angkat Tangan

Akun Instagram Adam awalnya juga untuk memberi penjelasan kepada kelaurga dan sahabat yang ingin mengetahui kondisinya. Apalagi saat masih di NICU tidak semua orang boleh masuk. Dengan melakukan video call melalui satu handphone berfitur live di Instagram, semua bisa melihatnya.

”Banyak banget yang mendoakan dan sayang Adam. Mungkin itu yang membantu kondisinya karena doa-doa itu diijabah,” ujar Ratih sambil tersenyum.

Merawat putranya yang mengalami banyak kelainan membuat Ratih mendapat banyak pelajaran. ”Diajari sabar, pantang menyerah dan terus berjuang. Aku jadi lebih menghargai waktu. Karena kami nggak tahu apa yang akan terjadi dengan anak Trisomi 13 seperti Adam. Hal-hal ini mungkin sebelum ada Adam tidak aku sadari,” akunya.

Bagai Buah Simalakama

Setelah keluar dari NICU, pelan-pelan kondisi Adam membaik. Secara signifikan dia juga bisa lepas dari ventilator yang digunakan selama di NICU.

Hanya masalah utama tetap pada jantungnya. Dokter pun tidak berani mengambil risiko mengoperasi Adam karena banyak kelainan yang menyertai sehingga begitu membahayakan.

”Normalnya jantung, darah bersih masuk ke darah kotor. Tapi ini yang terjadi sebaliknya karena tidak ada tindakan apapun. Kalau tidak ada tindakan juga berdampak ke paru-parunya. Bisa gagal napas dan gagal jantung. Seperti buah simalakama, tidak dioperasi kondisinya memburuk tapi kalau dioperasi berisiko tinggi,” jelas Ratih. 

Rencana operasi jantung pun masih menunggu tim dokter yang menangani Adam. Shingga saat ini harus bolak balik ke rumah sakit untuk diobservasi menyeluruh.  

Beberapa waktu lalu, Adam sempat dibawa ke Singapura. ”Tadinya mau operasi di sana. Coba ke beberapa rumah sakit, cuma satu dokter yang mau operasi. Kata dokternya, operasi bukan untuk menyembuhkan, setidaknya mengurangi beban jantung dan alur darah yang masuk ke paru-parunya karena paru-parunya kebanjiran darah dan sekarang dia ada Pulmenary Hipertension, ada tekanan cukup tinggi di parunya. Kalau dioperasi takut jadi bumerang buat dia,” urai Ratih.

Ratih dan suaminya pun akan mencoba segala cara untuk mengobati Adam. Mereka ingin mematahkan anggapan dokter bahwa peluang bertahan hidup putra mereka kecil. Apalagi hingga kini Adam masih bisa bertahan.

”Kami ingin dia sehat walaupun penyakit ini tidak ada obatnya. Semoga dia bertahan sampai dewasa karena ada data yang menunjukkan presentasi kecil seperti itu. Semoga Adam termasuk di dalamnya,” harap Ratih. *

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto: Muchammad Nur Ridho dan Dok. Pribadi

Adam Fabumi, Dandy Walker, Kiagoos Herling Kamaludin, Kelainan Kromosom

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments