VoB: Musik Metal 3 Gadis Pesantren

VoB: Musik Metal 3 Gadis Pesantren

Menjalani hobi yang jarang dilakukan wanita, apalagi yang berhijab, membuat mereka kerap dicibir. Namun mereka pantang mundur. Hasilnya? Prestasi.

 

Dentuman drum menggema ke seluruh ruangan, cabikan bas dan petikan gitar yang melengking membuat semua mata tertuju ke satu penjuru. Di sana berdiri tiga dara manis dengan gaya hijab serupa.

Sekilas penampilan ketiganya sama seperti gadis seusia mereka. Bedanya, aliran musik metal yang kini sudah menjadi bagian hidupnya.

Ya, dari sekian banyak aliran, musik metal memang memiliki tempat tersendiri di hati ketiga remaja asal Garut ini.

Semuanya berawal di tahun 2014 saat mereka masih duduk di kelas 2 Madrasah Tsanawaiyah, setara SMP. Firda Kurnia (gitaris, vokalis), Widi Rahmawati (basis) dan Euis Siti Aisyah (drummer) mengikuti ekstrakurikuler teater di sekolahnya. Kemudian mereka merambah drama musikal.

“Lalu kami malah jatuh cinta dengan musik, saat itu belum ke metal, genrenya masih smoothie funky roll, ” jelas Firda.

Para remaja yang masih berusia 16 dan 17 tahun ini  awalnya bermusik dengan tujuh teman lainnya. Tapi akhirnya, tinggal mereka bertiga yang melanjutkan bermusik. 

“Sebenarnya kami punya genre masing-masing. Siti suka metal, Firda suka nge-rap, lalu kami mendengarkan musik-musik keras seperti Slipknot, System of A Down, Linkin Park dan Red Hot Chilli Paper, kok enak ya. Akhirnya kami merasa ini aliran musik yang kami cari,” jelas Widi.

Mereka kemudian sepakat membuat grup dengan nama Voice of Baceprot, disingkat VoB. Dalam bahasa Sunda, baceprot artinya berisik atau bawel. Siti melanjutkan, ketika mulai membentuk band, orang tua mereka tidak mengizinkan. “Sempat kecewa. Seperti patah hati,” ungkap Firda.

“Kami tidak diizinin latihan dan tampil. Mungkin karena aliran metal dianggap nggak identik dengan perempuan,” sambung Siti.

Sebab lainnya, latihan dilakukan setelah sekolah jadi pulangnya kesorean. “Mama mungkin terpengaruh omongan tetangga. Cewek kok pulang sore, bawa-bawa gitar pula mau jadi apa?” tiru Widi menimpali.

“Sempat merasa hebat karena sudah jadi musisi. Tapi, ketika orang tua menentang jadi kecewa. Mereka bilang, kalau sudah menikah nggak bakal terpakai juga nge-bandnya,” lanjut Widi lagi.

Buktikan Lewat Prestasi

Bukan hanya dari keluarga atau lingkungan sekitar, banyak pula yang mencibir dan memberi komentar negatif terhadap pilihan mereka. Tapi ketiganya tak patah arang. Firda, Siti dan Widi tetap semangat bermusik hingga akhirnya nama VoB mulai ramai diperbincangkan di media sosial.

Satu persatu media mendatangi dan mengundang VoB tampil di televisi. Tak hanya itu, media asing seperti South China Morning Post dan New York Times pun turut menulis kisah mereka.

“Masih bagaikan mimpi kami kini dikenal luas. Tapi senang juga bisa membanggakan orang tua,”  ungkap Firda.

Ya, setelah banyak yang mengenal VoB, memenangkan sejumlah festival musik, perlahan orang tua mereka mulai memberi dukungan. Meski begitu, orang tua mereka tetap berpesan untuk selalu jaga diri di manapun mereka berada.  

“Mungkin sekarang mereka mulai percaya. Dulu melarang karena ketidaktahuan mereka apalagi musik metal identik dengan hal negatif,” kata Firda.

“Ketika kami masuk tv di acara musik pagi, tetangga-tetangga pada nonton bareng di satu rumah. Di sekolah juga sempat di stop dulu jam belajarnya pada nonton bareng,” kata Widi senang. Selain Jakarta, mereka sudah tampil di kota-kota di Jawa Barat.

Para personil VoB kini duduk kelas 2 SMK sekolah berbasis pesantren. Karenanya mereka mengambil tawaran manggung di akhir pekan saja. Kalau pun terpaksa meneriwa tawaran di hari sekolah, pastinya dengan benyak pertimbangan dan izin dari pesantren.

Untuk urusan lirik lagu, VoB dibantu sang manajer. Sedangkan aransemen biasanya mereka buat sendiri. Tema lagu mereka tak jauh dari keseharian dan curahan hati. Sebutlah Enemy of The Earth.

“Lagu ini bentuk kesedihan kami. Sebagai orang desa yang biasa bermain di sungai, sawah, gunung, tapi sekarang tempat bermain kami itu dirusak,” papar Firda.

Sudah memiliki lima single, VoB berharap tahun ini bisa mengeluarkan album. Penghasilan mereka selama ini pun dikumpulkan untuk pembuatan album yang sudah berjalan 50%.

“Dari hasil manggung juga untuk jajan dan kebutuhan pribadi. Jadi, nggak minta orang tua lagi,” kata Firda bangga.

Baik Firda, Siti maupun Widi menyadari banyak tantangan dalam bermusik. Di antaranya mempertahankan konsistensi dan mengubah pandangan orang tentang wanita berhijab yang memutuskan nge-band seperti mereka. Apalagi VoB memilih genre musik metal.

“Masih ada yang suka nyinyir karena penampilan kami tidak meyakinkan, tidak seperti anak metal. Tapi kami enjoy aja, dengan begitu makin tidak ada beban,” tutur Widi.

“Buat kami musik sudah jadi bagian hidup. Kami menemukan jiwa di musik ini. Kami buktikan lewat prestasi. Jadi pembicara di sekolah-sekolah, berbagi motivasi untuk percaya diri. Menurut kami, Indonesia nggak kekurangan remaja berbakat tapi kekurangan remaja berani, jadi kami mengajak para remaja tampil beda dan berani,” pungkas Firda menyemangati.

Teks: Arimbi Tyastuti   I   Foto:  Dok. Pribadi

Hijabers, Musik Metal, Pesantren, Wanita Indonesia, VoB

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments