Ine Febriyanti Mereinkarnasi Gayatri, Istri Raja Majapahit

Ine Febriyanti Mereinkarnasi Gayatri, Istri Raja Majapahit

Gayatri, istri raja Majapahit Raden Wijaya bukan sekadar seorang putri kerajaan. Dia memiliki cita-cita besar tentang persatuan Nusantara. Kisah inilah yang coba ditampilkan Ine Febriyanti di atas panggung.

 

Panggung menampilkan meja kerja. Tampak Ine Febriyanti merekam video dirinya sendiri yang sedang bercerita tentang Gayatri. Kemudian dari jauh bunyi genderang bertalu mewarnai kegelisahan.

Ine menjadi Gayatri muda, berjalan cepat dalam tempo wanita Jawa untuk memenuhi panggilan sang ayah: Kertanagara. Ia berjalan membungkuk dan bersimpuh menghampiri ayahnya. Ini adalah adegan pembuka dari pementasan dengan lakon Gayatri: Reinkarnasi yang ditampilkan penuh penghayatan oleh Sha Ine Febriyanti, Minggu, 8 Oktober 2017 di Auditorium Galeri Indonesia Kaya.

Pementasan ini mengisahkan seorang penari perempuan yang sangat mengagumi sosok Gayatri Rajapatni. Salah satu istri Raden Wijaya, raja pertama Majapahit yang mengundurkan diri dari kehidupan duniawi dengan menjadi seorang pendeta Buddha.

Ine meyakini bahwa Bhiksuni itu tidak pernah sepenuhnya mati. Konsep ‘kelahiran kembali’ dalam Agama Buddha, Punabbhava, membuatnya tertarik untuk menelusuri kesejarahan perempuan yang baginya memiliki pengaruh besar pada kemaharajaan Majapahit. Ia percaya siklus reinkarnasi selalu berkaitan dengan masa kehidupan sebelumnya.

Narasi dari cita-cita Gayatri yang kuat tentang persatuan Nusantara membuatnya berhadapan pada bayang-bayang sejarah itu sendiri: cita-cita Kertanegara, Raden Wijaya, Jayanagara, Palapa, Adhityawarman, Bubat dan keruntuhan Majapahit. Perempuan penari itu mencari Gayatri melalui logika karma dan berusaha mempersembahkan sebentuk tarian Moksha untuknya.

“Pementasan kali ini berkisah tentang Gayatri, seorang perempuan yang welas asih dan mendambakan persatuan negeri melebihi apapun. Untuk mengangkat tema sejarah ke atas panggung memang hal yang rumit, apalagi kalau rentang waktu sejarah itu sudah demikian jauh dengan zaman ini. Saya berusaha menggumuli baying-bayang peristiwa dari sosok yang hidup 8 abad lalu melalui lontar-lontar kuno dan candi-candi yang semakin hari semakin tak terawat,” terang pemilik nama lengkap Sha IneFebriyanti.

Selama sekitar 60 menit, para penikmat seni mendengarkan kisah Gayatri yang disutradari Yustiansyah Lesmana dan penata gerak Elly D Luthan. Gayatri sebenarnya memiliki hak atas takhta Majapahit, namun lebih memilih meninggalkan kehidupan duniawi.

”Bagi saya Gayatri adalah sosok perempuan luar biasa yang memiliki cita-cita mempersatukan negeri dalam damai, seperti cermin Indonesia saat ini. Penampilan Sha Ine Febriyanti sebagai Gayatri berhasil menghipnotis para penikmat seni di Auditorium Galeri Indonesia Kaya. Semoga pementasan ini memberikan pengetahuan lebih dalam mengenaisosok ibu para raja Majapahit ini,” jelas Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Ine merupakan seorang pekerja seni, aktris teater, film dan sutradara Indonesia. Mengawali karier sebagai model pada 1992. Pada 1999 mulai merambah dunia seni peran dan akrab dengan dunia teater saat mendapat kepercayaan memerankan Miss Julie, tahun 1999 dan 2013, Opera Primadona tahun 2000, Gandamayu tahun 2012. Pada tahun 2013 - 2014 berkolaborasi dengan David Bobbee sutradara asal Prancis dalam Warm dan Drop. Pada tahun 2014-2015 menggarap kisah Cut Nyak Dien ke dalam teater monolog yang dipentaskan di beberapa kota termasuk Banda Aceh. Terakhir pada Juni 2017, ikut berpartisipasi mewakili Indonesia dalam Festival Teater Komedi di Gori, Georgia Russia, berperan dalam repertoar Bald Soprano.

Di bidang film, menggarap film pendek Kita vs Korupsi sebagai media penyuluhan anti korupsi dan menyutradarai Tuhan Pada Jam 10 Malam. Peraih beasiswa Asian Film Academy (2012) di Busan, Korea Selatan dan nominasi pemeran wanita terbaik Festival Film Indonesia 2016, Aktris terbaik IMA 2016, Aktris terpuji FFB 2016 ini, bersama beberapa kawan volunteer, sejak tahun 2012 mendirikan Rumah Ilmu sebagai wadah kreatif bagi anak-anak di sekitar rumah untuk berbagi, belajar dan bermain bersama mengenal seni dan budaya seperti tari, musik, teater, film, gambar, silat dan lain-lain. Rumah Ilmu terbuka untuk siapa saja yang memiliki energi yang sama untuk berbagi ilmu.*

Foto: Galeri Indonesia Kaya

Majapahit, Gayatri, Wanita Indonesia, Teater

Artikel Terkait

Comments