Senja Nababan: Kasa yang Tertinggal di Rahimku Ditarik Paksa

Senja Nababan: Kasa yang Tertinggal di Rahimku Ditarik Paksa

Usai menjalani operasi caesar, Senja Nababan kesakitan luar biasa. Bahkan morfin pun tak mampu mengurangi rasa sakitnya. Ternyata ada gulungan kain kasa tertinggal di rahimnya. Yang mengerikan, kasa itu dikeluarkan dengan ditarik paksa dari luar.

 

Aku mendengar adikku marah ke suster. ”Suster, apa yang sebenarnya terjadi pada kakak saya, kenapa bisa begitu dia, sampai mau mati begitu? Kalau sampai terjadi apa-apa dengan kakak saya, kalian semua akan saya laporkan.”

Kalimat yang diucapkan suster membuat kami kaget, ”Ya iyalah Bu, karena di rahim Ibu itu ada kain yang ketinggalan.”

”Apa maksudnya itu? ketinggalan kain di dalam rahim? Jelaskan dulu,” kata adikku dengan suara tinggi. ”Iya. Itu memang ditinggalkan oleh dokternya,” kata suster.

Aku bersyukur, sakit luar biasa itu perlahan pergi. Namun ada satu masalah, kepalaku serasa terbang, antara sadar dan tidak. Telingaku berubah jadi ultrasonik, seperti ada toa dalam kuping, sangat bising, orang main telepon genggam terdengar sangat ribut, suara orang berjalan terdengar sangat ribut. Itu berlangsung sampai malam.

Keesokan paginya aku meminta suster membuka kateter, aku mulai belajar duduk, semua lancar meskipun sakitnya tetap luar biasa setiap kali bergerak. Sekitar jam sebelas pagi aku sudah bisa berdiri dan berjalan ke toilet.

Saat buang air kecil, maaf, aku merasakan ada sesuatu yang menggantung, kupegang, ada kain di dalamnya. Refleks kutarik kain itu dengan pelan, tidak bisa. Kutarik kuat tetap tidak bisa.

Saat itu sempat tertarik sekitar lima sentimeter. Rasanya sangat sakit, tubuh terasa goyang mau jatuh. Dengan susah-payah aku kembali ke tempat tidur sambil deg-degan, khawatir dan takut, apa itu tadi, aduh, aduh, apa itu tadi. Aku betul-betul syok.

Ditarik Paksa

Beberapa saat kemudian dokter datang, kuceritakan apa yang baru kualami. Kata dokter, ”Iya Bu, makanya ini saya datang sekarang, mau ambil itu kain-kainnya.”

Aku tidak paham apa maksudnya. Dokter menyuruhku berbaring dengan posisi melahirkan. ”Bu, saya mau mengambil kain yang tinggal di rahim Ibu,” katanya.

Apa? Aku kaget setengah mati. Dan masih dalam keadaan kaget itu doker menarik kain kasa sekuat tenaganya.

Kasa yang digulung dan ditarik dari lubang, pastinya kain itu berputar-putar saat ditarik. Sakitnya luar biasa. Sekuat-kuatnya aku menjerit. 

Dokter terus menarik kain itu, sampai beberapa kali tarikan. Entah berapa meter panjangnya, lebar kain kasa kira-kira delapam sentimeter. Kulihat kain kasa berlumur darah itu setumpuk sebesar dua kepalan tangan pria dewasa.

Perih, ngilu dan stres sedikit terobati ketika melihat dua bayiku si kembar yang lucu dan ganteng. Terima kasih Tuhan atas semua yang kurasakan terbayar sudah.

Tiga hari di rumah sakit, aku pulang. Di rumah aku merasa lebih senang meskipun sangat repot menjaga si kembar.

Baca juga: Senja Nababan: Ketika Kain Kasa Tertinggal di Rahimku

Hingga kini kepalaku dipenuhi banyak pertanyaan. Bagaimana dokter anastesi sangat ceroboh dalam menentukan takaran obat bius sehingga sesaat setelah bekas caesarku ditutup, pengaruh bius langsung habis sehingga sakit luar biasa yang kurasakan? Kain kasa di rahim dan diambil keesokan harinya, apakah dengan sengaja atau tidak? Kalau sengaja, mengapa dokter dan suster tidak memberitahu? Kalau tidak sengaja atau lupa, alangkah mengerikan.

Waktu menarik kasa, dokter mengaku hal itu ia sengaja lakukan, katanya setelah caesar rahimku longgar, tidak langsung kembali menciut. Katanya kalau tidak disumbat akan pendarahan. Kalau memang disengaja mengapa dokter dan suster tidak memberitahu sejak awal setelah tindakan menyumpal rahimku dengan kain kasa?

Sampai sekarang rasa ngilu di bekas operasi kadang timbul. Kemarin malam aku merasakan sakit itu lalu teringat proses persalinan yang dulu. Spontan tergerak pikiran, hal semacam ini harus diketahui banyak orang agar tidak ada yang mengalaminya. Karena sakit luar biasa, melebihi segala sakit yang aku pernah kualami.

Lalai, Bisa Dipenjara

Kasus tertinggalnya kain kasa dalam perut bukan pertama kali terjadi. Bahkan pernah kejadian benang tertinggal di usus menyebabkan pasien meninggal hingga sang dokter harus menjalani hukuman penjara.

Juni 2008 secarik kain kasa yang sudah menggumpal segenggam bayi tertinggal di rahim Puteri Lise Intan selama dua bulan usai persalinan anak pertamanya di Rumah Sakit Bersalin Nuruddiniyah, Batam. ”Dokter bilang lupa mengambil kasa usai melahirkan,” kata Puteri saat melaporkan kasusnya di Markas Kepolisian Daerah Riau di Batam.

Puteri mengaku saat berjalan perutnya perih, vaginanya lengket sepekan usai persalinan. Ia kemudian berkonsultasi dengan Dokter YM yang membantu persalinan. ”Dokter sempat menggunakan USG dan dia bilang rahim saya bersih,” katanya.

Dokter juga menyatakan, penggunaan kain kasa pada persalinan normal seperti kasus Puteri adalah biasa. Kain kasa untuk membantu agar pendarahan tidak terlalu banyak.

Tidak puas, dua bulan kemudian Puteri ditemani suami berkonsultasi dengan dokter Suyanto di RS Budi Kemuliaan. Di sini dokter mengeluarkan kain kasa yang sudah menggumpal sebesar genggaman bayi.

Puteri dan suami mengaku telah berkali-kali mencoba bersepakat dengan YM. Namun YM menghindar. Akhirnya dibantu Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan Puteri mengadukan kasus yang dialaminya ke polisi.

Menurut dr. Sastiono, SpB, SpBA dari divisi bedah anak FKUI-RSCM, kain kasa atau perban merupakan benda yang sering tertinggal di perut pasien. Padahal ada prosedur yang mengharuskan kasa dan alat-alat operasi lainnya dihitung sebelum operasi selesai.

”Kalau emergency kan dokter fokusnya menyelamatkan nyawa agar pasien tidak meninggal. Kadang lupa sama hal-hal di sekelilingnya seperti kasa,” ungkap dr. Sastiono.

Dokter yang lalai bisa dituntut pertanggungjawabannya melalui jalur hukum. Seperti dilakukan keluarga Johanes Tri Handoko di Madiun. Pada 21 Oktober 2007 di RS DKT Madiun, Johanes didiagnosis menderita tumor pada usus dan menjalani operasi pada 25 Oktober 2007.

Selesai operasi Johanes merasa kesakitan terus-menerus dan perutnya kembung. Pada 2 November 2007 dia dirujuk ke RS RKZ Surabaya. Karena di sana kamar penuh, kemudian dipindah ke RS Mitra Keluarga Surabaya dan dilakukan tindakan operasi lanjutan pada 4 November 2007. Hasilnya ditemukan benang jahitan warna hitam yang tertinggal pada usus besar Johanes yang bocor. Nyawa Johanes tidak tertolong, meninggal pada 20 Juli 2008.

Keluarga Johanes membawa kasus ini ke jalur hukum. Tak berhenti di Pengadilan Negeri, kasus ini sampai ke Mahkamah Agung.

”Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 1 tahun dan 6 bulan,” putus MA seperti tertuang dalam salinan kasasi yang dilansir situs MA.

Majelis yang terdiri dari Dr. Artidjo Alkostar (ketua) dengan anggota Prof. Dr. Surya Jaya dan Dr. Andi Samsan Nganro menyatakan tindakan operasi menyebabkan benang hitam tertinggal di usus besar dan menyebabkan kematian pasien. ”Perbuatan terdakwa merupakan condition sine qua non dan mempunyai hubungan kausal terhadap meninggalnya Johanes,” putus Majelis pada 30 Oktober 2013. *

Teks: Siti Afifiyah   I   Foto: Dok. Pribadi

Operasi Caesar, Kisah, Wanita Indonesia, Melahirkan

Artikel Terkait

Comments