Mama Thres: Monica Berani dan Percaya Diri

Mama Thres: Monica Berani dan Percaya Diri

Ternyata secara akademis Monica tidaklah menonjol. Lantas, apa yang membuat dia terpilih mewakili anak Indonesia ke forum WHO?

Berubah nama menjadi Yayasan Hamba pada tahun 2012, lembaga sosial ini didirikan Lestari Projosuto sejak tahun 1976. Mulanya berupa pendampingan pada keluarga yang tidak memiliki rumah maupun pekerjaan dan tinggal di gubug-gubug kumuh di Jakarta.

Theresia Sri Sugiyati, salah satu ibu asuh yang telah 26 tahun mendampingi Lestari Projosuto membenarkan Monica adalah salah satu anak asuhnya. Dia dibawa ke Yogyakarta saat usianya kurang lebih masih 1,5 tahun bersama kakaknya, David.

”Monica tidak terlalu rewel, kalau David sempat ingin ikut ibunya balik ke Jakarta. Makanya dia sempat kecewa, mau ikut ibunya kok nggak boleh?” sambung Mama Thres.

Mungkin ini menjadi salah satu pemicu David agak lamban dalam belajar. Sehingga atas saran psikolog dia dimasukkan ke sekolah khusus. Sekarang David belajar di SMA Luar Biasa, tidak menonjol secara akademis namun punya kelebihan dalam kelistrikan.

Bagaimana dengan Monica? “Sekarang Monica kelas 1 SMP. Sebetulnya secara akademik tidak menonjol, biasa saja. Tapi memang di antara tiga anak kategori usia 14-16 tahun yang pernah ikut pelatihan dengan Save The Children tentang bagaimana mengakhiri kekerasan pada anak, dia yang paling berani dan percaya diri untuk maju,” jalas Mama Thres.

Jika visanya disetujui, Monica akan berangkat ke Kanada pada 16 Oktober. Dia akan bergabung bersama anak-anak lain dari 9 negara yang diundang WHO.

Ratna Yunita, Manajer Advokasi Save The Children Indonesia mengatakan, baru kali ini WHO melibatkan orang muda dan anak-anak dalam forum yang sama. Save The Children yang bekerjasama dengan organisasi lokal diminta mengirimkan satu anak dampingannya.

”Kami ada di 12 provinsi dan kota kabupaten. Programnya mulai dari kesehatan ibu dan anak, pendidikan, juga perlindungan anak terkait pengasuhan berbasis keluarga. Nah dari 2016 kami mengadakan konsultasi di 3 kota, melibatkan anak usia 9-12 tahun dan 13-17 tahun. Ada 30 anak, mereka kita undang mengirimkan tulisan tentang penghapusan kekerasan pada anak,” cerita Ratna.

Dari kriteria alur cerita, keaslian bahasa, serta keterkaitan antara pengalaman dengan ide atau usulan penghapusan kekerasan pada anak di Indonesia, tersaringlah tiga tulisan terbaik. Ketiga anak kemudian diminta voting untuk menentukan tulisan siapa yang layak untuk mewakili pada acara WHO. Dari voting itulah terpilih nama Monica.

Hingga tulisan ini disiapkan pada Senin, 9 Oktober 2017, Monica belum bersedia diwawancara.

”Kami memang ada kebijakan perlindungan anak, antara lain ketika ingin meminta pendapat dan ide harus mendapat persetujuan dari mereka. Dan Monica sampai saat ini tidak bersedia. Mungkin dengan pemberitaan ibunya yang ditonjolkan sebagai penjual kopi keliling membuatnya kurang nyaman,” ungkap Ratna.

Pada H-1 sebelum acara dia berkumpul dengan seluruh perwakilan dari berbagai negara untuk mendiskusikan pesan apa yang akan mereka sampaikan saat diberi kesempatan berbicara selama 45 menit.

”Kami belum tahu apakah masing-masing negara diberi kesempatan bersuara atau beberapa perwakilan dari seluruh anak saja. Yang pasti kita berharap Monica bisa berperan baik. Kalau dari seleksi kami, Monica tergolong berani menyampaikan pikiran dan pendapatnya,” ungkap Ratna.

Ratna berharap, melalui media masyarakat dapat melihat potensi dan mimpi Monica yang mewakili anak-anak Indonesia pada umumnya. Bahwa jangan ada lagi kekerasan pada anak di Indonesia. *

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Zulham, Dok. Pri.

WHO, PBB, Tunawisma, Save The Children

Fokus Berita Lainnya

Artikel Terkait

Comments